Saturday, 8 November 2014

PERKEMBANGAN SOSIOEMOSI DI MASA KANAK-KANAK PERTENGAHAN DAN AKHIR

PERKEMBANGAN SOSIOEMOSI DI MASA KANAK-KANAK PERTENGAHAN DAN AKHIR

A.  Latar Belakang
Di masa kanak-kanak awal, menurut Erikson, anak-anak berada di tahap inisiatif versus rasa bersalah. Orang tua tetap berperan penting dalam perkembangan mereka dan gaya pengasuhan yang otoritatif cenderung memberikan hasil positif bagi anak-anak. Di masa kanak-kanak awal, relasi dengan kawan-kawan sebaya mengambil peran signifikan sejalan dengan meluasnya dunia sosial anak-anak. Bermain menjadi aspek sosial dalam kehidupan anak-anak dan sebagai konteks yang penting bagi perkembangan kognitif sosio-emosi.
Selama masa kanak-kanak menengah dan akhir, kehidupan sosial dan emosional anak-anak mengalami banyak perubahan. Mereka mengalami transformasi dalam berelasi dengan orang tua dan kawan-kawan sebaya, dan sekolah juga memperkaya kehidupan akademik mereka. Disamping itu mereka juga mengalami perkembangan yang penting dalam bidang konsepsi-diri, penalaran moral, dan perilaku moral. Singkatnya di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir, deskripsi-diri semakin melibatkan karakteristik sosial dan psikologis, termasuk perbandingan sosial.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana perkembangan emosi dan kepribadian di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir?
2.      Bagaimana perubahan perkembangan pada relasi anak-orang tua, orang tua sebagai manajer, dan perubahan sosial dalam keluarga?
3.      Bagaimana perubahan dalam relasi dengan kawan sebaya di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir?
4.      Apa saja aspek-aspek sekolah dalam perkembangan anak di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir?
C.    Tujuan Penulisan
1.      Mendiskusikan perkembangan emosi dan kepribadian di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir.
2.      Mendeskripsikan perubahan perkembangan pada relasi anak-orang tua, orang tua sebagai manajer, dan perubahan sosial dalam keluarga.
3.      Mengidentifikasi perubahan dalam relasi dengan kawan sebaya di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir.
4.      Mencirikan aspek-aspek sekolah dalam perkembangan anak di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Perkembangan Emosi dan Kepribadian
Perkembangan emosi dan kepribadian selama masa kanak-kanak pertengahan dan akhir meliputi: Diri, Perkembangan Emosi, Perkembangan Moral dan Gender.
1.      DIRI
Bagaimanakah sifat dasar dari pemahaman diri, memahami orang lain, dan penghargaan diri di usia sekolah dasar? Bagaimana peran self-efficacy terhadap prestasi anak.
Perkembangan Pemahaman-Diri. Di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir, anak-anak semakin mendeskripsikan diri mereka sendiri dengan karakteristik psikologis dan sifat-sifat yang berlawanan dengan deskripsi diri anak-anak kecil yang konkret. Anak-anak yang lebih besar cenderung mendeskripsikan mereka sendiri sebagai “popular, baik, suka membantu, kejam, cerdas, dan bodoh”
Anak-anak usia sekolah dasar tidak lagi berpikir mengenai apa yang mereka lakukan atau tidak lakukan, melainkan cenderung berpikir apa yang dapat dilakukannya dibandingkan dengan yang dapat dilakukan oleh anak lain.
Singkatnya, di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir, deskripsi-diri semakin melibatkan karakteristik sosial dan psikologis, termasuk perbandingan sosial.
Memahami Orang Lain. Di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir, anak-anak menunjukkan peningkatan dalam pengambilan perspektif (perspective taking), yaitu kemampuan untuk mengasumsikan perspektif orang lain serta memahami pikiran dan perasaannya. Pada sekitar usia 6 hingga 8 tahun, anak-anak mulai memahami bahwa orang lain memiliki perspektif karena beberapa orang memiliki akses terhadap informasi. Dalam beberapa tahun kemudian, anak-anak menyadari bahwa setiap individu menyadari perspektif orang lain dan bahwa meletakkan seseorang dalam posisi orang lain adalah cara untuk menilai maksud, tujuan dan tindakan orang lain.
Pengambilan perspektif terutama dianggap penting dalam hal apakah anak-anak mengembangkan perilaku dan sikap-sikap proposial ataukah antisosial.  Dalam hal perilaku proposial, mengambil perspektif orang lain meningkatkan kecenderungan anak-anak terhadap pemahaman dan bersimpati kepada orang lain ketika mereka tertekan atau sedang membutuhkan. Dalam hal perilaku antisosial, anak-anak yang tingkat keterampilan pengambilan perspektifnya rendah terlibat dalam perilaku antisosial daripada anak-anak dengan tingkat yang lebih tinggi.
Penghargaan-Diri dan Konsep-Diri. Penghargaan diri yang tinggi dan konsep diri yang positif merupakan karakteristik penting yang mengindikasikan kesejahteraan anak-anak. Penghargaan diri merujuk pada evaluasi global mengenai diri; penghargaan diri disebut juga martabat diri atau citra diri. Konsep diri merujuk pada evaluasi mengenai bidang bidang tertentu dari diri.
Anak-anak dengan penghargaan diri yang tinggi memiliki inisiatif lebih besar, meskipun demikian hal ini dapat memberi dampak positif maupun negative. Anak-anak dengan penghargaan diri tinggi juga rentan untuk melakukan tindakan prososial maupun antisosial.
Selain itu, begitu banyak anak yang memperoleh pujian meskipun performa mereka tergolong biasa-biasa saja atau bahkan buruk. Mereka mungkin akan kesulitan menghadapi kompetisi dan kritik.
Self-Efficacy. Adalah keyakinan bahwa seseorang dapat menguasai sebuah situasi dan memberikan hasil yang menguntungkan. Self efficacy merupakan sebuah faktor yang penting dalam menentukan berhasil tidaknya seorang siswa. Para siswa dengan self efficacy yang tinggi akan mampu mempelajari materi pelajaran dan mampu menyelesaikan dengan baik.
Menurut Schunk, self efficancy mempengaruhi pilihan aktivitas siswa. Para siswa dengan self efficancy yang rendah dalam belajar, mungkin menghindari tugas belajar, khususnya tugas-tugas yang menantang. Sebaliknya para siswa dengan self efficancy tinggi mungkin tidak sabar untuk segera menyelesaikan tugas-tugas belajar. Para siswa dengan self efficancy tinggi cenderung menghabiskan lebih banyak untuk mempelajari sebuah tugas dibandingkan dengan self efficancy yang rendah.
Regulasi Diri. Meningkatnya kapasitas regulasi diri dicirikan dengan usaha mengelola perilaku, emosi dan pikiran yang menghasilkan kompetensi sosial dan pencapaian. Penelitian mengungkapkan bahwa anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah yang memiliki tingkat regulasi diri tinggi nilai-nilainya lebih baik dibanding anak-anak dengan tingkat regulasi diri rendah.
Industri versus Inferioritas. Istilah industri menunjukkan tema dominan periode ini: anak-anak tertarik pada asal mula benda dan cara kerjanya. Ketika anak-anak didorong untuk berusaha membuat, membangun, dan menjadikan benda itu bekerja - perasaan mereka terhadap industry meningkat.
2.      PERKEMBANGAN EMOSI
Di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir, anak-anak mengembangkan pemahaman dan regulasi diri terhadap emosi.
Perubahan Perkembangan. Perubahan perkembangan yang penting dalam emosi semasa kanak-kanak menengah dan akhir mencakup hal-hal berikut ini:
-          Meningkatkan pemahaman emosi
-          Meningkatkan pemahaman bahwa dalam sebuah situasi kita dapat mengalami lebih dari satu emosi.
-          Meningkatkan kecenderungan untuk lebih menyadari kejadian-kejadian yang menyebabkan reaksi emosi.
-          Meningkatnya kemampuan untuk menekan atau mengungkapkan reaksi-reaksi emosi yang negative.
-          Menggunakan strategi inisiatif diri untuk mengarahkan kembali perasaan-perasaan.
-         Kapasitas untuk berempati secara tulus.
Copying terhadap Stres. Berikut ini adalah sejumlah rekomendasi yang dapat digunakan untuk membantu anak-anak mengatasi stress yang disebabkan oleh peristiwa-peristiwa yang dialaminya.
-          Meyakinkan anak-anak akan keselamatan dan keamanan mereka
-          Membiarkan anak-anak menceritakan kembali berbagai peristiwa yang dialami dan bersikap sabar ketika mendengarkan cerita mereka.
-          Mendorong anak-anak untuk menceritakan perasaan yang mengganggu atau membingungkan, meyakinkan mereka bahwa perasaan tersebut normal setelah kejadian yang membuat stress.
-          Melindungi anak-anak agar tidak dihadapkan pada situasi yang mengejutkan dan dapat mengingatkan kembali pada trauma tersebut.
-         Membantu anak-anak untuk memahami peristiwa yang mereka alami.
3.      PERKEMBANGAN MORAL
Tahap-tahap Kohlberg. Kohlberg mendeskripsikan tiga level pemikiran moral, masing-masing level terdiri dari dua tahap.
1)      Penalaran prakonvesional (peconventional reasoning) adalah level terendah dari penalaran moral. Dalam level ini, baik dan buruk diinterprestasikan berdasarkan hadiah dan hukuman eksternal.
-          Tahap 1. Moralitas heteronomy (heteronomous morality). Dalam tahap ini, pemikiran moral terkait dengan hukuman.
-          Tahap 2. Individualisme, tujuan instrumental, dan pertukaran (individualism, instrumental purpose and exchange). Dalam tahap ini, individu berpikir bahwa berusaha memuaskan kepentingannya sendiri adalah layak dan mereka juga membiarkan orang lain bertindak serupa.
2)      Penalaran konvensional (conventional reasoning).  Dalam level ini, individu menerapkan standard-standard tertentu, namun standard-standard itu ditetapkan oleh orang lain.
-          Tahap 3. Ekspektasi interpersonal timbal-balik, relasi, dan konformitas interpersonal (mutual interpersonal expectations, relationships, and interpersonal conformity). Pada tahap ini, individu menilai kepercayaan, kepedulian, dan loyalitas terhadap orang lain sebagai dasar dari penilaian moral.
-          Tahap 4. Moralitas sistem sosial (social system morality). Penilaian moral didasarkan pada pemahaman mengenai aturan sosial, hokum, keadilan dan tugas.
3)      Penalaran pascakonvensional (postconventional reasoning). Pada level ini, individu mengenali kembali berbagai alternative pelajaran-pelajaran moral, mengeksplorasi berbagai pilihan, dan memutuskan berdasarkan kode moral personal.
-          Tahap 5. Kontrak sosial atau kegunaan dan hak-hak individu (social contract or utility and individual rights). Pada tahap ini, individu bernalar bahwa berbagai nilai, hak, dan prinsip melandasi atau melampaui hokum.
-          Tahap 6. Prinsip etika universal (universal ethical principles). Pada tahap ini individu mengembangkan sebuah standard moral berdasarkan hak-hak manusia yang bersifat universal.
Kepribadian Moral. Para peneliti memfokuskan perhatian pada tiga kemungkinan komponen, yakni: identitas moral, karakter moral, dan contoh-contoh moral. Singkatnya, perkembangan moral merupakan sebuah konsep yang multiaspek dan kompleks. Kompleksitas ini mencakup pemikiran, perasaan, perilaku, dan kepribadian.
4.      GENDER
Persamaan dan perbedaan gender meliputi: perkembangan fisik, wanita cenderung memiliki lemak tubuh dua kali lebih banyak dibandingkan pria. Perkembangan kognitif, meskipun secara rata-rata kemampuan visuospatial pria lebih tinggi daripada wanita, namun skor untuk kedua gender ini hampir sama. Tidak semua pria memiliki kemampuan visuospatial yang lebih baik dari semua wanita. Perkembangan sosioemosi, para anak laki-laki secara fisik lebih agresif dibandingkan para anak perempuan. Anak perempuan cenderung mengekspresikan emosi mereka secara terbuka dan intensif daripada anak laki-laki, terutama ketika menunjukkan kesedihan dan rasa takut. Anak perempuan juga lebih dapat membaca emosi orang lain serta dapat menunjukkan empati.
Klasifikasi peran gender. Para ahli gender, seperti Sandra Bem berpendapat bahwa individu androgini memiliki sifat yang lebih fleksibel, kompeten dan sehat mental dibandingkan individu yang hanya memiliki sifat maskulin atau feminim. Contoh maskulinitas yaitu mendukung keterbukaan, kuat, bersedia mengambil resiko, dominan dan agrasif. Contoh kefeminiman yaitu tidak berbahasa kasar, penuh kasih, menyayangi anak-anak, memahami orang lain, dan lembut.
Gender dalam konteks. Baik konsep mengenai gender dan stereotip gender mengkaji manusia menurut sifat-sifat kepribadian seperti “agresif” atau “peduli”. Pentingnya memerhatikan gender dalam konteksnya lebih terlihat ketika mempelajari perilaku apa yang secara budaya telah ditentukan untuk wanita dan pria di berbagai Negara di seluruh dunia. Pria bersosialisasi dan di didik untuk bekerja di lingkungan public, sedangkan wanita di lingkungan pribadi.
B.     Keluarga
1.      PERUBAHAN PERKEMBANGAN DALAM RELASI ORANG TUA-ANAK
Ketika anak-anak menuju masa kanak-kanak pertengahan dan akhir, orang tua semakin sedikit menghabiskan waktu bersama mereka. Meskipun orang tua meluangkan waktu lebih sedikit dengan anak-anak, orang tua tetap sangat penting dalam kehidupan anak-anak mereka. Dalam analisis terbaru mengenai kontribusi orang tua di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir, tercapai kesimpulan berikut: “orang tua berperan sebagai penjaga dan memberikan penyaring ketika anak-anak menganggap tanggung jawab yang lebih, dan mengatur kehidupan mereka sendiri”. Tugas perkembangan utama ketika anak-anak bergerak menuju onotomi adalah belajar berelasi pada orang dewasa di luar keluarga secara regular.
2.      ORANG TUA SEBAGAI MANAJER
Orang tua berperan penting sebagai manajer bagi kesempatan-kesempatan yang dimiliki anak-anak, seperti mengawasi perilaku mereka, dan juga sebagai inisiator sosial serta pengarah. Ibu cenderung lebih berperan sebagai manajer dalam pengasuhan daripada ayah.
Peneliti telah menemukan bahwa praktik manajemen keluarga secara positif terkait dengan nilai-nilai siswa dan tanggung jawab diri, dan terkait secara negative terhadap masalah yang tekait sekolah. Diantara praktik manajemen keluarga yang paling penting dalam hal ini adalah mempertahankan struktur organisasi lingkungan keluarga.
3.      KELUARGA TIRI
Dalam analisis longitudinal terbaru dari E. Mavis Hetherington (2006), anak-anak dan remaja yang tinggal di keluarga tiri sederhana setelah beberapa tahun telah menyesuaikan diri dan mulai berfungsi dengan lebih baik dibandingkan dengan anak-anak dan remaja di keluarga yang tidak bercerai namun berkonflik, dan juga keluarga tiri yang kompleks. Hatherington menyimpulkan bahwa di keluarga tiri sederhana yang telah lama berlangsung, remaja diuntungkan dengan kehadiran orang tua tiri dan sumber daya yang diberikan oleh mereka.
Masa remaja secara khusus adalah masa yang sulit dalam berhadapan dengan terbentuknya keluarga tiri. Penyebabnya menjadi anggota dari keluarga tiri memperburuk kekhawatiran remaja normal mengenai identitas, seksualitas, dan otonomi.
C.    Kawan-kawan sebaya
1.      PERUBAHAN PERKEMBANGAN
Para peneliti memperkirakan bahwa persentase waktu yang digunakan di dalam interaksi sosial dengan kawan-kawan meningkat dari sekitar 10 persen di usia 2 tahun hingga 30 persen di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir.
2.      STATUS KAWAN SEBAYA
Para ahli perkembangan membedakan lima status kawan sebaya sebagai berikut.
·         Anak-anak yang popular sering kali dipilih sebagai sahabat dan jarang tidak disukai oleh kawan sebayanya.
·         Anak yang rata-rata memperoleh angka rata-rata untuk dipilih secara positif maupun negative oleh kawan sebayanya.
·         Anak yang diabaikan jarang dipilih sebagai sahabat namun bukan karena tidak disukai oleh kawan sebayanya.
·         Anak yang ditolak jarang dipilih sebagai sahabat dan secara aktif tidak disukai oleh kawan sebayanya.
·         Anak yang controversial sering dipilih sebagai sahabat namun umumnya tidak disukai oleh kawan sebayanya.
John Coie memberikan tiga alasan mengapa anak laki-laki yang agresif  dan ditolak kawan-kawan memiliki masalah dalam relasi sosialnya:
·         Lebih impulsive dan memiliki masalah dalam mempertahankan atensi.
·         Lebih reaktif secara emosi, mereka lebih mudah marah dan lebih sulit tenang sesudahnya.
·         Kurang memiliki keterampilan sosial yang diperlukan untuk berkawan dan mempertahankan relasi yang positif dengan kawan sebaya.
3.      KOGNISI SOSIAL
Kognisi sosial anak-anak mengenai kawan sebaya menjadi semakin penting untuk memahami relasi kawan sebaya di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir. Salah satu yang menjadi minat khusus adalah cara anak-anak memproses informasi mengenai relasi kawan sebaya dan pengetahuan sosial mereka.
Kenneth Dodge (1983) menyatakan bahwa anak-anak melalui lima langkah dalam menginterprestasikan dunia sosial mereka. Mereka membaca isyarat sosial, menginterprestasi, mencari respons, memilih respons yang optimal, dan bertindak. Dodge menemukan bahwa anak laki-laki yang agresif cenderung memandang tindakan anak lain sebagai musuh ketika intense anak itu tidak jelas.
4.      BULLYING
Bullying diartikan sebagai perilaku verbal atau fisik yang dimaksudkan untuk menyerang orang lain yang kurang kuat. Para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang cemas, secara sosial menarik diri dan agresif memiliki kecenderungan lebih besar untuk menjadi korban bullying.
Sebuah studi terbaru mengindikasikan bahwa pelaku dan korban bullying di masa remaja cenderung mengalami depresi dan bahkan berniat mencoba bunuh diri daripada yang tidak terlibat bullying. Studi lainnya mengungkap bahwa pelaku atau korban bullying bermasalah terhadap kesehatannya daripada anak-anak yang tidak terlibat bullying.
5.      SAHABAT
Williard Hartup (1983, 1996, 2009) menyimpulkan bahwa sahabat dapat menjadi sumber daya kognitif dan emosi dari masa kanak-kanak hingga tua. Sahabat dapat meningkatkan penghargaan diri dan rasa sejahtera.
Secara lebih khusus, persahabatan anak-anak memiliki 6 fungsi (Gottman & Parker, 1987):
·         Pertemanan. Seseorang yang bersedia meluangkan waktu bersama mereka dan bergabung dalam aktivitas kerja sama.
·         Stimulasi. Memperoleh informasi yang menarik, menggairahkan dan mengasyikkan.
·         Dukungan fisik. Sahabat member waktu, sumber daya, dan bantuan.
·         Dukungan ego. Sahabat memberikan dukungan dan umpan balik yang dapat membantu membina kesan terhadap dirinya sendiri.
·         Perbandingan sosial. Memungkinkan anak memperoleh informasi mengenai posisinya di antara anak lain.
·         Afeksi dan keakraban. Menjalin relasi dengan orang lain. Keakraban dalam sahabat memiliki cirri adanya keterbukaan diri dan berbagai pikiran-pikiran pribadi.
D.    Sekolah
1.      PENDEKATAN KONTEMPORER TERHADAP PEMBELAJARAN SISWA
Saat ini terdapat kontroversi mengenai cara mengajar terbaik kepada anak-anak serta bagaimana sekolah maupun guru bertanggung jawab terhadap pembelajaran siswa.
Pendekatan Konstruktivis dan Instruksi Langsung. Pendekatan konstruktivis  adalah sebuah pendekatan yang berpusat pada siswa yang mementingkan keterlibatan siswa secara aktif dalam menyusun dan memahami pengetahuannya melalui bimbingan dari guru. Sebaliknya, pendekatan instruksi langsung adalah pendekatan yang bersifat terstruktur, berorientasi kepada guru, yang ditandai oleh adanya pengarahan dan kendali dari guru, ekspektasi guru yang tinggi terhadap kemajuan para siswa, penggunaan waktu secara maksimum untuk tugas-tugas akademis, serta usaha untuk menjaga agar efek negative menjadi minimal. Tujuan penting dari pendekatan instruksi langsung adalah memaksimalkan waktu belajar siswa.
Akuntabilitas. Tes yang diwajibkan oleh pemerintah untuk mengukur hal-hal yang telah atau belum dipelajari oleh siswa. Pendekatan ini menjadi kebijakan nasional padatahun 2002, ketika UU mengenai No Child Left Behind (NCLB) diresmikan sebagai hukum. Para pendukung program ini menyatakan bahwa standardisasi tea secara luas akan memberikan sejumlah efek positif. Efek-efek positif ini meliputi: meningkatnya performa siswa; meningkatya waktu pengajaran untuk subjek yang dites; ekspektasi yang tinggi terhadap seluruh siswa; identifikasi terhadap sekolah, guru, dan administrasi yang buruk; dan meningkatnya kepercayaan pada sekolah seiring meningkatnya skor-skor tes.
2.      STATUS SOSIOEKONOMI DAN ETNISITAS
Pendidikan Para Siswa Berlatar Belakang Penghasilan Rendah. Banyak anak yang hdup dalam kemiskinan menghadapi masalah-masalah yang menghambat kegiatan belajarnya.  Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa lingkungan yang tidak mendukung terkait dengan rendahnya konsistensi, stimulasi, gaya pengasuhan yang menekankan hukuma, sehingga menjadikan anak yang bermasalah dengan perilaku dan kemampuan verbal. Studi terbaru lainnya mengungkapkn bahwa semakin lama anak-anak berada dalam kemiskinan, semakin besar dampaknya terhadap perkembangan kognitif anak.
Etnisitas di Sekolah. Berikut ini strategi yang digunakan untuk meningkatkan relasi di antara para siswa yang berasal dari berbagai macam etnik:
·         Aturlah susunan tempat duduk di kelas yang memungkinkan pembauran.
·         Mendorong para siswa untuk memiliki kontrak pribadi yang positif dengan keragaman siswa lain.
·         Mengurangi bias
·         Memandang sekolah dan komunitas sebagai sebuah tim.
·         Menjadi seorang mediator budaya yang kompeten.
Perbandingan lintas budaya. Penelitian yang dilakukan oleh Harold Stevenson dkk, mengekplorasi alasan rendahnya nilai siswa Amerika dibandingkan dengan siswa di Asia. Mereka menemukan bahwa guru-guru di Asia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengajar daripada guru-guru di Amerika.
Para orang tua di AS memiliki ekspektasi yang rendah terhadap pendidikan dan prestasi anaknya dibandingkan orang tua di Asia. Orang tua di AS meyakini bahwa kemampuan matematika merupakan faktor bawaan; sedangkan orang tua di Asia mengatakan bahwa prestasi matematika anak-anak mereka merupakan konsekuensi dari usaha dan latihan.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Perkembangan sosioemosi di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir dipengaruhi oleh perkembangan emosi dan kepribadian, keluarga, kawan-kawan sebaya dan sekolah.
Pada masa kanak-kanak pertengahan dan akhir, diri anak semakin menonjol dan perkembangan emosinya dapat menyangkut emosi-emosi yang kompleks. Di bandingkan di masa kanak-kanak awal, orang tua meluangkan waktu lebih sedikit di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir. Ketika orang tua bercerai, anak-anak di keluarga tiri mengalami lebih banyak permasalahan penyesuaian diri di banding anak-anak yang tinggal di keluarga normal.
Selain itu beberapa perubahan perkembangan anak juga menyangkut relasi dengan kawan-kawan sebaya salah satunya adalah meningkatnya waktu yang digunakan dalam interaksi dengan kawan sebaya secara berkelompok. Anak-anak yang popular sering dipilih sebagai kawan terbaik dan jarang tidak disukai oleh kawan-kawannya. Seperti halnya orang dewasa, anak-anak yang saling bersahabat satu sama lain memiliki  6 fungsi, yaitu kebersamaan, stimulasi, dukungan fisik, dukungan ego, perbandingan sosial dan afeksi.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Komentar anda marupakan motivasi buat penulis...