Thursday, 15 January 2015

Pembelajaran untuk Slower Learner

Pembelajaran untuk Slower Learner

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Anak-anak memiliki tingkat yang berbeda–beda dalam belajar. Salah jika menempatkan mereka semua pada satu anggapan  negatif karena mereka memiliki tingkat pemahaman yang berbeda dengan anak lain, baik akademis atau yang lainnya. Penting untuk dicatat bahwa lambat belajar tidak dapat dikategorikan sebagai orang–orang khusus tetapi mereka hanya memiliki masalah belajar. Karena pada dasarnya slow learner adalah anak dengan tingkat penguasaan materi yang rendah, padahal materi tersebut merupakan prasyarat bagi kelanjutan di pelajaran selanjutnya, sehingga mereka sering harus mengulang (Burton, dalam Sudrajat, 2008). Meskipun mereka ingin mempelajari hal hal yang baru tapi harus menghadapi kesulitan dalam belajar dan memahami konsep- konsep baru dengan cepat.

Anak lamban belajar (slow learner) merupakan anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal, tetapi tidak termasuk anak tunagrahita (biasanya memiliki IQ sekitar 80 – 85). Dalam beberapa hal anak ini mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir, merespon rangsangan dan kemampuan untuk beradaptasi, tetapi lebih baik dibanding dengan tunagrahita. Mereka membutuhkan waktu belajar lebih lama dibanding dengan sebayanya. Kecerdasan mereka memang di bawah rata-rata, tetapi mereka bukan anak yang tidak mampu, tetapi mereka butuh perjuangan yang keras untuk menguasai apa yang diminta di kelas reguler. Anak yang demikian akan mengalami hambatan belajar, sehingga prestasi belajarnya biasanya juga di bawah prestasi belajar anak-anak normal lainnya, yang sebaya dengannya. Mereka dapat menyelesaikan SMP, tetapi mengalami kesulitan di SMA.

Mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non-akademik, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Slower learner sulit untuk diidentifikasi karena mereka tidak berbeda dalam penampilan luar dan dapat berfungsi secara normal pada sebagian besar situasi. Mereka memiliki fisik yang normal, memiliki memori yang memadai, dan memiliki akal sehat. Hal-hal normal inilah yang sering membingungkan para orangtua, mengapa anak mereka menjadi slow-learner. Yang perlu diluruskan adalah walaupun slowerlearner memiliki kualitas-kualitas tersebut, mereka tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas sekolah sesuai dengan yang diperlukan karena keterbatasan IQ mereka.

Menariknya terkadang anak anak disebagian besar kegiatan lain kecuali  mambaca, menulis, atau matematika. Ada banyak factor yang dapat menyebabkan anak menjadi seperti itu. Sehingga diperlukan pula banyak strategi penanganan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

1.2  Rumusan masalah

Bagaimana pengertian dari slower learner dan cara mengidentifikasinya?
Bagaiman cara memahami latar belakang slower learner?
Bagaimana ciri – ciri slower learner?
Apa saja factor yang menyebabkan anak lambat belajar?
Bagaimana metode yang dapat dilakukan untuk menangani slower learner?
1.3  Tujuan

Mengetahui pengertian dari slower learner dan cara mengidentifikasinya.
Mengetahui cara memahami latar belakang slower learner.
Memahami ciri – ciri slower learner.
Mengetahui factor yang menyebabkan anak lambat belajar.
Memahami metode yang dapat dilakukan untuk menangani slower learner.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian dan Identifikasi Anak Lambat Belajar

      A.    Pengertian

Individu yang lambat belajar pada hakikatnya merupakan individu yang memiliki intelegensi  di bawah normal. Fransley dan R.Gulliford mendefinisikan murid lambat belajar karena murid-murid kemampuan atau kondisi-kondisi yang lain yang terbatas yang mengakibatkan keterlambatan pendidikan, memerlukan bentuk pendidikan kusus ,keseluruhan  atau sebagian bersama dengan yang diberikan pada sekolah-sekolah. Teman berkait dengan anak lambat belajar membuat suatu klasifikasi bahwa IQ anak lambat belajar berkisar 70 sampai 90. Murid seperti ini tidak di golongkan sebagai murid yang memiliki keterlambatan mental, karena dia dapat mencapai hsil belajar yang cukup memadai kendatipun pada tingkat yang lebih rendah dari pada murid-murid yang memiliki kemampuan normal atau sedang.

Murid lambat belajar bisa mengikuti pembelajaran sebagaimana kelas reguler biasa (tanpa harus memerlukan adanya peralatan yang khusus), hanya program belajarnya mungkin agak sedikit disesuaikan  , terutama berkaitan dengan metode dan rentang waktunya. Masalah pokok yang dialami murid-murid yang lambat belajar adalah keterlambatan dalam belajar akibat dari keterbatasan kemampuan yang dimilikinya. Penyesuaian diri menjadi masalah akibat keadaan emosi yang kurang terkendali sehingga sering terjadi perselisihan dengan teman-temannya.

Anak lamban belajar adalah anak yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam perkembangan mental (fungsi intelektual di bawah teman-teman seusianya) disertai ketidakmampuan/kekurangmampuan untuk belajar dan untuk menyesuaikan diri sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Masalah-masalah yang mungkin bisa jadi penyebab anak lamban belajar antara lain karena masalah konsentrasi, daya ingat yang lemah, kognisi, serta masalah sosial dan emosional.

B.     Kebutuhan dan Karakteristik Anak Lambat Belajar

Analisis kebutuhan serta permasalahan perkembangan yang mungkin muncul sebagai upaya perkembangan model program pendidikan yang kondusif perlu dilakukan dengan bagi yang memahami berbagai aspek yang ada pada individu (siswa), yaitu :

1.    Perkembangan fisik

2.    Perkembangan kognitif

3.    Perkembangan emosi

4.    Perkembangan sosial

Jika dilihat dari karakteristis anak yang lamban belajar yaitu:

Rata-rata prestasi belajarnya kurang dari 6,
Dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibandingkan teman-teman seusianya,
Daya tangkap terhadap pelajaran lambat,
Pernah tidak naik kelas.
C.     Identifikasi Anak Lambat Belajar

Siswa lambat belajar perlu diidentifikasikan secara lebih mendalam dan menyeluruh. Identifikasi secara mendalam dan menyeluruh akan memungkinkan guru di dalam menyusun program bantuan dan layanan bimbingan secara tepat sehingga mencapai hasil yang optimal.

Identifikasi siswa lambat belajar antara lain meliputi :

Penilaian pendidikan :
a. Prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran-pelajaran dasar dan kesulitan-kesulitan yang dialami.

b. Tingkat perkembangan bahasa dan pembicaraan siswa.

c. Sikap sosial dan emosial siswa di dalam dan di luar sekolah.

d. Minat dan sikap terhadap sekolah.

e. Riwayat pendidikan sebelumnya meliputi perubahan-perubahan sekolah dan kehadiran.

f.  Minat dan latar belakang pengetahuan siswa.

Pemeriksaan kesehatan yang meliputi keadaan kesehatan pada umumnya penyakit yang pernah di derita,penglihatan, pendengaran, hidung dan sistem syaraf.
Pemeriksaan psikologi yang meliputi kualitas berfikir,kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan intelektual, sikap serta sifat-sifat pribadi lainnya.
Pengungkapan taraf perkembangan sosial siswa seperti suasana emosional kesulitan-kesulitan yang dialami yang berpengaruh terhadap kemampuan belajar siswa


2.2  Memahami Latar Belakang Anak Lambat Belajar

Untuk memberikan bantuan dan bimbingan  secara tepat, dan berhasil kepada peserta didik yang lambat belajar, perlu dipahami berbagai hal yang melatar belakanginya. Untuk kepentingan tersebut berbagai usaha yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

Studi Dokumentasi, yaitu mempelajari catatan-catatan pribadi.
Mengumpulkan data baru sebagai pelengkap
Dalam rangka memahami dan mengenal latar belakang peserta didik, sebagai upaya melengkapi informasi yang sudah ada, perlu ditempuh cara lain disamping mempelajari data pribadi peserta didik. Cara lain ini dapat dilakukan melalui kegiatan sebagai berikut :

Home visit (kunjungan rumah), yakni mengadakan kunjungan ke rumah orang tua peserta didik untuk memahami situasi dan kondisi keluarga, dan lingkungannya.
Tes psikologi, untuk memahami kemampuan psikisnya.
Wawancara dengan orang tua atau temannya.
Observasi terhadap kegiatan peserta didik pada waktu bermain, atau bekerja melakukan tugas kelompok untuk memahami hubungan sosial dengan teman-temannya.
Dari berbagai usaha yang dilakukan di atas akan diperoleh data yang dapat menggambarkan latar belakang peserta didik. Perlu disadari bahwa tidak semua data yang diperoleh relevan dengan masalah, sehingga perlu dilakukan seleksi data. Seleksi data ini perlu dilakukan untuk memilah dan memilih data yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi dan dipecahkan, dengan data yang kurang atau tidak menunjang atau tidak berkaitan dengan masalah yang dihadapi.(http://andresoulmate.blogspot.com/p/cara-membimbing-siswa-dalam-belajar.html)

2.3 Ciri – Ciri Siswa Lamban Belajar

Istilah siswa lamban belajar dan berprestasi rendah mengandung pengertian yang tidak jauh berbeda, dua-duanya saling berkaitan satu sama lain. Siswa lamban belajar dan berprestasi rendah adalah siswa yang kurang mampu menguasai pengetahuan dalam batas waktu yang telah ditentukan karena ada factor tertentu yang mempengaruhinya.

Siswa yang lamban belajar dan berprestasi rendah dapat pula di akibatkan oleh faktor IQ. Menurut penelitian Binet dan Simon anak yang lemah mental memiliki IQ antara 50 sampai 69 tergolong anak yang lamban belajar. Mereka itu sangat sulit dididik. Jika memungkinkan untuk dididik mereka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memahami pelajaran kendatipun pada akhirnya prestasi yang dicapainya tidak semaksimal siswa yang lainnya. Siswa lamban belajar yang di sebabkan oleh faktor IQ, pada umumnya memiliki prestasi rendah, lain halnya dengan siswa lamban belajar yang diakibatkan oleh lemahnya kemampuan menguasai pengetahuan dan keterampilan dasar tertentu pada sebagian materi pelajaran yang harus dikuasi sebelumnya.

A.    Ciri – Ciri Umum Siswa Lamban Belajar

Ciri-ciri umum siswa lamban belajar dapat dipahami melalui pengamatan fisik siswa, Perkembangan mental, intelektual, sosial, ekonomi, kepribadian dan proses-proses belajar yang dilakukannya di sekolah dan di rumah. Ciri-ciri itu dianalisa agar diperoleh kejelasan yang konkret tentang gejala dan sebab-sebab kesulitan belajar siswa di sekolah dan di rumah. Rincian analisis tersebut mencakup:

1.    Fisik

Pengamatan pertama yang dilakukan untuk menemukan sebab-sebab kesulitan belajar siswa adalah dengan pengamatan cermat terhadap keadaan fisiknya, meliputi intensitas pendengarannya, penglihatannya, pembicaraannya, vitamin dan gizi makanan pada waktu kecil.

2.    Perkembangan mental

Kemampuan mental adalah kemampuan individu dalam berfikir dan berbuat. Perkembangan mental dapat di pengaruhi oleh pertumbuhan fisik, peristiwa-peristiwa tertentu yang terjadi dalam kehidupannya dan asuhan intensif yang diberikan lingkungannya. Cacat fisik sebelum atau setelah kelahiran dapata berpengaruh pula terhadap Perkembangan mental seseorang.

3.    Perkembangan intelek

Intelek adalah kekuatan pikiran dalam menyampaikan pemikiran (reasoning) dan pemahaman pengetahuan yang dikuasainya. Manusia intelektual adalah manusia yang berkemampuan menganalisis pengetahuan, menyatakannya kembali dalam bentuk kata dan kalimat yang baik dan benar yang disampaikan secara sistematis dan logis sehingga dapat diterima oleh lingkungannya. Perkembangan intelek dapat dipengaruhi oleh keadaan mental. Sesorang yang memiliki IQ berkisar antara 50 sampai 69 sulit diharapkan memiliki Perkembangan intelek yang baik.

4.    Sosial

Keadaan sosial ekonomi manusia berpengaruh terhadap kemajuan belajar siswa di sekolah. Berdasarkan penelitian Kirk (1962) terdapat 5 kali lebih banyak siswa lamban belajar yang berasal dari keluarga ekonomi lemah dibandingkan siswa lamban belajar yang berasal dari keluarga ekonomi tinggi.

5.    Perkembangan kepribadian

Siswa yang mengalami kesulitan belajar pada umummnya berkaitan erat dengan masalah-masalah emosional, agresif, takut, malu-malu dan nakal. Kadang siswa yang mengalami kesulitan belajar itu menunjukan ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnyam yang diakibatkan kegagalan belajar di sekolah. Jika kegagalan itu bertambah banyak maka akan mengakibatkan kelesuan konsentrasi dalam belajar.

6.    Proses belajar yang dilakukannya

Ciri-ciri siswa lamban belajar dilihat dari proses belajar yang dilakukannya adalah sebagai berikut:

Lamban mengamati dan mereaksi peristiwa yang terjadi dalam lingkungannya.
Kurang bersemangat untuk melakukan penelitian terhadap hal-hal yang baru dalam lingkungannya.
Siswa lamban belajar tidak banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan
Siswa lamban belajar kurang memperlihatkan perhatiannya terhadap apa dan bagaimana tugas itu dapat diselesaikan dengan baik.
Dalam belajarnya banyak menggunakan ingatan (hafalan) daripada logika (reasoning).
Tidak mampu menggunakan cara-cara tertentu dalam mempelajari ilmu pengetahuan.
Siswa lamban belajar kurang lancar berbicara, tidak jelas, dan gagap.
Siswa lamban belajar sangat bergantung pada guru dan orang tuanya, terutama dalam membuktikan kebenaran pengetahuan yang sedang dipelajarinya.
Siswa lamban belajar sulit memahami konsep abstrak.
Siswa lamban belajar sulit memindahkan kecakapan tertentu yang telah dikuasainya kedalam kecakapan lainnya sekalipun dalam mata pelajaran yang sama, seperti kecakapan mengali dan membagi.
Siswa lamban belajar lebih sering berbuat salah.
Mengalami kesulitan membuat generalisasi pengetahuan secara terurai, bahkan tidak mampu menarik kesimpulan.
Memiliki daya ingatan yang lemah, mudah lupa dan gampang menghilang.
Mengalami kesulitan saat menuliskan pengetahuan dalam bentuk karangan-karangan lainnya, sekalipun menggunakan kata dan kalimat yang sederhana.
Siswa lamban belajar lemah dalam mengerjakan tugas-tugas latihan di sekolah dan dirumah.
B. Ciri-Ciri Siswa Lamban Belajar Dilihat dari Sisi Perkembangan Keterampilan Membaca dan Menulis

Tanda-tanda siswa lamban belajar dalam segi membaca menurut Wheeler adalah sebagai berikut.

Siswa lamban belajar kurang menauh perhatian terhadap tugas-tugas membaca yang diberikan gurunya.
Kurang terbiasa melakukan tugas belajar sendiri terutama membaca buku-buku pelajaran.
Lebih suka membaca nyaring daripada belajar membaca dalam hati atau diolah dalam pikiran.
Kurang mampu membaca materi pelajaran-pelajaran yang disajikan gurunya dalam kelas.
Lebih banyak berhasil belajar tanpa membaca (visualisasi).
Membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan tugas-tugas membacanya.
Banyak mengajukan keluhan tentang kesulitan mengerjakan tugas membaca.
Umumnya pendiam.
Kadang-kadang memperlihatkan gejala kesulitan saat mendengar dan melihat.
Merasa sulit mengingat-ingat pengetahuan isi bacaan.
Kurang sanggup mempraktikan isi bacaan. Sulit menghubungkan teori kedalam praktik.
Sering menampakan gejala-gejala emosional dalam mengerjakan tugas membaca materi pelajaran.
Malas pergi sekolah.
Sulit menghadapi tes keterampilan membaca standar.
Siswa lamban belajar memiliki Perkembangan akademik yang rendah di bawah standar yang diharapkan.
Roldan dalam bukunya Learning Disabilities and Their Relation to Reading, mengemukakan pendapatnya bahwa ciri-ciri umum siswa lamban belajar adalah sebagai berikut:

Siswa lamban belajar memiliki rentang perhatian yang rendah, bertingkah bingung dan kacau.
Derajat aktifitas siswa lamban belajar rendah.
Kurang mampu menyimpan huruf dan kata pada ingatannya dalam waktu lama.
Kurang mampu menyimpan pengetahuan hasil pendengaran.
Kurang mampu membedakan huruf, angka dan suara.
Tidak suka menulis dan membaca
Tidak sanggup mengikuti penjelasan yang bersifat ganda.
Tingkah laku yang berubah-ubah dari hari ke hari.
Suka terdorong oleh perasaan emosional dalam pergaukan, mudah marah dan tersinggung.
Kurang mampu melakukan koordinasi dengan lingkungannya.
Penampilannya kasar.
Kurang mampu bercerita dan sulit membedakan kiri dan kanan.
Lambat dalam Perkembangan berbicara.
Susah memahami kata dan konsep
Sulit akrab dengan orang dan benda.
Kemampuan berbicaranya terbatas pada satu pokok persoalan.
Mereaksi tidak cermat terhadap aksi yang datang dari luar.
Siswa lamban belajar sulit menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungannya.
Ketidaksanggupan siswa lamban belajar dalam menguasai pengetahuan mempengaruhi sikap dan perilakunya menjadi tidak cocok dengan lingkungan sekelilingnya sehingga mengundang masalah orang-orang disekitarnya. Ketidaksanggupan belajar digambarkan menjadi dua versi yaitu:

1. Versi lama, ketidaksanggupan belajar itu karena adanya pembengkakkan kondisi-kondisi tertentu di otak sehingga tidak berfungsi secara normal.

2. Versi baru, ketidaksanggupan belajar itu disebabkan kerusakan-kerusakan tertentu pada diri sesorang yang membuat seseorang itu lamban belajar.

Kerusakan-kerusakan itu di kategorikan kedalam empat hal, yaitu:

1.    Dyslexia

Pada umumnya keterbatasan ini hanya ditujukan pada kesulitan seseorang dalam membaca dan menulis, akan tetapi tidak terbatas dalam perkembangan kemampuan standar yang lain seperti kecerdasan, kemampuan menganalisa dan juga daya sensorik pada indera perasa. Terminologi disleksia juga digunakan untuk merujuk kepada kehilangan kemampuan membaca pada seseorang dikarenakan akibat kerusakan pada otak. Disleksia pada tipe ini sering disebut sebagai Aleksia. Selain memengaruhi kemampuan membaca dan menulis, disleksia juga ditengarai juga memengaruhi kemampuan berbicara pada beberapa pengidapnya. Penderita disleksia secara fisik tidak akan terlihat sebagai penderita. Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga dalam berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah, kiri dan kanan, dan sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke memori pada otak. Hal ini yang sering menyebabkan penderita disleksia dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal. Dalam kasus lain, ditemukan pula bahwa penderita tidak dapat menjawab pertanyaan yang seperti uraian, panjang lebar. Para peneliti menemukan disfungsi ini disebabkan oleh kondisi dari biokimia otak yang tidak stabil dan juga dalam beberapa hal akibat bawaan keturunan dari orang tua.

Ada dua tipe disleksia, yaitu developmental dyslexsia (bawaan sejak lahir) dan aquired dyslexsia (didapat karena gangguan atau perubahan cara otak kiri membaca). Developmental dyslexsia diderita sepanjang hidup pasien dan biasanya bersifat genetik. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penyakit ini berkaitan dengan disfungsi daerah abu-abu pada otak. Disfungsi tersebut berhubungan dengan perubahan konektivitas di area fonologis (membaca). Beberapa tanda-tanda awal disleksia bawaan adalah telat berbicara, artikulasi tidak jelas dan terbalik-balik, kesulitan mempelajari bentuk dan bunyi huruf-huruf, bingung antara konsep ruang dan waktu, serta kesulitan mencerna instruksi verbal, cepat, dan berurutan. Pada usia sekolah, umumnya penderita disleksia dapat mengalami keuslitan menggabungkan huruf menjadi kata, kesulitan membaca, kesulitan memegang alat tulis dengan baik, dan kesulitan dalam menerima.

2.    Dyscalculia

Adalah kesulitan mengenal angka dan pemahaman terhadap konsep dasar matematika.

3.    Attention deficit hyperactive disorder

Adalah pemusatan perhatian terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapinya.

4.    Spatial, motor and perceptual deficits

Adalah kondisi lemah dalam menilai dirinya menurut ukuran ruang dan waktu.

5.    Social deficits

Social deficits adalah kesulitan mengembangkan keterampilan sosial. Kesulitan itudapat membuat ketidakksanggupan menemukan jati dirinya.



2.4 Faktor Penyebab Anak Lamban Belajar

Kelambanan belajar yang dialami anak dapat digolongkan dari segi penyebab, yaitu:

1. Kelainan daya pikir

Kelainan daya pikir ini termasuk kelainan yang paling banyak dialami oleh anak didik yang berkaitan dalam kegiatan belajar. Dari survey mengemukakan bahwa dari anak yang tertinggal dalam belajar 56,8%, tergolong dalam kecerdasan berkisar 75. Sedangkan 21% kecerdasannya berada diantara 70-90, dan 22% tingkat kecerdasannya antara 90-100. Kelainan daya pikir ini diperparah lagi dari factor seperti lingkungan belajar di sekolah, jenis materi pelajaran tertentu, penyebab lain adanya keterkaitan antara daya pikir dan anak yang lamban dalam belajar, seperti lemahnya daya ingat hingga mudah melupakan materi yang baru dipelajari, lemahnya menerima dan memahami pelajaran, lemahnya berpikir jernih, tidak ada kemampuan untuk beradaptasi dengan teman, rendahnya kemampuan dalam berkomunikasi dan lambannya dalam kemampuan berbicara.

2. Kelainan psikologi

Yaitu kelainan pada penginderaan, seperti penglihatan dan pendengaran. Bisa juga dari segi fisik, anak yang tubuhnya lebih pendek dari ukuran rata-rata anak lain dikelasnya, penyebabnya seperti anemia, dan penyakit anak lainnya. Kelemahan-kelemahan tersebut dapat menyebabkan kelemahan dan kelambatan dalam belajar, lebih jelasnya bahwa keterbatasan fisik tertentu dapat mempersulit anak dan terkait sekali dalam masalah kelambanan dalam belajar.

3. Kelainan motivasi

Kelainan motivasi, yaitu timbulnya rasa masa bodoh, tidak ada perhatian terhadap mata pelajaran, tidak ada kemauan menelaah pelajaran, dan tidak ada rasa senang pada peraturan kegiatan belajar mengajar diantara para murid yang tertinggal dalam belajar. Dan bisa juga perilaku anak yang tertinggal dalam belajar disebabkan oleh lemahnya semangat dan perhatian pada pelajaran, ogah-ogahan, membenci sekolah dan suka mengantuk. Jadi, penyebab secara umum penyebab rendahnya motivasi disamping berbagai factor luar lingkungan belajar anak, juga terpengaruh dari dalam diri anak berupa factor-faktor kejiwaan yang dipengaruhi oleh latar belakang  kesehatan.

2.5 Teknik Bimbingan yang Dapat Diterapkan pada Anak Lambat Belajar

Program Layanan Bimbingan Konseling yang dikembangkan bagi siswa lambat belajar mengacu pada keadaan individu sebagai manusia seutuhnya sehingga menyentuh semua dimensi perkembangan kepribadian secara utuh. Teknik yang dimaksudkan untuk menangani siswa tersebut akan mengarah pada unsur-unsur yang berhubungan dengan :

1.    Pengembangan ranah kognitif/intelektual

Pada pengembangan ini guru diharapkan menyediakan rentangan pengalaman belajar yang luas serta dapat diamati atau nyata. Pengelolahan bahan dan tugas ajar secara khusus yang di dasarkan pada kurikulum yang ada merupakan hal yang harus dilakukan guru dalam memberikan pelayanan optimal bagi siswa lambat belajar.

2.    Pengembangan ranah afektif

Pembimbing diharapkan memahami pikiran dan harapan anak yang ada pada dirinya serta kemungkinan pemenuhannya di dalam sikap kehidupan berkelompok.

3.    Pengembangan ranah fisik

Pembimbing diharapkan memberikan layanan yang dapat memberikan kemungkinan siswa memperoleh pengalaman memadukan pola perkembangan berikir dengan perkembangannya dan memberikan peran-peran yang sesuai di dalam kelompoknya.

4.    Pengembangan ranah intuitif

Fungsi intuitif merupakan fungsi yang terlibat di dalam pemunculan wawasan dan tindakan kreatif. Mengingat fungsinya itu, maka layanan bagi siswa yang lambat belajar perlu memperdulikan pengembangan pengalaman yang mendorong dia untuk berimajenasi dan berkreasi (dalam tingkat yang sederhana).

5.    Pengembangan ranah masyarakat

Pemberian layanan dapat dilakukan dengan membantu siswa  memperoleh pengalaman mengembangkan diri menjadi anggota kelompok,serta mampu berpartisipasi dalam proses kelompok memperluas perasaan keanggotaan masyarakat. Memperluas identifikasi diri dari masyarakat terbatas ke arah identifikasi terhadap masyarakat luas. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan merancang kegiatan-kegiatan kelompok khusus.

(http://abdul-malik14.blogspot.com/2013/03/bimbingan-bagi-siswa-yang-lambat-belajar_31.html )

Selain itu, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan oleh seorang konselor atau guru antara lain:

1. Bimbingan bagi anak dengan masalah konsentrasi

a) Mengubah cara mengajar dan jumlah materi yang akan diajarkan

Siswa yang mengalami masalah perhatian dapat ketinggalan jika materi yang diberikan terlalu cepat atau jika beban menumpuk dengan materi yang kompleks. Oleh akrena itu, akan berguna bagi mereka untuk :

Memperlambat laju presentasi materi
Menjaga agar siswa tetap terlibat dengan memberi pertanyaan pada saat materi diberikan.
Gunakan perangkat visul seperti membuat bagan/skema garis besar materi untuk memberikan gambaran pada siswa mengenai langkah-langkah atau bagian-bagian yang diajarkan.
b)  Adakan pertemuan dengan siswa.

Siswa mungkin tidak menyadari peranan perhatian dalam proses pengajaran. Mereka juga tidak menyadari kalau perhatian merupakan bidang kesulitan tertentu bagi mereka. Dalam pertemuan ini seorang kita memberikan penjelasan dengan cara yang tanpa memberikan hukuman dan tanpa encaman akan sangat berguna bagi siswa.

c) Bimbing siswa lebih dekat ke proses pengajaran.

Karena tanpa disadari kita telah mengalihkan perhatian kita dari siswa. Dengan membawa mereka dekat dengan kita secara fisik secara rafia akan membawa si anak lebih dekat lepada proses pengajaran.

d) Berikan dorongan secara langsung dan berulang-ulang.

Biasakan siswa tahu kalau anda melihatnya ketika sedang memperhatikan. Menggunakan  kontak mata ketika pembelajaran berlangsung itu sangat penting. Cobalah berikan penghargaan atas kehadirannya. Bias juga dengan penghargaan verbal yang dilakukan dengan tenang, dan lembut.

e) Utamakan ketekunan perhatian daripada kecepatan menyelesaikan tugas.

Siswa mungkin merasa kecil hati dan tidak diperhatikan bila mereka dihukum karena tidak menyelesaikan tugas secepat orang lain. Membuat penyesuaian dan jumlah tugas yang harus diselesaikan maupun waktu yang disediakan untuk menyelesaikan tugas berdasar kemampuan individu mengkin akan sangat membantu dan mendorong bagi sebagaian siswa.

f) Ajarkan self-monitoring of attention.

Melatih siswa untuk memonitor perhatian mereka sendiri sewaktu-waktu dengan menggunakan timer atau alarm jam. Mengajarkan mereka untuk mencatat berbagai interval apakah mereka memberikan perhatian atau tidak pada saat pengajaran. Catatan ini akan membantu menciptakan perhatian yang lebih besar bagi kebutuhan dalam memfokuskan perhatian juga bias berguna dalam strategi untuk memperkokoh keterampilan memperhatikan “attention skill”.

2. Bimbingan bagi anak dengan masalah daya ingat

a)  Ajarkan menggunakan highlighting atau menggaris bawahi dengan penanda, untuk membantu memancing ingatan. Mereka harus diberi tahu cara memilih tajuk bacaan, nkalimat dan istilah kunci untuk diberi garis bawah atau tanda dengan highlighter. Kemudian mereview dari bacaan yang sudah digaris bahawahi tadi.

b)  Perbolehkan menggunakan alat bantu memori (memory aid). Yang mana alat-alat itu bias berfungsi bagi mereka sebagai alat pengingat dan bias jadi juga sebagai alat pengajaran.

c) Biarkan siswa yang mengalami masalah sulit mengingat untuk mengambil tahapan yang lebih kecil dalam pengajaran. Misalnya dengan membagi tugas-tugas kelas dan rumah atau dengan memberikan tes kemampuan penguasaan lebih sering.

d) Ajarkan siswa untuk berlatih mengulang dan mengingat. Misalnya dengan memberikan tes langsung setelah pelajaran disampaikan.

3. Bimbingan bagi anak dengan masalah kognisi

a) Berikan materi yang dipelajari dalam konteks “high meaning”.

Ini berguna untuk untuk mengetahui apakan siswa memahami arti bacaan mereka atau arti suatu pertanyaan mengenai materi baru. Pengertian dapat diperkokoh dengan menggunakan contoh, analogi atau kontras.

b) Menunda ujian akhir dan penilaian.

Perlu memberikan umpan balik dan dorongan yang lebih sering bagi siswa berkesulitan belajar. Evaluai terhadap tugas mereka sebagai tambahan pengajaran akan sangat membantu. Dengan kata lain, suatu kesadaran yang konstan mengenai siswasiswa ini akan membentuk kepercayaan diri dan kemampuan mereka. Bagi sebagian siswa, menunda ujian akhir mereka sampai siswa menguasai sepenuhnya materi yang dipelajari, mungkin merupakan cara terbaik.

c) Tempatkan siswa dalam konteks pembelajaran yang “tidak pernah gagal”.

Siswa lamban belajar seringkali mempunyai sejarah kegagalan disekolah. Biasanya mereka memiliki perasaan akan gagal (sense of failing) dalam berbagai hal yang mereka lakukan. Memutuskan rantai kegagalan dan menciptakan cipta diri (senseof self) baru bagi siswa ini merupakan sesuatu yang paling penting bagi guru untuk melakukannya. Pada setiap tugas atau kemampuan siswa harus ditarik kembali kepada masalah diman tugas dapat dilakukan tanpa kegagalan.

4. Bimbingan bagi anak dengan masalah social dan Emosional

a) Membuat sistem perhargaan kelas yang dapat diterima dan dapat diakses.

Siswa yang  berkesulitan belajar perlu memahami system penghargaan ini dikelas dan merasa ikut serta di dalamnya. Jangan sampai siswa yang berkesulitan melajar merasa “out laws”, mereka yang tidak memilki kesempatan untuk mendapatkan penghargaan yang diterima siswa lain. Untuk memahami bagaimana mereka bias mendapatkan penghargaan yang baik, para siswa disini perlu diberi pemahaman tentang bagaimana cara mendapatkan keuntungan sosial dari sikap positif dan hubungan social yang baik dikelas.beberapa siswa mungkin ingin pembuktian langsung dikelas.

b) Membentuk kesadaran tentang diri dan orang lain.

Sebagian siswa yang berkesulitan belajar tidak memilki kesadaran yang jelas pada sikapnya sendiri serta dampaknya pada orang lain. Membantu siswa ini menjadi lebih mengenal sikap mereka dan dampaknya pada orang lain merupakan kesempatan yang brarti bagi perkembangan sosial dan emosional. Berbicara terbuka dan penuh perhatian kepada siswa ini mengenai sikapnya juga dapat menjadi langkah penting dalam membentuk hubungan yang saling percaya di antara mereka.

c) Mengajarkan sikap positif.

Ketika siswa lamban belajar menjadi lebih sadar terhadap sikapnya dan mendapat pemahaman yang lebih baik atas interaksi dengan orang lain, mereka akan merespon dengan baik intruksi-intruksi tentang cara membentuk hubungan yang baik dan senseof self (citra diri) yang lebih positif.

d) Minta bantuan

Jika sikap seorang siswa lamban belajar sangat tidak layak atau sikap negatifnya tetap ada ketika semua cara telah dicoba, jangan ragu minta bantuan. Cari bantuan pada teman sejawat disekolah yang mungkin dapat memberikan bantuan dalam menjelaskan masalah-masalah social dan emosional, serta mencari solusi mengenai kesulitan tersebut. Pertolongan ini bisa datang dari psikolog, konselor, orang tua, guru, dan kepala sekolah. Yang terpenting seorang pendidik memahami bahwa minta bantuan bukan tanda kelemahan atau ketidakmampuan.

Hal-hal yang dapat membantu guru dalam menangani siswa lambat belajar adalah :

Pahami bahwa anak membutuhkan lebih banyak pengulangan, 3 sampai 5 kali, untuk memahami suatu materi daripada anak lain dengan kemampuan rata-rata. Maka, dibutuhkan penguatan kembali melalui aktivitas praktek dan yang familiar, yang dapat membantu proses generalisasi.
Anak slow-learner yang tidak berprestasi dalam akademik dasar dapat memperoleh manfaat melalui kegiatan tutorial di sekolah atau privat. Tujuan tutorial bukanlah untuk menaikkan prestasinya, tetapi membantunya untuk optimis terhadap kemampuannya dan menghadapkannya pada harapan yang realistik dan dapat dicapainya.
Berusahalah untuk membantu anak membangun pemahaman dasar mengenai konsep baru daripada menuntut mereka menghafal materi dan fakta yang tidak berarti bagi mereka.
Gunakan demonstrasi dan petunjuk visual sebanyak mungkin. Jangan membingungkan mereka dengan terlalu banyak verbalisasi. Pendekatan multisensori juga dapat sangat membantu.
Jangan memaksa anak bersaing dengan anak dengan kemampuan yang lebih tinggi. Adakan sedikit persaingan dalam program akademik yang tidak akan menyebabkan sikap negatif dan pemberontakan terhadap proses belajar. Belajar dengan kerjasama dapat mengoptimalkan pembelajaran, baik bagi anak yang berprestasi atau tidak, ketika pemebelajaran tersebut mendukung interaksi sosial yang tepat dalam kelompok yang heterogen.
Konsep yang sederhana yang diberikan pada anak pada permulaan unit instruksial dapat membantu penguasaan materi selanjutnya. Maka, dibutuhkan beberapa modifikasi di kelas.
Anak sebaiknya diberi tugas, terutama dalam pelajaran sosial dan ilmu alam, yang terstruktur dan konkret. Proyek-proyek besar yang membutuhkan matangnya kemampuan organisasional dan kemampuan konseptual sebaiknya dikurangi, atau secara substansial dimodifikasi, disesuaikan dengan kemampuannya. Dalam kerja kelompok, slow-learner dapat ditugaskan untuk bertanggung jawab pada bagian yang konkret, sedang anak lain dapat mengambil tanggung jawab pada komponen yang lebih abstrak.
Tekankan hal-hal setelah belajar, berikan insentif dan motivasi yang bervariasi.
Berikan banyak kesempatan bagi anak untuk bereksperimen dan mempraktikkan konsep baru dengan materi yang konkret atau situasi yang menstimulasi.
Pada awal setiap unit, kenalkan anak dengan materi-materi yang familiar.
Sederhanakan petunjuk dan yakin bahwa petunjuk itu dapat dimengerti.
Penting bagi guru untuk mengetahui gaya belajar masing-masing anak, ada yang mengandalkan kemampuan visual, auditori atau kinestetik. Pengetahuan ini memudahkan penerapan metode belajar yang tepat pada mereka


BAB III

HASIL OBSERVASI

      Dalam mengamati metode mengajar untuk anak didik yang lambat belajar, dilakukan observasi di TK Aisyiyah Krajan yang berada di Sawah Karang RT/RW 03/23 Jebres, Surakarta. Observasi dilakukan dengan melakukan wawancara kepada guru  pengajar dan mengamati beberapa siswa.

Menurut Ibu Nurul, guru yang mengajar di TK tersebut, ada beberapa jenis anak yang lambat belajar. Setiap anak memiliki multiple Intelegensi yang tidak semua aspek tidak dapat dipenuhi oleh setiap anak. Artinya pasti setiap anak memiliki kekurangan dalam belajar dalam aspek yang berbeda-beda. Misalnya, ada yang lambat di kognitifnya, tetapi Ia punya kelebihan dalam kemampuan kinestetik.

Dalam menanggapi hal tersebut, Ibu Nurul menyebutkan bahwa ada beberapa solusi yang biasanya dilakukan, diantaranya adalah :

1. Dibiarkan dengan pengawasan

Artinya adalah anak tetap di biarkan seperti itu dengan catatan tetap di arahkan sesuai dengan bagaimana guru mengarahkan anak yang lain. Karena pada akhirnya anak didik akan dapat menyesuaikan diri dengan anak yang lain, hanya saja mereka memerlukan waktu yang lebih lama untuk menerima materi yang di berikan. Lambat bukan berarti tidak bisa. Anak dengan  kemampuan yang demikian sebenarnya hanya perlu diberikan waktu yang lebih dan bimbingan yang lebih intensif untuk menerima materi. Misalnya saja, guru harus berperilaku aktif, artinya guru harus mengetahui mana anak yang termasuk slower learner. Hal ini dapat dilakukan dengan guru lebih mendekatkan dirinya pada anak didik, dan menghampirinya setiap penyampaian materi. Setelah mengetahui mana anak yang termasuk pembelajar lambat, tindak lanjut yang harus di lakukan adalah dengan menaruh perhatian yang lebih kepada anak tersebut. Misalnya dengan memberikan penjelasan yang lebih kepada anak tersebut, memperlambat kecepatan dalam penyampaian materi sehingga lebih mudah di pahami.

2. Menggunakan benda konkrit dalam pembelajaran

Salah satu kekurangan dari slower learner yang paling menonjol adalah mereka tidak bisa cepat menalar benda benda yang abstrak. Sehingga jika di berikan pembelajara dengan hanya menggunakan keabstrakan benda, mereka tidak akan menerimanya dengan baik. Sehingga, system pembelajaran yang harus digunakan adalah yang mengutamakan benda kongkrit. Misalnya, dalam materi perhitungan sederhana, akan lebih baik jika langsung menggunakan contoh nyata, seperti :

Guru menyediakan 10 buah bola, kemudian guru menunjukannya 4 + 4 = 8 dengan mengambil 4 bola diletakan di meja, kemudian mengambil tiga bola dan meletakkannya di tempat yang sama. Selanjutnya guru meminta anak didik untuk menghitung jumlah bola yang ada.

Dengan cara demikian para slower learner akan lebih mudah memahami dan mengingat konsep yang diberikan. Tapi perlu ditekankan bahwa metode yang diberikan tidak ditujukan agar anak didi dapat menghafal 4+4 = 8, tetapi yang menjadi tujuan utama adalah mereka dapat memahami konsep penjumlahan dimana ketika setiap benda atau angka di jumlahkan maka benda tersebut akan bertambah banyak.

3.  Disampaikan dengan lagu

Salah satu cara yang dapat dilakukan sebagai sarana pembelajaran dalam pemberian materi pelajaran adalah disampaikan dengan lagu.Hal tersebut merupakan salah satu alternative yang efektif, menyenangkan dan mudah dilakukan terutama bagi para slower learner sehingga membuat proses belajar mengajar menjadi lebih menarik dan tidak membosankan bagi siswa.Selain itu,metode pembelajaran yang penyampaiannya dengan lagu dapat membantu siswa berkonsentrasi dan mengingat materi yang sudah disampaikan oleh Guru disekolah.Dengan begitu,siswa akan lebih mudah memahami suatu pelajaran dan dapat meningkatkan prestasi belajarnya walaupun dia tidak bias menangkap materi secepat faster learner.

4. Menyarankan ke SLB jka terlalu berlebihan

Apabila anak sudah mengalami suatu kelambanan belajar yang parah, sebaiknya dapat disekolahkan di SLB agar mendapatkan bimbingan dan pembelajaran yang khusus dan sesuai sehingga diharapkan anak dapat lebih dapat mengikuti proses pembelajaran di sekolah sesuai dengan kemampuannya.

Biasanya, slower learner akan lebih nyaman bila di tempatkan pada lingkungan yang berisi orang – orang seperti dirinya, karena dia tidak akan merasa bahwa dirinya berbeda dari temannya yang lain. Mengingat materi yang disampaikan akan berbeda juga. Sehingga penempatan anak di sekolah khusus sepert itu akan lebih membantu anak jika memang tingkatan slower learnernya sudah melewati batas wajar.

BAB IV

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Anak lamban belajar adalah anak yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam perkembangan mental (fungsi intelektual di bawah teman-teman seusianya) disertai ketidakmampuan/kekurangmampuan untuk belajar dan untuk menyesuaikan diri sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Masalah pokok yang dialami murid-murid yang lambat belajar adalah keterlambatan dalam belajar akibat dari keterbatasan kemampuan yang dimilikinya antara lain masalah konsentrasi, daya ingat yang lemah, kognisi, serta masalah sosial dan emosional.

Ciri-ciri umum siswa lamban belajar dapt dipahami melalui pengamatan fisik siswa, Perkembangan mental, intelektual, sosial, ekonomi, kepribadian dan proses-proses belajar yang dilakukannya di sekolah dan di rumah. Ciri-ciri itu dianalisis agar diperoleh kejelasan yang konkret tentang gejala dan sebab-sebab kesulitan belajar siswa di sekolah dan di rumah.

Kelambanan belajar yang dialami anak dapat digolongkan dari segi penyebab, yaitu Kelainan daya pikir dan Kelainan motivasi. Terdapat beberapa strategi yang bisa dilakukan oleh seorang guru dalam upaya mengajar siswa yang lambat belajar salah satunya dengan mengelompokkan strategi bimbingan untuk setiap masalah , misalnya mengadakan bimbingan bagi anak dengan masalah konsentrasi,bimbingan bagi anak dengan masalah daya ingat, bimbingan bagi anak dengan masalah kognisi, serta bimbingan bagi anak dengan masalah sosial dan emosional.

4.2  Saran

Dengan adanya pembahasan tentang pembelajaran untuk anak didik lambat belajar diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai ciri – ciri anak lambat belajar dan bagaimana cara membelajarkan mereka sehingga dapat meningkatkan kinerja para pendidik untuk memberikan pembelajaran sesuai dengan kemampuan dan klasifikasi anak didiknya. Dengan begitu tujuan pendidikan akan dapat tersebar merata tanpa memandang kekurangan peserta didik.

(Sumber: http://nitatri.student.fkip.uns.ac.id)



DAFTAR PUSTAKA

Andre. Cara Membimbing Siswa dalam Belajar. Dari http://andresoulmate.blogspot.com/p/cara-membimbing-siswa-dalam-belajar.html.

Smith, J. David.2006. Inklusi, Sekolah Ramah Untuk Semua. Nuansa :Jakarta.

Sutratinah Tirtonegoro.2001. Anak Supernormal dan Program Pendidikannya. Bumi Aksara: Yogyakarta.
http://www.psychoshare.com/file-1784/psikologi-anak/pembelajaran-untuk-slower-learner-bagian-2.html
http://www.psychoshare.com/file-1780/psikologi-anak/pembelajaran-untuk-slower-learner-bagian-1.html
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Komentar anda marupakan motivasi buat penulis...