Saturday, 8 November 2014

MAKALAHINDIVIDU BERKEBUTUHAN KHUSUS

MAKALAHINDIVIDU BERKEBUTUHAN KHUSUS

Dosen Pengampu :
Girivirya s.,M.Pd.,CHT-OHI
loGO SRIWIJAYA
Oleh :
Darsani
Melani Metta Dewi
SEKOLAH TINGGI AGAMA BUDDHA NEGERI SRIWIJAYA
TANGERANG-BANTEN

2014
KATA PENGANTAR
Namo Buddhaya,
Kami bersyukur kepada para Buddha, Bodhisatva, dan Mahasatva atas cinta kasih yang di berikan, kita bisa manyelesaikan makalah ini. Kami berterima kasih kepada orang-orang yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Kami tidak merasa terbebani dengan tugas makalah, tetapi kami berterima kasih kepada para dosen yang telah membimbing untuk terus berusaha dan maju. Dengan motivasi  yang kuat tersusunlah makalah ini.
Makalah kami dibuat dengan penuh perhatian dan kerja sama. Para anggota telah memberikan seluruh ide dan hasil pencarian yang telah diberikan dalam tulisan ini. Kekompakan dalam mengerjakan harus tetap harmonis.
Makalah yang kami buat akan mengupas tentang individu berkebutuhan khusus. Semoga makalah yang kami buat ini bisa bermenfaat bagi kita semua,  tak ada gading yang tak retak, kami harapkan kritik dan saran dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini kedepannya.
Tangerang, Februari 2013
Penulis 


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................. .... i
DAFTAR ISI ................................................................................................. .... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2.Rumusan Masalah ......................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1.Hakikat Individu Berkebutuhan Khhusus..................................................
2.2.Individu Berkesulitan Belajar.....................................................................
2.3.Retardasi Mental........................................................................................
2.4.Gifted Dan Talented..................................................................................
2.5.Kelainan Perilaku........................................................................................
2.6.Autisme......................................................................................................
2.7.Kelainan Visual..........................................................................................
2.8.Kelainan Pendengaran................................................................................
2.9. Kelainan Fisik Dan Kesehatan..................................................................
3.0.Model Pendidikan Bagi Individu Berkebutuhan Khusus..........................
BAB III PENUTUP
3.1.Kesimpulan ................................................................................................     
3.2.Saran ..........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Anak-anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang memiliki keunikan tersendiri dalam jenis dan karakteristiknya, yang membedakan mereka dari anak- anak normal pada umumnya. Keadaan inilah yang menuntut pemahaman terhadap hakikat anak berkebutuhan khusus. Keragaman anak berkebutuhan khusus terkadang menyulitkan guru dalam upaya mengenali jenis dan pemberian layanan pendidikan yang sesuai. Namun apabila guru telah memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai hakikat anak berkebutuhan khusus,maka mereka akan dapat memenuhi kebutuhan anak yang sesuai.
Membicarakan anak-anak berkebutuhan khusus, sesungguhnya banyak sekali variasi dan derajat kelainan. Ini mencakup anak-anak yang mengalami kelainan fisik, mental-intelektual, sosial-emosional, maupun masalah akademik. Kita ambil contoh anak-anak yang mengalami kelainan fisik saja ada tunanetra, tunarungu, dan tunadaksa (cacat tubuh) dengan berbagai derajat kelaianannya. Ini adalah yang secara nyata dapat dengan mudah dikenali. Keadaan seperti ini sudah tentu harus dipahami oleh seorang guru, karena merekalah yang secara langsung memberikan pelayanan pendidikan di sekolah kepada semua anak didiknya.
Namun keragaman yang ada pada anak-anak tersebut belum tentu dipahami semua guru di sekolah. Oleh karena itu dalam makalah ini, penulis ingin membahas tentang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) melalui pendekatan institusional.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah dalam latar belakang, maka penulis dalam hal ini akan merumuskan permasalahan dalam beberapa pertanyaan.
1. Apa pengertian dan konsep anak berkebutuhan khusus?
2. Apa saja klasifikasi dan model layanan bagi anak berkebutuhan khusus ?
3. Apa faktor yang dapat mempengaruhi anak sehingga menjadi berkebutuhan khusus ?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. HAKIKAT INDIVIDU BERKEBUTUHAN KHUSUS
Pada saat ini dunia pendidikan mempunyai kewajiban untuk melayani berbagai jenis individu berkebutuhhan khusus. Pada waktu sebelumnya, individu yang berkebutuhan khusus di beri lebel anak luar biasa dan anak yang termasuk kedalam kelompok anak luar biasa langsung dididik di sekolah luar biasa. Seperti sekolah luar biasa penyandang tuna wicara, tuna grahita dan tuna netra. Untuk individu yang memiliki kemampuan khusus dengan IQ tinggi, seperti anak gifted, di Indonesia di didik di seolah umum, di dalam kelas akselerasi.
Individu berkebutuhan khusus adalah individu yang memiliki cici-ciri khusus di dalam perkembanagannya yang berbeda dari perkembangan secara normal. Penyimpangan perkembangan tersebut dapat berbentuk penyimpangan intellgensi, yaitu intellgensi di bawah normal yang di kenal dengan individu penyandang retardasi mental, atau intelegensi di atas normal yang di kenal individu superior dan gifted. Penyimpangan perilaku seperti attention deficit/ hyperactivity disorder atau ADHD dan autisme. Penyimpangan dalam perkembangan visual, seperti individu penyandang kebutaan atau tuna netra penglihatan yang sangat rabun. Penyimpangan dalam perkembangan auditory, seperti individu penyandang tuna wicara. Penyimpangan dalam perkembangan fisik, seperti penyandang tuna daksa. Di samping itu, individu yang seharusnya tidak bermasalah dalam belajar, akan tetapi, mengalami masalah belajar, yang di sebut individu berkesulitan belajar.
2.2. INDIVIDU BERKESULITAN BELAJAR
2.2.1 Hakikat  Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar atau learning disorder yang biasa juga disebut dengan istilah learning disorter atau learning difficully adalah suatu kelainan yang membuat individu yang bersangkutan sulit untuk melakukan kegiatan belajar secara efektif. Factor yang menjadi penyebab kesulitan belajar tidak mudah untuk ditetapkan karena factor tersebut bersifat kompleks.

2.2.2 Definisi Kesulitan Belajar
Bahwa salah satu penyebab dari kesulitan belajar adlah karena disfungsi otak yang terjadi secara minimal atau minimal brain dysfunction. Oleh sebab itu, otak marupakan perangkat yang penting dan berpengaruh terhadap keberhasilan manusia dalam melakukan berbagai kegiatannya, termasuk kegiatan belajar. Markam & Yani (1978 : 8-3) dan Enchanted learning (www.enchantedlearning.com,2009), secara rinci menguraikan tentang otak dan fungsi otak dalam kegiatn hidup  manusia seperti berikut ini. Cerebellum atau otak kecil, dan brain stem atau batang otak. Otak terbagi dalam berbagai area yang mengontrol fungsi-fungsi tertentu yang berhubungan dengan kegiatan hidup manusia.
2.2.3 Karakteristik Individu Berkesulitan Belajar
Reid (1986 : 12) mengemukakan pendapatnya bahwa kesulitan belajar biasanya tidak dapat diidentifikasikan sampai anak mengalami kegagalan dalam menyelasaikan tugas tugas akademik yang harus dilakukanya. Selanjutnya ia mengatakan bahwa siswa yang teridentifiksi mengalami kesulitan belajar memiliki cirri-ciri antara lain seperti dibawah ini.
·    Memiliki tingkat inteligensi (IQ) normll bahkan diatas normal atau sedikit di bawah normal berdasarkan tes IQ. Namun siswa yang memiliki IQ sedikit di bawah normal bukan karena IQ-nya yang di bawah normal, akan tetapi,  kesulitan belajar yang di alaminya menyebabkan ia mengalami kesulitan dalam menjalani tes IQ  sehingga memperoleh score yang rendah.
·    Mengalami kesulitan dalam beberapa mata pelajaran akan tetapi menun jukan nilai yang baik pada mata pelajaran yang lain.
·    Kesulitan belajar yang di alami siswa yang berkesulitan belajar  berpengaruh pada keberhasilan belajar yang di capainya sehingga siswa tersebut dapat di kategorekan ke dalam lower achiever (siswa yang pencapaian hasil belajar di bawah potensi yang di milikinya).
2.2.4 Kesulitan Belajar dan Kesejahteraan Sosial Ekonomi
Kesulitan belajar yang tidak mendapatkan intervensi secara tepat akan menimbulkan berbagai kerugian social dan ekonomi bagi individu tersebut. Seperti  penelitian yang di lakukan di US selama 36 bulan oleh Taylor & Barush (2004:175-183) terhadap individu yang berusia 34 tahun menunjukan bahwa 22,9 %  penerima tunjangan kemiskinan adalah individu yang berkesulitan belajar, 32% tidak tamat sekolah lanjutan (SMP dan SMA). Selanjutnya penerima tunjangan kemiskinan yang terlalu lama, tidak sanggup menghidupi keluarga dan pekerjaan yang mereka miliki. Hal ini di perkuat oleh penelitian yang di lakukan oleh F. Margai & N. Henry (2003:13) menunjukan bahwa jumlah individu yang berkesulitan belajar semakin meningkat.
2.2.5 Kesulitan Belajar dan Gender
Penelitian yang di lakukan oleh Counthino dan Oswald (2005:15-17) menunjukan bahwa laki-laki lebih banyak di temukan di sekolah luar biasa dari pada anak perempuan. Selanjutnya, kedua peneliti tersebut mengungkapkan bahwa 73% dari individu yang mengalami kesulitan belajar adalah laki-laki.penelitiaan ini mengoreksi hasil penelitian yang di lakukan oleh Bandian (1999:138-138) terhadap lebih 400 anak laki-laki dan perempuan menunjukan bahwa tidak ada pengaruh jender terhadap kesulitan belajar.
Suatu penelitiaan yang di ikuti oleh 126 responden yang berusia 12-18 tahun, yang secara sukarela bersedia di interview dengan 74 pertanyaan yang berkaitan dengan pendidikan khusus, kenakalan remaja, perkembangan litaratur anak dan remaja. Kemudian pertanyaan tersebut di klasifikasikan ke dalam lingkungan sekolah, lingkungan rumah dan lingkungan pribadi.berdasarkan hasil interview di peroleh data bahwa anak yang terlibat kenakalan remaja dalam tarap yang berat sebaiknya di sekolahkan di sekolahluar biasa. Penelitian ini di perkuat oleh Zabel dan Nigro (1999:2-40) menunjukan bahwa 78,6% anak perempuan yang menunjukan perilaku distruktif karena berkesulitan belajar di sekolahkan di sekolah luar biasa.
2.2.6 Kesulitan Belajar dan Kriminalitas
Hasil penelitian yang di lakukan oleh wong (2002) terhadap anak penghuni penjara menunjukan bahwa mereka adalah sekelompok anak yang mengalami kesulitan belajar. Temuan penelitian ini juga memperkuat penelitian zabel dan nigro (1999:2-40).
2.3 RETARDASI MENTAL
2.3.1 Hakikat Retardasi Mental
Retardasi mental di kenal dengan disabilitas inteligensia atau di Indonesia di kenal dengan tuna grahita adalah individu yang mengalami keterbatasan mental.kondisi ini menyebabkan individu yang bersangkutan mengalami hambatan dalam belajar, melakukan berbagai fungsi dalam kehidupannya serta dalam penyesuaian diri.
2.3.2 Klasifikasi Retardasi Mental
Dsisabilitas inteligensia atau retardasi mental dapat dikelompokan kedalam lima kelompok, seperti yang di gambarkan dalam diagram berikut ini (Kirk & Gallagher, 1986, DSM_IV, 2000, Heward & Orlansky,1984)
Klasifikasi Retardasi Mental
Kelompok
IQ
Istilah Pendidikan
Kemampuan Pengembangan Diri
Sebelu-mnya
Saat ini

Stanford Binet

wechsker



Dapat mencapai kemampuan anak usia
 7-12 tahun
dapat  menguasai kemampuan akademik setingkat kelas 4 sekolah dasar
dapat mennolong diri
moron
Mild
52-68
55-75
Educable (mampu didik)





sendiri dan memiliki keterampilan adaptasi social
dapat melakukan pekerjaan yang sederhana (unskilled work)
Imbe-cile
Mode-rate
36-51
40-54
Trainable (mampu latih)
dapat mencapai kemampuan anak usia 2-7 tahun
dapat menguasai keterampilan akademik dasar secara terbatas
dapat menolong diri sendiri dan memiliki keterampilan social yang terbatas
dapat melakukan pekerjaan sederhana dan rutin dengan supervise penuh
Idiot
Severe
20-35
25-39
Mampu rawat
Dapat mencapai kemampuan anak berusia 2 tahun
Selalu membutuhkan bantuan orang lain dalam segala bidang kebutuhan hidup

Profound
19 ke bawah
24 ke bawah
Mampu rawat
Tidak da mencapai kemampuan anak usia 2 tahun
Selalu membutuhkan bantuan orang lain dalam segala bidang kebutuhan hidup

Sumber : Diadaptasi oleh penulis dari berbagai sumber relevan.


2.3.4 Faktor Penyebab Redartasi Mental
Fatktor-faktor penyebab redartasi mental menurut Kick & Gallagher, 1986:125, Heward & Orlansky, 1984:87 di antaranya sebagai berikut:
·   Genetis Disorder atau kelainan genetik, tetapi kelainan itu sangat jarang kecuali berkaitan dengan down syndrome dan phenylketorunia
·   Down Syndrome marupakan kelainan bawaan yang secara mudah dapat di ketahui dari ciri ciri fisik yang tampak dari individu penyandang kelainan itu.
·   Phenylketonuria adalah kondisi yang di sebabkan oleh genetic irregularities, yang dapat di sebabkan oleh kerusakan salah satu gen yang menyebabkan mental retardasi berat.
·   Toxic Agent dan Infectious Diseases  atau zat pembawa racun dan penyakit infeksi yang di alami ibu pada waktu mengandung sehingga menganggu keseimbangan  bio kimia dalam kandungan ibu hamil, seperti virus dan bakteri.
·   Fetal Alcohol Syndrome  adalah kondisi yang di alami bayi di dalam kandungan dari ibu yang pencandu alcohol.
·   Lead Poisoning  atau keracunan limbah kimia.
·   Infectious Diseases penyakit yang di sebabkan oleh virus dan infeksi seperti syphilis, rubella, encephalitis, meningitis dapat menyebabkan reardsi mental.
·   Polygenic Inheritance. Karakteristik manusia seperti warna kulit, warna rambut, tinggi badan dan bentuk tubuh  serta potensi intelegensi  adalah hasil interaksi dari sejumlah besar gen yang beroperasi secara serantak. 

BAB III
 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan untuk menjawab rumusan masalah dapat ditarik kesimpulan, bahwa Berkebutuhan khusus merupakan istilah yang digunakan untuk menyebutkan anak-anak luar biasa atau mengalami kelainan dalam konteks pendidikan. Ada perbedaan yang signifikan pada penggunaan istilah berkebutuhan khusus dengan luar biasa atau berkelainan. Berkebutuhan khusus lebih memandang pada kebutuhan anak untuk mencapai prestasi dan mengembangkan kemampuannya secara optimal, sedang pada luar biasa atau berkelainan adalah kondisi atau keadaan anak yang memerlukan perlakuankhusus. Pengelompokkan anak berkebutuhan khusus hanya diperlukan untuk kebutuhanpenanganan anak secara klasikal, sedangkan untuk kepentingan yang bersifat sosial anakberkebutuhan khusus tidak perlu dikelompokkan. Anak berkebuthan khusus dapatdikelompokkan menjadi Kelainan Mental (Mental Tinggi, Mental Rendah, BerkesulitanBelajar Spesifik). Kelainan Fisik (Kelainan Tubuh, Kelainan Indera Penglihatan, KelainanIndera Pendengaran, Kelainan Wicara). Kelainan Emosi (Gangguan Perilaku, GangguanKonsentrasi (ADD/Attention Deficit Disorder), Anak Hiperactive (ADHD/Attention Deficitwith Hiperactivity Disorder). Bentuk-bentuk layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dapatdikelompokkan menjadi 2 kelompok besar, yaitu : bentuk layanan pendidikan segregasi danbentuk layanan pendidikan terpadu/integrasi Terdapat tiga factor yang dapat diidentifikasi tentang sebab musabab timbulnyakebutuhan khusus pada seorang anak yaitu : (1) Faktor internal pada diri anak. (2) Faktoreksternal dari lingkunan, dan (3) Kombinasi dari factor internal dan eksternal (kombinasi). 10



DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Association. ”Mental Retardation.” In Diagnosis and Statistical Manula of Mental Disorders, 4th ed., text revision.
       Washington, DC: American Psychiatric Press, Inc., 2000.
American Association on Mental Retardation (AAMR). 444 North Capitol street,
       NW, Washington, D.C. 2000. (800) 423-3688.
       http://www.aamr.org
Armstrong, F. Spaced Out: Policy, Difference and the Challenge of Inclusive Education, Netherlands: Kluwer. (2003)
Bloomquist. L Michael. Skills Training for children with Behavior Problems. New York : The Guilford Press
Ozikas, Vasilis, MD, et al.” Gabapentin for Behavioral Dyscontrol with Mental Retardation.” American Journal Psychiatry June 2001:965-966.
Booth, T. Storeisof exclution: natural and unnatural selection , in E. Blyth and J, Milner (eds), Exclution from school: Inter-Professional Issues for Policy and Practice, London: Routledge. 1996
Barton, L ‘Inclusive Education: romantic, subversive or realistic?’ International Journal of Inclusive Education. 1997. 1,3 p.231-42.
Clough, P. and Corbett, J. Theories of Inclusive Education-A Student’ Guide. London : Paul Chapman. 2000
Heward L. William & Orlansky D Michael. Exceptional Children. Commbus: Charles E Merrill Publishing Company. 1984
Haris L. Sandra (ed). Self Help Skills for People with Autisme: A Systematics Teaching Approach. USA : Woodbine House. 2007
Haris L. Sandra (ed). Visual Support for People with Autisme: A Guide for Parent & professional. USA: woodbine House. 2007
Jaffi, Jerome, M.D. “Mental Retardation.” In Comprehensive Textbook of Psychiatry, edited by Benjamin J. Sadock, MD, and Virginia A. Sadock, MD. 7th edition. Philadelphia, PA: Lippincott Williams and Wilkins, 2000
Julian, Jhon N. “Mental Retardation.” In Psychiatry Update and Board Preparation, edited by Thomas A. Stren, MD, and Jhon B, Herman, MD. New York: Mcgraw Hill, 2000


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Komentar anda marupakan motivasi buat penulis...