Saturday, 8 November 2014

KONSTRUKTIVISME, HUMANIS, dan PENDIDIKAN

KONSTRUKTIVISME, HUMANIS, dan PENDIDIKAN
Disusun untuk memenuhi mata kuliah psikologi pendidikan
Dosen pengampu : Girivirya.M.Pd.CHT-QHI
Dharmacarya semester II








       





Disusun oleh : 

Kelompok V
1. APRIDO SUSNO (02501130105..)  
2. LILIK SUMARWI (0250113010529)






 SEKOLAH TINGGI AGAMA BUDDHA NEGERI SRIWIJAYA 
 TANGERANG – BANTEN 
2014

KATA PENGANTAR
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhasa
Namo Buddhaya,
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa Sang Tiratana. Berkat limpahan karma baik kami dapat menyelesaikan makalah Bimbingan Psikologi Pendidikan ini tepat pada waktunya. Makalah ini sebagai salah satu tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan. Kami berterimakasih kepada pihak yang ikut serta dalam penyusunan makalah ini dan kami menyadari bahwa Penyusunan makalah ini juga masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah yang kami susun dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Sabbe Satta Bhavanthu Sukhithatta
Semoga semua makhluk hidup berbahagia
Sadhu Sadhu Sadhu















Tangerang, maret 2014

                Penyusun
F

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kreativitas merupakan anugrah yang tidak boleh disia-siakan dan harus dikembangkan secara maksimal. Kreativitas pada anak ditaman kanak-kanak ditampilkan dalam berbagai bentuk, baik dalam membuat gambar yang disukainya maupun dalam bercerita. Kreativitas adalah sesuatu yang dimiliki secara alamiah, yang mutlak memerlukan latihan untuk membangkitkan dan mengembangkannya dengan cara yang tepat.
Kreativitas, disamping bermakna baik untuk pengembangan diri juga merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Kreativitas erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Kreativitas sangat dibutuhkan individu untuk bisa melewati seleksi alam.
B. RUMUSAN MASALAH
 ------
C. TUJUAN MAKALAH
 -----
BAB II
PEMBAHASAN
1. Konstrukvisme
A. Teori Konstrukvisme
Teori konstriktivisme adalah gagasan bahwa masing-masing pembelajaran harus menemukan dan mengubah informasi yang rumit jika mereka ingin menjadikannya milik sendiri.Teori konstruktivsme melihat pembelajaran sebagai orang yang terus menerus memeriksa informasi baru terhap peraturan lama dan kemudian merevisi aturan apabila hal itu tidak lagi berguna, karena siswa harus lebih aktif daalam pembelajaran mereka sendiri daripada biasanya di ruang kelas,teori ini sering juga di sebut pengajaran yang berpusat pada siswa (student centered instructions).
B. Akar Sejarah Konstruktivisme
Konstruktivisme mempunyai akar yang jauh dalam sejarah pendidikan. Revolusi ini mengandalkan teori Piaget dan Vygotsky sebagai sumber,keduanya menekankan perubahan koknisi terjadi ketika konsepsi sebelumnya mengalami proses ketidak keseimbangan. Keduanya menyarankan penggunaan kelompok belajar dengan kemampuan campuran untuk perubahan konsep. Pemikiran konsruktivisme modern paling banyak mengandalkan teori Vygotsky. Dia berpendapat siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya yang lebih mampu. Vygotsky mencatat bahwa orang yang berhasil menyelesaikan masalah mengungkapkan diri melalui masalah yang sulit dalam kelompok kooperatif ,siswa dapat mendengarkan pembicaraan batin ini dengan lantang dan dapat memelajari cara orang yang berhasil menyelesaikan masalah berpikir melalui pendekatan mereka.
C. Tujuan Pendidikan Konstruktivisme
Adapun tujuan dari teori ini adalah sebagai berikut:
A. Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.
B. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri    pertanyaannya.
C. Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap.
D. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.
E. Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.
Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi, 1988: 132).
Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988:133). Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno, 1996: 7).
Teori konstruktivisme juga mempunyai pemahaman tentang belajar yang lebih menekankan pada proses daripada hasil. Hasil belajar sebagai tujuan dinilai penting, tetapi proses yang melibatkan cara dan strategi dalam belajar juga dinilai penting. Dalam proses belajar, hasil belajar, cara belajar, dan strategi belajar akan mempengaruhi perkembangan tata pikir dan skema berpikir seseorang. Sebagai upaya memperoleh pemahaman atau pengetahuan, siswa ”mengkonstruksi” atau membangun pemahamannya terhadap fenomena yang ditemui dengan menggunakan pengalaman, struktur kognitif, dan keyakinan yang dimiliki.
Dengan demikian, belajar menurut teori konstruktivisme bukanlah sekadar menghafal, akan tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman. Pengetahuan bukanlah hasil ”pemberian” dari orang lain seperti guru, akan tetapi hasil dari proses mengkonstruksi yang dilakukan setiap individu. Pengetahuan hasil dari ”pemberian” tidak akan bermakna. Adapun pengetahuan yang diperoleh melalui proses mengkonstruksi pengetahuan itu oleh setiap individu akan memberikan makna mendalam atau lebih dikuasai dan lebih lama tersimpan/diingat dalam setiap individu.
Vygotsky, yang menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial.  Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut konstruktivisme sosial (Taylor, 1993; Wilson, Teslow dan Taylor,1993; Atwel, Bleicher & Cooper, 1998). Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky (Slavin, 1997), yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding. 
1. Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu.
2. Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya (Slavin, 1997).
Pendekatan yang mengacu pada konstruktivisme sosial (filsafat konstruktivis sosial) disebut pendekatan konstruktivis sosial.  Filsafat konstruktivis sosial memandang kebenaran matematika tidak bersifat absolut dan mengidentifikasi matematika sebagai hasil dari pemecahan masalah dan pengajuan masalah (problem posing) oleh manusia (Ernest, 1991).  Dalam pembelajaran matematika, Cobb, Yackel dan Wood (1992) menyebutnya dengan   konstruktivisme sosio (socio-constructivism), siswa berinteraksi dengan guru, dengan siswa lainnya dan berdasarkan pada pengalaman informal siswa mengembangkan strategi-strategi  untuk merespon masalah yang diberikan.
D. Ciri – ciri pembelajaran secara kontruktivisme
Ciri – ciri pembelajaran secara kontruktivisme adalah:
A. Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenarnya.
B. Menggalakkan idea yang dimula kan oleh murid dan menggunakannya sebagai panduan merancang pengajaran.
C. Menyokong pembelajaran secara koperatif mengambil kira sikap dan pembawaan murid.
D. Mengambil kira dapatan kajian bagaimana murid belajar sesuatu ide.
E. Menggalakkan & menerima daya usaha & autonomi murid.
F. Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan murid & guru.
G. Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran.
H. Menggalakkan proses inkuiri murid melalui kajian dan eksperimen.
E. Prinsip-Prinsip Konstruktivisme
Secara garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah:
A. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.
B. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.
C. Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
D. Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.
E. Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa.
F. Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.
G. Mencari dan menilai pendapat siswa.
H. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi, 1999: 61).
Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme. Driver dan Bell (dalam Susan, Marilyn dan Tony, 1995: 222) mengajukan karakteristik sebagai berikut:
A. Siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan.
B. Belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa
C. pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal.
D. Pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas.
E. Kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi, dan sumber.
Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif. Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo, 1998: 5).
Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pembelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan, sehingga melahirkan perubahan tingkah laku.
Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa jugaa disebut tahap perkembagan mental. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan:
Perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Maksudnya, setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama, tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual, dan gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration), proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).
Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget, konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi, 1999: 62). Dalam penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar.
Hakikat Pembelajaran Menurut Teori Belajar Konstruktivisme
Menurut teori belajar konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.
Sehubungan dengan hal di atas, Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.
Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme, Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran, yaitu:
1. Siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki.
2. Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti.
3. Strategi siswa lebih bernilai, dan
4. Siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.

Dari beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.

Kelebihan Dan Kelemahan Teori Konstruktivistik
•  KELEBIHAN
1. Berpikir
Dalam proses membangun pengetahuan baru, murid akan berpikir untuk memecahkan masalah, menghasilkan ide, dan membuat keputusan yang cerdas dalam menghadapi berbagai kemungkinan dan tantangan. Misalnya, ini dapat dicapai melalui kegiatan penelitian dan investigasi seperti mengidentifikasi masalah, mengumpulkan informasi, memproses data, membuat interpretasi dan membuat kesimpulan.

2. Pemahaman
Pemahaman murid tentang sesuatu konsep dan ide lebih jelas apabila mereka terlibat secara langsung dalam konstruksi pengetahuan baru. Seorang murid yang memahami apa yang dipelajari akan dapat mengaplikasikan pengetahuan yang baru dalam kehidupan dan situasi baru.
3. Ingatan 
Setelah memahami sesuatu konsep, murid akan dapat mengingati lebih lama konsep tersebut karena mereka terlibat secara aktif dalam mengaitkan pengetahuan yang diterima dengan pengetahuan sudah ada untuk membina pengetahuan baru.
4. Yakin 
Murid yang belajar secara konstruktivisme diberi peluang untuk membina sendiri pahaman mereka tentang sesuatu. Ini menjadikan mereka lebih yakin kepada diri sendiri dan berani menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru.
5. Keterampilan sosial
Murid yang terampil sosial dapat bekerjasama dengan orang lain dalam menghadapi setiap tantangan dan masalah. Keterampilan sosial ini diperoleh ketika murid berinteraksi dengan teman dan guru dalam   membangun pengetahuan mereka.
6. menyenangkan 
Dalam pembelajaran secara konstruktivisme, murid membangun sendiri pengetahuan, konsep dan ide secara aktif. Ini membuat mereka lebih mengerti, lebih yakin dan lebih menyenangkan untuk terus belajar sepanjang hayat meskipun menghadapi berbagai kemungkinan dan tantangan.
• KELEMAHAN
Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik sepertinya kurang begitu mendukung.

2. HUMANISME
A. Hakikat humanisme 
Aliran humanisme dalam  pendidikan merupakan merupakan aplikasi dari paham kemanusiaan yang sangat peduli tentang keterkaitan perkembangan manusia yang manusiawi dalam pendidikan.
Humanisme Dalam Proses Pendidikan Dan pembelajaran 
Penerapan pendekatan humanisme di dalam pendidikan dan pembelajaran dapat diindentifikasi dari kebijakan-kebijakan yang di ambil oleh pihak sekolah dalam hal-hal yang berkaitan dengan : 
Pengembangan perasaan positif siswa terhadap diri nya sendiri yang di arahkan pada pengembangan kepribadian yang positif. 
Pengembangan persaan positif terhadap orang  lain yang diarahkan untuk menghargai orang lain tanpa membedakan asal-usul, ras, latar belakang sosial dan ekonomi serta agama.
Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dan pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan siswa sebagai individu dan makhluk sosial.
Berkaitan dengan hal tersebut maka metode pembelajaran yang dapat merefleksikan pemenuhan kebutuhan siswa di antranya adalah :
Cooperative learning yang merupakan metode pembelajaran  yang memberi kesempatan untuk menumbuh kembangkan perasaan sosial, pengendalian emosi dan perilaku siswa serta pengembangan kemampuan intelektual siswa di dalam lingkungan belajra yang menekankan kesetaraan, kebersamaan dan saling mengharagai.
Mengklarifikasi nilai-nilai yang perlu dimiliki siswa dengan jalan melakukan :
1) Identifikasi pikiran  dan perasaan siswa terhadap nlai-nilai tersebut.
2) Menghargai kepercayaan dan nilai-nilai yang di percayai oleh siswa.
3) Menyadarkan siswa terhadap manfaat dari nilai-nilai yang di percayainya dengan berbagai contoh-contoh manfaat penerapannya di dalam masyarakat.
4) Menyadarkan siswa terhadap nilai-nilai negatif  yang di percayainya serta menjelaskan akibat negatif yang akan terjadi pada dirinya dan masyarakat 
Moral edecation, yang berkaitan dengan pembentukan moral siswa yang di tujukan pada pembentukan karakter sebagai  indivivo sebagai warga masyarakat dan warga negara.
Inclusive education ,Menurut UNESCO  (2004) pendidikan inklusif mengandung arti bahwa sekolah perlu mengakomodasi kebutuhan pendidikan semua anakdengan tidak menghiraukan kondisi fisik,intelektual ,sosial,emosional,bahasa dan kondisi-kondisi lainnya anak-anak di daerah terpencil atau anak-anak dari suku yang berpindah-pindah serta anak-anak yang berasal dari kondisi yang kurang beruntung lainnya perlu mendapat akses terhadap pendidikan.pendidikan inklusif menjadi isu global karena jenis pendidikan ini memberikan respon terhadap perbedaan latar belakang dan kebutuhan anak dengan jalan memberikan kesempatan pada semua anak untuk berpatisipasi dalam  pendidikan,pendidikan inklusif  tidak berarty bahwa sekolah sekolah khusus yang telah ada dan di butuhkan oleh individu-individu berkebutuhan khusus lainnya ditutup 
Humanisme Berdasarkan Pandangan MASLOW dan aplikasinya dalam  pendidikan 
Hierarkhi Kebutuhan
Abraham Maslow ( 1908 – 1970 ) adalah tokoh pengembang teori humanisme melalui teori  hirarchi kebutuhan manusia yang  memberikan  pemahaman secara komprehensif tentang  selfesteem yaitu  rasa percaya diri sendiri dan kemampuan untuk menghargai diri sendiri dan cara-cara yang dapat dilakukan dalam meningkatkan self-esteem tersebut.
Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan fisiologis atau  physiological  needs mencakup kebutuhan hidup mendasar seperti kebutuhan terhadap oxygen, air, makanan, protein, garam, gula, calsium, dan mineral-mineral  lainya serta kebutuhan akan berbagai vitamin yang diperlukan untuk kelangsungan hidup sehat.
Kebutuhan Rasa  Aman
Kebutuhan rasa aman atau  safety needs muncul apabila kebutuhan fisiologis telah terpenuhi .kebutuhan  rasa aman mewujudkan diri dalam bentuk aman  dari segala keadaan  yang membahayakan,perlindungan dan stabilitas sosial serta ekonomi
Kebutuhan Untuk Dicintai dan Mencintai 
Kebutuhan untuk di cinatai dan mencintai atau belonging needs  muncul setelah kebutuhan fisiologis dan kebutuhan rasa aman terpenuhi 
Kebutuhan Untuk Dihargai 
Setelah kebutuhan fisiologis ,kebutuhan rasa aman dan kebutuhan untuk di cintai dan mencintai terprnuhi maka muncul kebutuhan selanjutnya yaitu kebutuhan untuk di hargai atau esteem needs .
Kebutuhan Aktualisasi Diri 
Highselfesteem  merupakan kebutuhan yang menjadi dasar munculnya kebutuhan untuk mengaktualaisasikan diri utau  self-actualization .


BAB III 
PENUTUP
 Kesimpulan
 Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah interaksi aktif antara kemampuan yang dibawa sejak lahir dengan pengalaman yang diperoleh dari linkungan yang menghasilkan kemampuan individu untuk memperoleh, mengingat, dan menggunakan pengetahuan, mengerti makna dari konsep kongkrit dan konsep abstrakmemahami hubungan-huungan  yang ada di antara obyek, peristiwa, ide, dan kemampuan dalam menerapakan dalam semua hal untuk menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Komentar anda marupakan motivasi buat penulis...