Friday, 14 March 2014

PERMULAAN BIOLOGIS DAN PERKEMBANGAN PRAKELAHIRAN DAN KELAHIRAN



PERMULAAN BIOLOGIS
DAN
PERKEMBANGAN PRAKELAHIRAN DAN KELAHIRAN

A.    LATAR BELAKANG
Dilihat dari kacamata evolusi, manusia adalah pendatang yang relatif baru dibumi. Ketika nenek moyang kita yang paling tua berpindah dari hutan untuk mencari makan di padang rumput dan kemudian membentu masyarakat berburu di dataran terbuka, pikiran dan perilaku mereka berubah dan akhirnya mereka mereka mengukuhkan diri sebagai spesies yang paling dominan dimuka bumi.
Manusia gemar mencari sesuatu yang baru dan mencari  asal mula sesuatu dari berbagai hal yang ditemui. Sehingga timbul pertanyaan “apa itu hidup” dan dari manakah asalnya” merupakan pertanyaan yang selalu ada dari abad ke abad.
Makhluk hidup di bumi diyakini tidak langsung berbentuk seperti masa sekarang ini, terjadi evolusi dari makhluk hidup yang menjadikannya serupa seperti saat ini. Evolusi yang terjadi dari ratus tahun,ribuan tahun bahkan jutaan tahun ini menarik untuk diketahui perkembangannya.
Evolusi tersebutlah yang membuat makhluk hidup menyebar dari berbagai tempat ke tempat yang lainnya dan terjadinya evolusi juga membuat pemikiran makhluk hidup berkembang dan mulai menciptakan berbagai teknologi yang canggih untuk bertahan hidup. Maka dari itu penting untuk kita mengetahui atau mempelajari evolusi yang terjadi pada makhluk hidup dan proses-proses perkembangan prakelahiran dan kelahiran pada makhluk hidup.    
B.     RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana terjadinya evolusi  pada makhluk hidup atau manusia ?
2.      Bagaimana proses – proses perkembangan prakelahiran ?
3.      Bagaimana proses – proses kelahiran ?

C.     TUJUAN
Makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut :
1.      Menjelaskan bagaimana terjadi evolusi pada makhluk hidup atau manusia.
2.      Menjelaskan bagaimana proses – proses perkembangan prakelahiran.
3.      Menjelaskan bagaimana prose – proses kelahiran.



BAB II
PEMBAHASAN
A. PERMULAAN BIOLOGIS
1. Perspektif Evolusioner
Dilihat dari kacamata evolusi, manusia adalah pendatang yang relatif baru dibumi. Ketika nenek moyang kita yang paling tua berpindah dari hutan untuk mencari makan di padang rumput dan kemudian membentu masyarakat berburu di dataran terbuka, pikiran dan perilaku mereka berubah dan akhirnya mereka mereka mengukuhkan diri sebagai spesies yang paling dominan dimuka bumi, karena adanya evolusi yang terjadi sebagai berikut :
a.    Seleksi Alam Dan Perilaku Adaptif
Seleksi alam (natural selection) adalah proses evolusi yang menetapkan bahwa spesies-spesies yang paling dapat menyesuaikan diri akan menjadi spesies yang dapat bertahan hidup dan bereproduksi. Makhluk hidup yang bertahan dan bereproduksi akan menurunkan gen mereka kepada generasi generasi berikutnya. Individu yang memiliki kemampuan beradaptasi yang paling baik adalah individu yang akan menghasilkan keturunan paling banyak. Sepanjang generasi, organisme yang memiliki karakteristik yang dibutuhkan untuk bertahan hidup akan menjadi organisme yang presentasenya kiat bertambah dalam populasi. Meskipun demikian, apabila karakteristik lingkungan berubah maka karakteristik yang berbeda mungkin akan lebih bertahan dalam seleksi alam, sehingga menggiring spesies ke arah yang berbeda (mader,2011).
Semua organisme harus beradaptasi dengan tempat, iklim, sumber makanan, dan cara hidup tertentu (Audesirk, Audesirk, & Byers, 2011 ). Cakar elang merupakan suatu bentuk adaptasi fisik yang dapat memudahkan aktivitas mengcari mangsa. Perilaku adaptif (adaptive behavior) adalah perilaku yang mendukung kelangsungan hidup organisme dihabitat alam (Johnson & Losos,2010). Sebagai contoh, kelekatan antara pengasuh dan bayi dapat menjamin kedekatan bayi tersebut dengan pengasuh agar memperoleh makan dan perlindungan dari bahaya, sehingga dapat meningkatkan peluang bayi itu untuk bertahan hidup.

b.    Psikologi Evolusioner
Psikologi evolusioner adalah salah satu cabang baru dalam psikologi yang mencoba mempelajari potensi peran dari faktor genetis dalam beragam aspek dari perilaku manusia. Cabang baru dari psikologi ini menyatakan bahwa manusia, seperti makhluk hidup lainnya di planet bumi ini, telah mengalami proses evolusi biologis selama sejarah keberadaannya, dan dari hasil proses ini manusia sekarang memiliki sejumlah besar mekanisme psikologis yang merupakan hasil evolusi yang membantu manusia untuk tetap hidup atau mempertahankan keberadaannya. Dalam kajian percobaan prediksi teoritis, psikologi evolusioner telah memberikan penemuan dalam topik-topik, antara lain pola pernikahanpersepsi kecantikan, kecerdasan, dan lain-lain. Akar sejarah dari psikologi evolusioner adalah teori seleksi alam Charles Darwin.
Evolusi membentuk ciri-ciri fisik kita, misalnya bentuk dan tinggi tubuh, evolusi juga mempengaruhi cara kita mengambil keputusan, seberapa agresifnya kita, seberapa besar rasa takut kita.

Psikologi Perkembangan Evolusioner
Manusia mengembangkan otak yang besar dan pengalaman-pengalaman yang dibutuhkan untuk menjadi orang dewasa yang berkompeten dalam masyarakat yang kompleks. Banyak mekanisme psikologi yang berkembang tersebut bersifat spesifik sesuai bidang-bidang tertentu. Mekanisme yang berkembang tidak selalu adaptif dalam masyarakat kontemporer. Sejumlah perilaku yang adaptif untuk nenek moyang kita di zaman prasejarah mungkin tidak berfungsi baik di zaman sekarang.

Mengkoneksikan Evolusi dengan Perkembangan Masa Hidup
Inti dari teori evolusioner adalah individu perlu hidup cukup lama untuk melakukan reproduksi dan mewariskan karakteristik-karakteristik yang dimilikinya (Raven,2011).  Menurut para ahli perkembangan masa hidup Paul Baltes (2000), keuntungan-keuntungan yang dihasilkan dari seleksi evolusi akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Tanpa bantuan seleksi evolusioner terhadap kondisi-kondisi yang tidak adaptif, kita tetap menderita sakit, merasa nyeri, dan lemah, karena usia dan kebutuhan budaya terhadap budaya akan meningkat.
Evaluasi Terhadap Psikologi Evolusioner
Menurut pandangan ini, tuntuntan evolusi menciptakan perubahan-perubahan dalam struktur biologis yang memungkinkan penggunaan alat-alat bantu sehingga nenek-moyang kita mampu memanipulasi lingkungannya, membangun kondisi-kondisi lingkungan baru. Selanjutnya, inovasi lingkungan menghasilkan tuntutan-tuntutan seleksi baru yang mengiring pada evolusi dari sistem biologis khusus untuk kesadaran, pikiran, dan bahasa.

2. Landasan Genetik Dari Perkembangan
a. Gen Kolaboratif
Inti sel manusia berisi kromosom (chromosome), yang merupakan struktur seperti benang yang tersusun dari deoxyribonucleic acid atau DNA adalah suatu molekul kompleks yang yang memiliki bentuk seperti heliks ganda (double helix), seperti tangga sepiral, yang mengandung informasi genetik. Gen (gene), unit informasi genetik, adalah suatu segmen pendek dari DNA. Gen mengarahkan sel untuk mereproduksi dirinya sendiri dan menghasilkan protein. Selanjutnya, protein adalah bangunan sel-sel yang juga merupakan regulator yang mengarahkan proses-proses tubuh.
Aktif atau tidaknya sebuah gen, untuk bekerja menghasilkan protein, juga ditentukan oleh kolaborasinya. Gen-gen (ekspresi genetik atau genetic expression) dipengaruhi oleh lingkungan (Gottlieb, 2007; Meaney, 2010 ).
b.    Gen dan Kromosom
Gen-gen ini tidak hanya berkolaborasi, gen-gen itu bersifat tahan lama. Terdapat tiga proses yang menjelaskan inti dari fakta ini : mitosis, meiosis, dan pembuahan.
Mitosis, Meiosis, dan Pembuahan
semua sel yang terdapat di dalam tubuh Anda, kecuali sperma dan telur, memiliki 46 kromosom yang tersusun atas 23 pasang. Sel-sel ini dihasilkan melalui sebuah proses yang disebut mitosis. Meskipun demikian, suatu jenis pembelahan sel yang berbeda – meiosis- membentuk telur dan sperma (gamet).
Selama pembuahan (fertilization), sebuah telur dan sebuah sperma bergabung untuk membentuk sebuah sel tunggal, yang disebut zigot. Masing-masing kromosom dalam setiap pasangan merupakan variasi bentuk dari gen yang sama dan berada di lokasi yang sama di semua kromosom. Perbedaan yang jelas antara kromosom-kromosom laki-laki dan kromosom-kromosom perempuan terletak dipasangan ke-23. Biasanya, pada perempuan, pasangan ini mengandung dua kromosom yang disebut kromosom X ; pada laki-laki, pasangan ke-23 tersebut terdiri dari kromosom X dan Y. Keberadaan kromosom Y itulah yang menetukan seseorang menjadi berjenis kelamin laki-laki.

Sumber-sumber Variabilitas
Proses genetik manusia menciptakan beberapa sumber variabilitas yang penting. Pertama, kromosom-kromosom yang ada di ovari ibu dan testes ayah. Sumber variabilitas kedua adalah berasal dari DNA (Brooker,2011). Apabila secara tidak sengaja terjadi kekeliruan dalam mesin seluler atau kerusakan akibat pengaruh lingkungan seperti radiasi, terbentuklah gen termutasi yang mengubah segmen-segmen DNA secara permanen (Lewis,2010).
Terdapat minat yang meningkat terhadap penelitian mengenai gen kerentanan (susceptibility gene), yaitu gen yang menjadikan individu lebih rentan terhadap penyakit tertentu atau akselerasi penuaan, dan gen ketahanan (longevity gene) yaitu gen yang menjadikan individu kurang rentan terhadap penyakit tyertentu dan lebih mungkin akan hingga usia lebih tua (Marques, Markus, & Morris, 2010: Tacutu, Budovsky, & Fraifeld, 2010). Bahkan, meski memiliki gen-gen yang identik, orang-orang tetap berbeda. Perbedaan antara genotip dan fenotip dapat membantu kita agar lebih memahami sumber variabilitas ini. Semua materi genetik seseorang akan membentuk genotip. Fenotip merupakan karakteristik-karakteristik yang dapat diamati. Fenotip terdiri dari karakteristik fisik, serta karakteristik psikologis.
c.         Prinsip-Prinsip Genetika
Terdapat sejumlah prinsip genetika yang telah ditemukan, beberapa di antaranya adalah prinsip gen dominan-resesif, gen terkait jenis kelamin, imprintiny genetis, dan karakteristik yang ditentukan secara poligenis.
Prinsip Gen Dominan-Resesif
Gen ini dominan, mengalahkan pengaruh potensial dari gen resesif. Prinsip gen dominan-resesif (dominant recessive gene principle)  hanya menerapkan pengaruhnya apabila kedua gen dari satu pasangan sama-sama resesif. Di dunia gen dominan-resesif, karakteristik berambut coklat, berpenglihatan jauh, dan berlesung pipi akan mengalahkan karakteristik berambut pirang, berpenglihatan dekat, dan berbintik-bintik diwajah.
Gen Terkait Jenis Kelamin
Sebagian besar gen yang mengalami mutasi adalah gen resesif. Kebanyakan individu mengidap penyakit terkait kromosom X adalah laki-laki. Perempuan yang memiliki satu salinan yang termodifikasi dari gen X disebut sebagai “pembawa” (carrier), dan mereka biasanya tidak menunjukan tanda apapun mengenai penyakit terkait kromosum X tersebut.
Imprinting Genetis
Terjadi apabila gen-gen memiliki ekpresi yang berbeda, bergantung pada apakah gen-gen itu diwariskan dari ibu atau dari ayah. Sebuah proses kimiawi akan “menonaktifkan” salah satu anggota dari pasangan gen.
Pewarisan Poligenis
Hanya sedikit karakteristik yang mencerminkan pengaruh dari sebuah gen atau satu pasangan gen saja. Istilah interaksi gen-gen semakin banyak dipakai untuk mendeskripsikan studi yang berfokus pada interdependensi antara dua atau lebih gen dalam mempengaruhi karakteristik, perilaku, penyakit, dan perkembangan (costanzo & kawan-kawan,2010).

d.   Abnormalitas Kromosom dan Abnormal

Nama
deskripsi
penanganan
Insiden
Sindrom Down
Kromosom ektra menyebabkan retardasi mental ringan hingga berat dan abnormalitas fisik.
Pembedahan, intervensi dini, stimulasi bayi, dan program pembelajaran khusus.
1 dari 1.900 kelahiran diusia 20
1 dari 300 kelahiran di usia 35
1 dari 30 kelahiran di usia 45
Sindrom Klinefelter (XXY)
Kromosom X ekstra menyebabkan abnormalitas fisik
Terapi hormon dapat berguna
1 dari 600 kelahiran bayi laki-laki
Sindrom kelemahan kromosom X
Abnormalitas dalam kromosom X dapat menyebabkan retardasi mental, kesulitan belajar, dan rentan memori yang pendek
Pendidikan khusus, terapi bicara dan bahasa
Lebih banyak pada laki-laki dibandingkan perempuan
Sindrom Turner (XO)
Kekurangan sebuah kromosom X pada perempuan dapat menyebabkan retardasi mental dan tidak berkembangnya seksualitas.
Terapi hormon di masa kanak-kanak dan pubertas 
1 dari 2.500 kelahiran bayi perempuan
Sindrom XYY
Kelebihan sebuah kromosom Y dapat menyebabkan tinggi tubuh di atas rata-rata
Tidak dibutuhkan penanganan khusus
1 dari 1.000 kelahiran bayi laki-laki

Tabel : Beberapa Abnormalitas Terkait Kromosom

Abnormalitas Kromosom
Sindrom Klinefelter adalah suatu kelainan genetik yang mengakibatkan laki-laki mengakibatkan memiliki kromosom X ekstra, yang menyebabkan susunan kromosomnya menjadi XXY alih-alih XY.Sindrom kelemahan kromosom X (fragile X syndrome) adalah suatu kelainan genetik yang mengakibatkan abnormalitas kromosom X, yang mengkerut dan sering kali pecah.Sindrom Turner adalah kelainan Kromosom yang menyebabkan perempuan kehilangan satu kromosom X, sehingga susunan kromosomnya menjadi XO alih-alih XX. Sindrom XYY adalah suatu kelainan genetik yang menyebabkan laki-laki memiliki satu kromosom Y ekstra (Isen & Baker, 2008).
Abnormalitas Terkait Gen
Fenilketonuria atau phenylketonuria (PKU)  adalah kelainan genetik yang menyebabkan individu tidak dapat secara sempurna menjalankan metabolisme fenilalanin, satu jenis asam amino. Anemia sel sabit (sickle-cell anemia) merupakan suatu kelainan genetik yang mempengaruhi sel darah merah. Kelainan-kelainan lain yang disebabkan oleh abnormalitas genetik adalah cystic fibrosis, diabetes, hemofilia, penyakit Huntington’s, spina bifida, dan penyakit tay-sachs.
menangani Abnormalitas Genetik
Mengidentifikasi cacat gen akan memungkinkan dokter untuk memprediksi resiko seseorang, menyarankan praktik-prakti sehat,  dan memberikan resep untuk obat-obat yang paling aman dan efektif (Wider, Foroud, & Wszolek,2010).
3. Tantangan dan Pilihan Reproduksi
a. Tes Diagnostik Prakelahiran
Terdapat sejumlah tes yang dapat memperlihatkan apakah janin berkembang secara norma, seperti ultrasound sonography,MRI janin, Chorionic villus sampling, amniocentesis, tes darah ibu(maternal blood screening) dan diagnosis prakelahiran noninvasif.
b.    Infertilitas dan Teknologi Reproduksi
Infertilitas merupakan ketidakmampu memiliki anak setelah 12 bulan melakukan hubungan seks tanpa kontrasepsi, yang disebabkan pihak perempuan tidak mengalami ovulasi (melepaskan telur untuk dibuahi), menghasilkan sel telur yang abnormal, memiliki saluran rahim yang terhambat, atau memiliki penyakit yang mencegah penanaman diri embrio kedinding rahimnya. Pihak laki-laki mungkin menghasilkan sperma dalam jumlah yang terlalu sedikit, spermanya kurang memiliki motilita (kemampuan untuk bergerak secara adekuat), atau jalan keluarnya terhambat.
c.    Adopsi
Adopsi adalah proses sosial dan sah untuk membentuk sebuah relasi orang tua anak di antara orang-orang yang tidak memiliki hubungan biologis. Berikut ini adalah beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh orang tua ketika anak-anak yang diadopsinya mencapai berbagai tahap perkembangan : masa bayi, masa kanak-kanak awal,masa kanak-kanak pertengahan dan akhir, dan masa remaja.
Akibat untuk anak-anak yang diadopsi secara umum, anak-anak dan remaja yang diadopsi cendrung lebih mengalami masalah psikologi dan masalah terkait dengan sekolah dibandingkan anak-anak kandung, mempunyai karakteristik-karakteristik positif pada remaja adopsi.

4. Interaksi Herediter dan Lingkungan
a. Genetika Perilaku
Genetika perilaku adalah bidang ilmu pengetahuan yang berusaha menemukan pengatuh herediter dan lingkungan terhadap perbedaan sifat dan perkembangan yang terjadi secara individual.
b.    Korelasi Hereditas-Lingkungan
Sandra Scarr (1993), seorang ahli genetik perilaku, mendeskripsikan tiga kemungkinan korelasi antara hereditas dan lingkungan : korelasi genotip-lingkungan pasif (passive genotype-enviroment correlation) terjadi ketika orang tua kandung, yang memiliki hubungan genetik dengan anak, memberikan lingkungan pengasuh tertentu unuk anaknya. korelasi genotip-lingkungan-evokatif (evocative genotype-enviroment correlation) terjadi ketika karakteristik anak membangkitkan jenis lingkungan tertentu. korelasi genotip-lingkungan aktif ( memasuki relung ) (active (niche picking ) genotype-enviroment correlation) terjadi ketika anak-anak mencari atau memilih lingkungan yang mereka rasakan sesuai dan menggugah minat.
c.    Lingkungan Yang Dialamai Bersama Dan Yang Tidak Dialami Bersama
Pengalaman lingkungan yang dialami bersama (shared enviroment experiences ) adalah pengalaman bersama di suatu lingkungan diantara kakak beradik, antara lain kepribadiaan dan orientasi intelektual orang tua, status sosial ekonomi orang tua, dan lingkungan rumah. Sebaliknya, pengalaman lingkungan yang tidak dialami bersama (nonshared enviroment experiences ) adalah pengalaman anak yang unik, di dalam atau pun di luar keluarga, yang tidak dibagi di antara kakak beradik.
d.   Pandangan epigenetik dan interaksi gen x lingkungan (g x l)
Pandangan epigenetik konsep kolaborasi gen, Gilbert Gottlieb (2007) perkembangan adalah hasil dari pengaruh timbal balik yang terus menerusantara faktor hereditas dan faktor lingkungan.
Interaksi Gen X Lingkungan (G X L)memengaruhi perkembangan yang mencakup  interaksi individu yang mengalami peningkatan risiko untuk mengembangkan depresi menghadapi kehidupan yang menimbulkan stres. Dalam bidang farmakogenetik yaitu mengenai interaksi gen-lingkungan yang melibatkan genotip individu dan penggunaan obat (faktor lingkungan). Tujuan dari farmakogenesis  adalah untuk menemukan obat tertentu lebih aman atau lebih berbahaya untuk digunakan genotip individu dapat diketahui.
Kesimpulan Mengenai Interaksi Hereditas Lingkungan
Tidak semua dapat dikatakan bahwa sekian persen bawaan dan sekian persen pengalaman membentuk karakter seseorang. Tidak pula ekspresi genetik terjadi sekaligus, dimasa pembuahan dapat mempengaruhi kehidupan. Pengaruh lingkungan dari hal yang melalui pengasuhan (dari orang tua, dinamika keluarga, sekolah, dan kualitas lingkungan rumah) pengaruh biologis (virus, komplikasi kelahiran, dan peristiwa biologis dalam sel). Genetik dan pengalaman lingkungan mempengaruhi pengembangan diri.
B. PERKEMBANGAN PRAKELAHIRAN DAN KELAHIRAN
1. Rangkaian Perkembangan Prakelahiran
Perkembangan dimasa prakelahiran dibagi kedalam tiga periode: germinal (dari pembuahan sampaii 10 hingga 14 hari sesudahnya ), yang berakhir ketika zigot (telur yang sudah dibuahi) melekat ke ke dinding rahim : embrionis (dua hingga delapan minggu setelah pembuahan), yaitu ketika embrio mengalami diferensiasi menjadi tiga lapisan, berkembangnya sistem pendukung kehidupan, dan terbentuknya sistem organ (organogenesis); serta fetal (dua minggu setelah pembuhan hingga bulan kesembilan atau ketika bayi lahir), yaitu ketika sistem organ telah matang hingga ke kondisi dapat bertahan hidup di luar ibu.
a.       Teratologi dan bahaya terhadap perkembangan prakerin
Tertologi adalah bidang yang menyelidiki penyebab kelainan kongenital (cacat lahir). Teratogen adalah semua unsur yang berpotensi mengakibatkan kelainan kelahiran atau menyebabkan perubahan kognitif dan perilaku secara negatif. Dosis, waktu paparan, dan kerentanan genetik akan mempengaruhi tingkat dan jenis kelainan yang terjadi pada bayi baru lahir.

b.      Perawatan Prakelahiran
Perawatan prak kelahiran memiliki variasi yang sangat luas, namun biasanya melibatkan layanan perawatan medis yang disertai dengan jadwal kunjungan yang pasti. Perkembangan Prakelahiran yang Normal. Penting untuk diingat, bahwa meski ada hal buruk yang dapat dan memang terjadi selama kehamilan dan perkembangan prakelahiran berjalan mulus.
2. Kelahiran
a. proses kelahiran
Proses kelahiran berlangsung dalam tiga tahap. Tahap pertama dapat berlangsung kira-kira 12 hingga 24 jam, untuk perempuan yang baru memiliki anak pertama, sehingga merupakan tahap yang berlangsung paling lama. Di akhir tahap pertama leher rahim terbuka hingga sekitar 10 sentimeter (4 inci). Tahap kedua kelahiran dimulai ketika kepala bayi mulai bergerak melalui leher rahim dan berakhir ketika bayi telah benar-benar keluar dari tubuh ibu. Tahap ketiga mencakup pengeluaran plasenta setelah kelahiran. Strategi-strategi melahirkan meliputi lingkungan kelahiran anak dan pihak penyerta. Metode melahirkan meliputi kelahiran dengan pengobatan, kelahiran alamiah, dan kelahiran yang dipersiapkan, serta bedah caesar.

b.      Pemeriksaan terhadap Bayi Baru Lahir
Pemeriksaan terhadap bayi dapat dilakukan dengan sebaga berikut :
-          Skala Apgar adalah suatu metode yang banyak digunakan untuk mengukur kesehatan bayi yang baru lahir dalam 1 dan 5 menit setelah kelahiran.
-          Brazelton Neonatal Behavioral Assessment Scale (NBAS) diberikan dalam 24 hingga 36 jam setelah kelahiran. Skala ini juga digunakan sebagai indeks sensitif untuk mengukur kompetensi neurologis dalam beberapa minggu atau beberapa bulan setelah kelahiran dan digunakan di berbagai studi mengenai perkembangan bayi.
-          Neonatal Intensive Care Unit Network Neurobehavioral Scale (NNNS), memberikan analisis yang lebih komprehensif mengenai perilaku, respons neurologis, dan stree, serta kapasitas regulatori dari bayi yang baru lahir (Brazelton,2004); Lester, Tronick, & Brazelton, 2004 ).
     
c.       Bayi Lahir Dengan Berat Badan Rendah dan Bayi Lahir Prematur
-          Bayi lahir dengan berat badan rendah memiliki berat kurang dari 5,5 dan dapat lahir prematur (tiga minggu atau lebih sebelum waktunya) atau lahir berukuran kecil menurut tanggal (disebut juga berukuran kecil menurut usia gestasional, yaitu bayi-bayi yang berat lahirnya dibawah normal menurut usia kehamilan ibunya).

3. Periode Pascakelahiran
a.      Penyesuaian Fisik
Periode pascakelahiran adalah periode setelah kelahiran anak atau proses melahirkan. Periode ini adalah masa penyesuaian diri perempuan, secara fisik dan juga psikologi, terhadap proses membesarkan anak.
b.      Penyesuaian Emosional dan Psikologis
Fluktuasi emosi merupakan kondisi yang biasa dialami oleh para ibu selama periode pasca melahirkan. Depresi pascamelahirkan menjadi karakteristik untuk perempuan yang memiliki perasaan kuat berupa sedih, cemas, atau putus asa sehingga mereka mengalami kesulitan menangani tugas sehari-hari selama periode pasca melahirkan.
c.      Ikatan
Ikatan adalah pembentukan hubungan yang erat, khususnya ikatan fisik antara orang tua dan bayi baru lahir. Ikatan dini tidak terbukti penting terhadap perkembangan bayi untuk menjadi orang yang kompeten.



BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa terjadi evolusi pada manusia seperti adanya seleksi alam dan perilaku adaptif yang merupakan proses evolusi yang menetapkan bahwa spesies – spesies yang paling dapat menyesuaikan diri akan menjadi spesies yang dapat bertahan hidup dan bereproduksi, adanya Psikologi evolusioner yang merupakan  salah satu cabang baru dalam psikologi yang mencoba mempelajari potensi peran dari faktor genetis dalam beragam aspek dari perilaku manusia serta adanya landasan genetik dari perkembangan.
Terjadinya perkembangan prakelahiran dan kelahiran yang terdiri dari rangkaian perkembangan prakelahiran, Teratologi dan bahaya terhadap perkembangan prakelahiran,perawatan prakelahiran,tiga periode pascakelahiran, serta adanya  perawatan – perawatan pada masa prakelahiran dan kelahiran.







DAFTAR PUSTAKA

Santrock, John W. 2012. Life Span Development. Erlangga : Jakarta

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Komentar anda marupakan motivasi buat penulis...