Saturday, 8 November 2014

Pemikiran Otak Terhadap Pemikiran Linier (Mind Map)



Tugas Psikologi Pendidikan
Pemikiran Otak Terhadap Pemikiran Linier (Mind Map)
(Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan)
Dosen Pengampu: Girivirya Sulaiman.M.Pa.CHT-Qhi

loGO SRIWIJAYA

DISUSUN OLEH :
1.      Guntur Vimala Dharma Putra
2.      Adi Budaya

DHARMACARYA II
SEKOLAH TINGGI AGAMA BUDDHA NEGERI SRIWIJAYA
TANGERANG-BANTEN

2014



KATA PENGANTAR        
Puji syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesehatan bagi kami, bahwa penulis telah menyelesaikan tugas artikel mata kuliah Psikologi Pendidikan dengan membahas Pemikiran Otak Terhadap Pemikiran Linier (Mind Map). Dalam penyusunan artikel ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun, penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan meteri ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dari Bapak atau Ibu dosen, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Bapak dosen Girivirya Sulaiman.M.Pa.CHT-Qhi selaku bidang study Psikologi Pendidikan yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada penulis sehingga penulis termotivasi dan menyelesaikan tugas ini.
Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.


                                                                                                Penulis
  

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL 
KATA PENGANTAR 
DAFTAR ISI 
BAB I PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang 
1.2       Rumusan Masalah 
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Mind Map 
2.2.1. Bagaimana Mind Map dapat membantu kita 
2.2.2. Apa yang dibutuhkan untuk menciptakan Mind Map 
2.2.3. Tujuh Langkah Membuat Mind Map 
BAB III PENUTUP
2.2. Kesimpul. 
Daftar Pustaka
Lampiran-Lampiran
 BAB II
PEMBAHASAN
 2.1 Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus
Ada beberapa istilah yang digunakan untuk menunjukkan keadaan anak berkebutuhan khusus. Istilah anak berkebutuhan khusus merupakan istilah terbaru yang digunakan, dan merupakan terjemahan dari child with special needs yang telah digunakan secara luas di dunia internasional, ada beberapa istilah lain yang pernah digunakan diantaranya anak cacat, anak tuna, anak berkelainan, anak menyimpang, dan anak luar biasa, ada satu istilah yang berkembang secara luas telah digunakan yaitu difabel, sebenarnya merupakan kependekan dari diference ability.
1 Anak berkebutuhan khusus dapat diartikan sebagai seoranganak yang memerlukan pendidikan yang disesuaikan dengan hambatan belajar dan kebutuhan masing-masing anak secara individual.
2 Sejalan dengan perkembangan pengakuan terhadap hak azasi manusia termasuk anak-anak ini, maka digunakanlah istilah anak berkebutuhan khusus. Penggunaan istilah anak berkebutuhan khusus membawa konsekuensi cara pandang yang berbeda dengan istilah anak luar biasa yang pernah dipergunakan dan mungkin masih digunakan. Jika pada istilah luar biasa lebih menitik beratkan pada kondisi (fisik, mental, emosi-sosial) anak, maka pada berkebutuhan khusus lebih pada kebutuhan anak untuk mencapai prestasi sesuai dengan potensinya.B. Konsep Anak Berkebutuhan Khusus Istilah anak berkebutuhan khusus memiliki cakupan yang sangat luas. Dalam paradigma pendidikan kebutuhan khusus keberagaman anak sangat dihargai. Setiap anak memiliki latar belakang kehidupan budaya dan perkembangan yang berbeda- beda, dan oleh karena itu setiap anak dimungkinkan akan memilki kebutuhan khusus serta hambatan belajar yang berbeda pula, sehingga setiap anak sesungguhnya memerlukan layanan pendidikan yang disesuaikan sejalan dengan hambatan belajar dan kebutuhan masing-masing anak. Anak berkebutuhan khusus dapat diartikan sebagai seoranganak yang memerlukan pendidikan yang disesuaikan dengan hambatan belajar dan kebutuhan masing-masing anak secara individual. 1 Heri Purwanto, Modul Pembelajaran; Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, (UPI Bandung), Hal.2 2 Zaenal Alimin, Jurnal Asesmen dan Intervensi Anak Berkebutuhan Khusus; Reorientasi Pemahaman Konsep Pendidikan Kebutuhan Khusus dan Implikasinya Terhadap Layanan Pendidikan, (Vol.3 No 1), Hal. 1 2
·  4. Cakupan konsep anak berkebutuhan khusus dapat dikategorikan menjadi duakelompok besar yaitu anank berkebutuhan khusus yang bersifat sementara (temporer)dan anak berkebutuhan khusus yang bersifat menetap (permanent).31. Anak berkebutuhan khusus bersifat sementara (temporer) Anak berkebutuhan khusus yang bersifat sementara (temporer) adalah anak yang mengalami hambatan belajar dan hambatan perkembangan disebabkan factor-faktor eksternal. Misalnya anak yang mengalami gangguan emosi karena trauma akibat diperkosa sehingga anak ini tidak dapat belajar. Pengalaman traumatis seperti itu bersifat sementara tetapi apabila anak ini tidak memperoleh intervensi yang tepat bolehjadi akan menjadi permanent. Anak seperti ini memerlukan layanan pendidikan kebutuhan khusus, yaitu pendidikan yang disesuaikan dengan hambatan yang dialaminya tetpai anak ini tidak perlu dilyani diselah khusus. Di sekolah biasa banyak sekali anak-anak yang mempunyai kebutuhan khusus yang bersifattemporer, dan oleh karena itu mereka memerlukan pendidikan yang disesuaikan yang disebut pendidikan kebutuhan khusus.2. Anak berkebutuhan khusus yang bersifat menetap (permanen) Anak berkebutuhan khusu yang bersifat permanen adalah anak-anak yang mengalami hambatan belajar dan hambatan perkembangan yang bersifat internal dan akibat langsusng dari kondisi kecacatan, yaitu seperti anak yang kehilangan fungsi penglihatan, pendengaran, gangguan perkembangan kecerdasan dan kognisi, gangguan gerak (motorik), gangguan interaksi-komunikasi, gangguan emosi, social dan tingkah laku. Dengan kata laian anak berlebutuhan khusu yang bersifat permanen sama artinya denagn anak penyandang kecacatan. Istilah anak berkebutuhan khusus bukan merupakan terjemahan atau kata lain dari anak penyandang cacat, tetapi anak berkebutuhan khusus mencakup spectrum yang luas yaitu meliputi anak berkebutuhan khusus temporer dan anak berkebutuhan khusus permanent (penyandang cacat). Oleh karena itu apabila menyebut anak berkebutuhan khusus selalu harus diikuti ungkapan termasuk penyandang cacat. Jadi anak penyandang cacat merupakan bagian atau anggota dari anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu konsekuensi logisnya adalah lingkup garapan pendidikan kebutuhan khusus menjadi sangat luas, berbeda dengan lingkup garapan pendidikan khusu yang hanya menyangkut anak penyandang cacat. 3 Ibid, Hal. 2 3
·  5. C. Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus Membicarakan anak-anak berkebutuhan khusus, sesungguhnya banyak sekali variasi dan derajat kelainan. Ini mencakup anak-anak yang mengalami kelainan fisik, mental-intelektual, sosial-emosional, maupun masalah akademik.4 Kita ambil contoh anak-anak yang mengalami kelainan fisik saja ada tunanetra, tunarungu, dan tunadaksa (cacat tubuh) dengan berbagai derajat kelaianannya. Ini adalah yang secara nyata dapat dengan mudah dikenali. Keadaan seperti ini sudah barangtentu harus dipahami oleh seorang guru, karena merekalah yang secara langsung memberikan pelayanan pendidikan di sekolah kepada semua anak didiknya. Namun keragaman yang ada pada anak-anak tersebut belum tentu dipahami semua guru di sekolah. 1. Kelainan Mental a. Mental Tinggi Sering dikenal dengan anak berbakat intelektual, dimana selain memilki kemampuan memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata normal yang signifikan juga memilki kreativitas dan tanggung jawab terhadap tugas. b. Mental Rendah Kemampuan mental rendah atau kapasitas intelektual (IQ) di bawah rata-rata dapat menjadi 2 kelompok yaitu anak lamban belajar (slow learners) yaitu anak yang memiliki IQ antara 70-90. Sedangkan anak yang memiliki IQ di bawah 70 dikenal dengan anak berkebutuhan khusus. c. Berkesulitan Belajar Spesifik Berkesulitan belajar berkaitan dengan prestasi belajar (achievement) yang diperoleh siswa. Anak berkesulitan belajar spesifik adalah anak yang memiliki kapasitas intelektual normal ke atas tetapi memiliki prestasi belajar rendah pada bidang akademik tertentu. 2. Kelainan Fisik a. Kelainan Tubuh (Tunadaksa) Adanya kondisi tubuh yang menghambat proses interaksi dan sosialisasi individu meliputi kelumpuhan yang dikarenakan polio, dan gangguan pada 4 Heri Purwanto, Modul Pembelajaran; Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, (UPI Bandung), Hal.1 4
·  6. fungsi syaraf otot yang disebabkan kelayuhan otak (cerebral palsy), serta adanya kehilangan organ tubuh (amputasi). b. Kelainan Indera Penglihatan (Tunanetra) Seseorang yang sudah tidak mampu menfungsikan indera penglihatanya untuk keperluan pendidikan dan pengajaran walaupun telah dikoreksi dengan lensa. Kelainan penglihatan dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu buta dan low vision. c. Kelainan Indera Pendengaran (Tunarungu) Kelainan pendengaran adalah seseorang yang telah mengalami kesulitan untuk menfungsikan pendengaranya untuk interaksi dan sosialisasi dengan lingkungan termasuk pemdidikan dan pengajaran. Kelainan pendengaran dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu tuli (the deaf) dan kurang dengar (hard of hearing). d. Kelainan Wicara Seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikiran melalui bahasa verbal, sehingga sulit bahkan tidak dapat dimengerti orang lain. Kelainan wicara ini dapat bersifat fungsional dimana mungkin disebbkan karena ketunarunguan, dan organic memang disebabkan adanya ketidaksempurnaan organ wicara maupun adanya gangguan pada organ motoris yang berkaitan dengan wicara.3. Kelainan Emosi Gangguan emosi merupakan masalah psikologis, dan hanya dapat dilihat dari indikasi perilaku yang tampak pada individu, adapun klasifikasi gangguan emosi meliputi : a. Gangguan Perilaku  Mengganggu di kelas§ § Tidak sabaran – terlalu cepat beraksi  Tidak menghargai –§ menentang  Menyalahkan orang lain§  Kecemasan terhadap prestasi§ di sekolah  Dependen pada orang lain§  Pemahaman yang lemah§  Reaksi yang tidak sesuai§  Melamun, tidak ada perhatian dan§ menarik diri. 5
·  7. b. Gangguan Konsentrasi (ADD/Attention Deficit Disorder) Enam atau lebih gejala inattention, berlangsung paling sedikit 6 bulan, ketidakmapuan untuk beradaptasi, dan tingkat perkembanganya tidak konsisten. Gejala-gejala inattention tersebut adalah :  Sering gagal untuk memperhatikan secara detail, atau sering§ membuat kesalahan dalam pekerjaan sekolah atau aktifitas yang lain.  Sering kesulitan memperhatikan tugas-tugas atau§ aktifitas permainan.  Sering tidak mendengarkan ketika§ orang lain berbicara.  Sering tidak mengikuti instruksi§ untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah. c. Anak Hiperactive (ADHD/Attention Deficit with Hiperactivity Disorder) § Perilaku tidak bisa diam  Ketidakmampuan untuk member§ perhatian yang cukup lama.  Hiperaktivitas§ § Aktivitas motorik yang tinggi  Canggung§ § Berbuat tanpa dipikir akibatnya.D. Faktor-Faktor Timbulnya Kebutuhan Khusus Terdapat tiga factor yang dapat diidentifikasi tentang sebab musabab timbulnya kebutuhan khusus pada seorang anak yaitu : (1) Faktor internal pada diri anak. (2) Faktor eksternal dari lingkunan, dan (3) Kombinasi dari factor internal dan eksternal (kombinasi).5 1. Factor Internal Faktor internal adalah kondisi yang dimilki oleh anak yang bersangkutan. Sebagai contoh seorang anak memiliki kebutuhan khusus dalam belajar karena ia tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, atau tidak mengalami kesulitan untuk bergerak. Keadaan seperti itu berada pada diri anak yang bersangkutan secara internal. Dengan kata lain hambatan yang dialami berada dlam diri anak yang bersangkutan. 2. Factor Eksternal Factor eksternal adalah sesuatu yang berada diluar diri anak mengakibatkan anak menjadi memiliki hambatan perkembangan dan hambatan belajar, sehingga mereka memiliki kebutuhan layanan khusus dalam pendidikan. Sebagai contoh seorang 5 Zaenal Alimin, Jurnal Asesmen Dan Intervensi Anak Berkebutuhan Khusus; Reorientasi Pemahaman Konsep Pendidikan Kebutuhan Khusus dan Implikasinya Terhadap Layanan Pendidikan. (Vol.3 No 1), Hal. 10 6
·  8. anak yang mengalami kekerasan di rumah tangga dalam jangka panjang mengakibatkan anak tersebut kehilangan konsentrasi, menarik diri dan ketakuatan. Akibatnya anak tidak dapat belajar. 3. Kombinasi Faktor Internal dan Eksternal Kombinasi antara factor internal dengan factor eksternal dapat menyebabkan terjadinya kebutuhan khusus pada seorang anak. Kebutuhan khusus yang disebabkan oleh factor internal sekaligus eksternal sekaligus diperkirakan akan anak akan memiliki kebutuhan khusus yang lebih kompleks. Sebagai contoh seorang anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas dan dimiliki secara internal berada pada lingkungan keluarga yang kedua orang tuanya tidak menerima kehadiran anak, tercermin dari perlakuan yang diberikan kepada anak yang bersangkutan. Anak yang seperti ini memiliki kebutuhan khusus akibat dari kondisi dirinya dan akibat perlakuan orang tua yang tidak tepat.E. Model Layanan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus Menurut Hallahan dan Kauffman (1991) yang dikutip oleh Purwanto 6, bentuk penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus ada berbagai pilihan, yaitu : a. Regular class only (Kelas biasa dengan guru biasa) b. Regular class with consultation (Kelas biasa dengan konsultan guru PLB) c. Itinerant teacher (Kelas biasa dengan guru kunjung) d. Resource teacher (Guru sumber, yaitu kelas biasa dengan guru biasa, namun dalam beberapa kesempatan anak berada pada ruang sumber dengan guru sumber) e. Pusat Diagnostik-Prescriptif f. Hospital or homebound Instruction (Pendidikan di rumah ataudi rumah sakit,yakni kondisi anak yang memungkinkan belum masuk ke sekolah biasa) g. Self-contained class (Kelas khusus di sekolah biasa bersama guru PLB) h. Special day school (Sekolah luar biasa tanpa asrama) i. Residential school (Sekolah luar biasa berasrama) 6 Heri Purwanto, Modul Pembelajaran; Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, (UPI Bandung), Hal.8 7
·  9. Samuel A. Kirk (1986) yang dikutip oleh Purwanto 7, membuat gradasilayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus bergradasi dari model segregasi kemodel mainstreaming seperti tersebut di bawah ini : Berdasarkan kedua pendapat tersebut diatas, bentuk-bentuk layananpendidikan bagi anak berkebutuhan khususdapat dikelompokkan menjadi 2 kelompokbesar, yaitu :a. Bentuk Layanan Pendidikan Segregasi Bentuk layanan pendidikan segregasi adalah system pendidikan yang terpisah dari system pendidikan anak formal. Pendidikan anak berkebutuhan khusus melalui system segregasi maksudnya adalah penyelenggaraaan pendidikan yang dilaksanakan secara khusus, dan terpisah dari penyelenggaraaan pendidikan untuk anak normal. Dengan kata lain anak berkebutuhan khusus diberikan layanan pendidikan pada lembaga pendidikan khusus untuk anak berkebutuhan khusus. Ada empat bentuk penyelenggaraan pendidikan denagn system segregasi, yaitu : 1) Sekolah Luar Biasa (SLB) 2) Sekolah Luar Berasrama 3) Kelas Jauh/Kelas Kunjung 7 Ibid Hal.9 8
·  10. 4) Sekolah Dasar Luar Biasab. Bentuk Layanan Pendidikan Terpadu/Integrasi Bentuk layanan pendidikan terpadu/integrasi adalah system pendidikan yang memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama-sama dengan anak biasa (normal) di sekolah umum. Dengan demikian, melalui system integrasi anak berkebutuhan khusus bersama dengan anak normal belajar dalam satu tahap. System pendidikan integrasi disebut juga system pendidikan terpadu, yaitu system pendidikan yang membawa anak berkebutuhan khusus kepada suasana keterpaduan dengan anak normal. Keterpaduan tersebut dapat bersifat menyeluruh, sebagian, atau keterpaduan dalam rangka sosialisasi. Pada system keterpaduan secara penuh dan sebagian jumlah anak berkebutuhan khusus dalam satu kelas maksimal 10 % dari jumlah siswa keseluruhan. Untuk membantu kesulitan yang dialami oleh anak berebutuhan khusus, di sekolah terpadu disediakan Guru Pembimbing Khusus (GPK). GPK dapat berfungsi sebagai konsultan bagi guru kelas, kepala sekolah, atau anak berkebutuhan, atau anak berkebutuhan khusus iyu sendiri. Selain itu, GPK juga berfungsi sebagai pembimbing di ruang bimbingan khusus atau guru kelas pada kelas khusus. Ada tiga tahap bentuk keterpaduan dalam layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus menurut Depdiknas (1986) yang dikutip oleh Purwanto8. Ketiga bentuk tersebut adalah 1) Bentuk Kelas Biasa 2) Kelas Biasa dengan Ruang Bimbingan Khusus 3) Bentuk Kelas Khusus 8 Ibid 12-14 9.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Banayak sekali orang mengatakan bahwa ada beberapa orang yang mengalami gangguan otak atau pemikiran otak terhadap pemikiran linier yaitu Mind Map, sehingga seseorang dapat mengalami gangguan pada otak. Kecenderungan seseorang ingin selalu mempunyai pemikiran yang baik yang lebih dari lingkungan sekitarnya, jarang sekali ada yang menjalani kehidupan tanpa mengalami suatu gangguan pada otak. Banyak faktanya seseorang pernah mengalami masalah pemikiran atau kecerdasan yang cukup berat, jika di diagnosis dapat di klasifikasikan sebagai gangguan otak.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah yaitu :
1.      Apakah yang dimaksud dengan Mind Map ?
2.      Bagaimana Mind Map dapat membantu kita ?
3.      Apa yang dibutuhkan untuk menciptakan Mind Map ?
4.      Tujuh langkah membuat Mind Map
5.      Menciptakan Mind Map pertama







BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Mind Map
Mind Map yaitu alternatif keseluruhan otak terhadap pemikiran linier, Mind Map menggapai kesegala arah dan menangkap berbagai pikiran dari segala sudut.
Mind Map adalah cara termudah untuk menempatkan informasi kedalam otak dan mengambil informasi keluar dari otak yaitu mencatat yang kreatif, efektif, dan secara harfiah akan memetakan pikiran kita.
1.2.1.      Bagaimana Mind Map dapat membantu kita ?
Mind Map dapat membantu kita untuk :
1.      Merencana
2.      Berkomunikasi
3.      Menjadi lebih kreatif
4.      Menghemat waktu
5.      Menyelesaikan masalah
6.      Memusatkan perhatian
7.      Menyusun dan menjelaskan pikiran-pikiran
8.      Mengingat dengan lebih baik
9.      Belajar lebih cepat dan efesien
10.  Melihat gambar keseluruhan
Menurut Michael Michalko, dalam buku terlarisnnya cracking creativity, Miind Map akan :
1.      Mengaktifkan seluruh otak
2.      Membereskan akal dari kekusutan mental
3.      Memungkinkan kita berfokus pada pokok bahasan
4.      Membantu menunjukan hubungan antara bagian-bagian informasi yang saling terpisah
5.      Memberi gambaran yang jelas pada keseluruhan dan perincian
6.      Memungkinkan kita mengelompokan konsep membantu kita membandingkannya
Mensyaratkan kita untuk memusatkan perhatian pada pokok bahasan yang membantu mengalihkan informasi tentangnya dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang.
2.2.2. Apa yang dibutuhkan untuk menciptakan Mind Map
Kita bergabung dengan para genius besar yang semuanya menggunakan unsur-unsur Mind Map untuk menjadikan pikiran-pikiran mereka kasat mata dan dengan demikian membantu mereka sendiri dan orang lain membuat lompatan-lompatan besar kedepan dalam bidang ilmu mereka.para genius ini antara lain :
1.      Leonardo dan vinci, disebut sebagai genius melinium terakhir
2.      Michaelangelo, pematung dan seminar besar
3.      Carles Darwin, ahli biologi
4.      Sir Isac Newton, penemu hukum grafitasi
5.      Albert Elinstein, penemu hukum relatifitas
Alasan mengapa para genius besar ini menggunakan bahasa gambar untuk menyusun, mengembangkan, dan mengingat pikiran mereka adalah karena otak memiliki kemampuan alami untuk mengenal visual bahkan sebenarnya pengenalan yang sempurna.
2.2.3. Tujuh Langkah Membuat Mind Map
1. Mulailah dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya dilitakkan mendatar. Mengapa ?
Karena memulai dari tengah memberi kebebasan kepada otak untuk menyebar kesegala arah dan untuk mengungkapkan dirinya dengan lebih bebas dan alami.
2.      Gunakan gambar atau foto untuk idesentral anda. Mengapa ?
Karena sebuah gambar bermakna seribu kata dan membantu kita mengguanakan imajinasi.
3.       Gunakan warna. Mengapa ?
Karena bagi otak warna sama menariknya dengan gambar. Warna membuat Mind Map lebih hidup, menambah energi pada pemikiran kreatif
4.      Hubungkan cabang-cabang utama kepada gambar pusat dan hubungkan cabang-cabang tingkat dua dan tiga ketingkat satu dan dua dan seterusnya. Mengapa ?
Karena otak bekerja menurut asosiasi. Otak senang mengaitkan dua (atau tiga, atau empat) hal sekaligus. Bila kita menghubungkan cabang-cabang kita akan lebih mudah mengerti dan mengingat.
5.      Buatlah garis hubungan yang melengkung, bukan garis lurus. Mengapa ?
Karena garis lurus akan membosankan otak.
6.      Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis. Mengapa ?
Karena kata kunci tunggal memberi lebih banyak daya dan fleksibilitas kepada Mind Map.
7.      Gunakan gambar. Mengapa ?
Karena seperti gambar sentral setiap gambar bermakna seribu kata









BAB III
PENUTUP
2.2. Kesimpulan
Jadi model pembelajaran mind mapping adalah suatu model pembelajaran untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambilnya kembali ke luar otak. Bentuk mind mapping seperti peta sebuah jalan di kota yang mempunyai banyak cabang. Model pembelajaran Mind Mapping sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban. Dipergunakan dalam kerja kelompok secara berpasangan ( 2 orang ). Mind Mapping menggunakan teknik penyaluran gagasan dengan menggunakan kata kunci bebas, simbol, gambar, dan menggambarkan secara kesatuan dengan menggunakan teknik pohon. Mind mappingdisebut pemetaan pikiran atau peta pikiran, adalah salah satu cara mencatat materi pelajaran yang memudahkan siswa belajar. Mind mapping bisa juga dikategorikan sebagai teknik mencatat kreatif. Dikategorikan ke dalam teknik kreatif karena pembuatan mind mapping ini membutuhkan pemanfaatan imajinasi dari si pembuatnya. Siswa yang kreatif akan lebih mudah membuat mind mapping ini. Begitu pula, dengan semakin seringnya siswa membuat mind mapping, dia akan semakin kreatif.
1.    Kelebihan :
a.       Cara ini cepat
b.       Teknik dapat digunakan untuk mengorganisasikan ide-ide yang muncul dikepala anda
c.        Proses mengganbar diagram bisa memunculkan ide-ide yang lain.
d.       Diagram yang sudah terbentuk bisa menjadi panduan untuk menulis.
2.    Kekurangan :
a.       Hanya siswa yang aktif yang terlibat
b.      Tidak sepenuhnya murid yang belajar
c.       Jumlah detail informasi tidak dapat dimasukkan

DAFTAR PUSTAKA
Toni Buzan, Susanna Abbot, Pengarah kreatif, 2011, Buku Pintar Mind Map; Jakarta.
Sumber : http://nanda-ari.blogspot.com/2012/12/mind-mapping.html








Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Komentar anda marupakan motivasi buat penulis...