Thursday, 15 January 2015

Berani Menghadapi Kesulitan Ketika Belajar

Berani Menghadapi Kesulitan Ketika Belajar

Apakah kamu suka sekali menggarisbawahi buku dengan spidol warna warni pada malam sebelum ujian? Atau mungkin kamu mencoba mempersiapkan ujian dengan membuat ringkasan, menulis kata kunci, dan membaca kembali buku teks? Apakah kamu merasa cara-cara itu berhasil buatmu? Penelitian menunjukkan bahwa menggarisbawahi buku teks, membaca kembali buku teks, dan menulis kata kunci merupakan teknik belajar yang kurang efektif namun paling banyak digunakan oleh siswa (Dulonski dkk, 2013).

Sebelumnya, perlu diingat bahwa kamu dikatakan sudah belajar jika sudah mengalami perubahan yang permanen dalam hal pengetahuan atau pemahaman (Bjork & Bjork, 2011). Jadi, kamu dikatakan berhasil dalam belajar apabila apa yang kamu pelajari bertahan di kepalamu dalam jangka waktu yang lama. Nah, jika kamu ingin pelajaran-pelajaran di sekolah lebih melekat di kepala, ternyata rahasianya adalah jangan takut untuk menghadapi kesulitan dalam belajar. 

Materi yang sedang dipelajari akan tersimpan lebih kuat dan bertahan lebih lama dalam ingatan apabila kita melewati kesulitan. Hal ini disebut dengan desirable difficulties atau kesulitan yang diharapkan dapat memberikan hasil yang permanen dalam belajar (Bjork & Bjork, 2011). Jadi, jika kamu menggunakan teknik belajar yang terasa sulit, maka apa yang kamu pelajari tidak mudah terlupakan begitu kamu selesai mengerjakan ujian.

Teknik-teknik yang termasuk ke dalam desirable difficulties terbukti lebih efektif dalam meningkatkan prestasi belajar seseorang dibandingkan teknik belajar lainnya seperti menggarisbawahi, meringkas dan membuat kata kunci (Dulonski dkk., 2013). Lalu teknik seperti apa yang termasuk ke dalam desirable difficulties? Teknik-teknik yang dapat kamu gunakan antara lain adalah:

1.Variasikan kondisi belajarmu. Penelitian menunjukkan bahwa materi yang diulang dalam kondisi yang berbeda akan lebih mudah diingat kembali daripada materi yang diulang dalam kondisi yang sama (Smith dkk dalam Bjork & Bjork, 2011). Pergilah ke kafe di mall atau di depan kompleks rumah, atau mungkin sesederhana berpindah ruangan di rumahmu setiap kamu mempelajari kembali suatu materi. Ciptakanlah kondisi yang berbeda-beda setiap kamu hendak mengulang suatu materi pelajaran. Hal ini meningkatkan fleksibilitas otakmu dalam mengingat kembali materi yang telah dipelajari dalam berbagai situasi sehingga lebih mudah diingat kembali ketika kamu memerlukannya (Bjork & Bjork, 2011).

2.Berikan jeda waktu di antara setiap sesi belajarmu. Pemberian jeda waktu belajar disebut dengan spacing practice akan menciptakan efek spacing di mana materi yang dipelajari lebih mudah tersimpan dalam long term memory (Bjork & Bjork, 2011). Bagilah sesi belajarmu secara teratur seperti 2 jam setiap hari, dan hindari sistem kebut semalam karena dengan metode SKS, materi yang kamu pelajari hanya akan tersimpan dalam short term memory dan akan mudah terlupakan. Selain itu, keuntungan teknik ini adalah mempermudah kamu dalam mempelajari materi selanjutnya. Jika kamu masih mengingat materi sebelumnya, maka kamu dapat langsung menghubungkannya dengan materi yang baru sehingga materi yang baru akan lebih mudah diingat. Ingat, informasi yang memiliki keterkaitan satu sama lain akan lebih mudah tersimpan dalam long term memory. Jadi jika kamu dapat mengaitkan materi satu dengan lainnya, kamu akan mendapat pemahaman yang lebih mendalam dan lebih mudah tersimpan dalam ingatan.

3.Mempelajari lebih dari satu jenis materi pelajaran dalam satu sesi belajar. Teknik ini disebut dengan interleaving (Bjork & Bjork, 2011; Dulonski dkk., 2013). Misalnya dalam satu sesi belajar selama dua jam kamu belajar biologi selama satu jam dan sosiologi selama satu jam. Akan lebih baik apabila kamu dapat membuat kaitan antara keduanya atau menyusun beberapa materi pelajaran dalam satu tema, agar lebih terlihat hubungannya satu sama lain.

4.Tes diri kamu sendiri. Kerjakanlah soal-soal latihan, buatlah flash card, atau berdiskusi dengan temanmu, uji pemahamanmu dengan mencari contoh sehari-hari dari apa yang kamu pelajari. Menguji diri sendiri adalah salah satu cara untuk mengingat kembali materi, dan juga kamu dapat mengetahui apa saja yang telah kamu kuasai. Jika kamu mengerjakan soal latihan dalam bentuk soal cerita atau contoh kasus akan membantumu untuk lebih memahami pelajaran.

Teknik-teknik di atas dapat kamu kombinasikan dan terapkan dalam kegiatan belajar kamu sehari-hari. Tentunya, cara belajar seperti ini harus dibarengi dengan kemampuan manajemen waktu yang baik, dan hindari prokrastinasi!

Sumber yang dipakai:

Dunlosky, J., Rawson, K. A., Marsh, E. J., Nathan, M. J., & Willingham, D. T. (2013). Improving Students’ Learning With Effective Learning Techniques: Promising Directions From Cognitive and Educational Psychology.Psychological Science in the Public Interest, 14(1), 4–58. doi:10.1177/1529100612453266 diunduh dari http://www2.kent.edu/CAS/Psychology/people/RawsonLab/upload/PSPI-in-print.pdf

Bjork, E. L., & Bjork, R. A. (2011). Making things hard on yourself, but in a good way: Creating desirable difficulties to enhance learning. Psychology and the Real World: Essays Illustrating Fundamental Contributions to Society, 56–64. Diunduh dari http://bjorklab.psych.ucla.edu/pubs/EBjork_RBjork_2011.pdf

Sumber: http://ruangpsikologi.com
http://www.psychoshare.com/file-1830/psikologi-pendidikan/berani-menghadapi-kesulitan-ketika-belajar.html
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Komentar anda marupakan motivasi buat penulis...