Wednesday, 14 January 2015

Simulasi Tumbuh Kembang Anak

Simulasi Tumbuh Kembang Anak


BAB I 

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Pada masa balita terutama pada masa kritis perkembangan selain dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan seperti gizi, perkembangan juga dipengaruhi oleh stimulasi atau rangsangan. Stimulasi diperlukan agar potensi anak,yang secara alami memang sudah ada di dalam dirinya dapat lebih berkembang.

Stimulasi adalah perangsangan yang datang dari lingkungan luar anak.Stimulasi merupakan hal yang penting dalam tumbuh kembang anak. Anak yang mendapat stimulasi yang terarah dan teratur akan lebih cepat berkembang diandingkan dengan anak yang kurang atau tidak mendapat stimulasi.

Hurlock (1994) mengemukakan bahwa lingkungan yang merangsangmerupakan salah satu faktor pendorong perkembangan anak.Lingkungan yang merangsang mendorong perkembangan fisik dan mental yang baik, sedangkan lingkungan yang tidak merangsang menyebabkan perkembangan anak di bawah kemampuannya.Pemberian stimulasi pada anak usia dini akan lebih efektif apabila memperhatikan kebutuhan – kebutuhan anak sesuai dengan tahap perkembangannya.

Pada awal perkembangan kognitif, anak berbeda dalam tahap sensori motorik. Pada tahap ini keadaan kognitif anak akan memperlihatkan aktifitas-aktifitas motorik, yang merupakan hasil dari stimulasi sensorik.Kegiatan stimulasi meliputi berbagai kegiatan untuk merangsang perkembangan anak seperti latihan gerak, bicara, berpikir, mandiri serta bergaul.

Kegiatan stimulasi ini dapat dilakukan oleh orang tua atau keluarga setiap ada kesempatan atau sehari-hari.Untuk perkembangan yang normal diperlukan pertumbuhan yang selalu bersamaan dengan kematangan fungsi.Pertumbuhan dan perkembangan anak harus diikuti dengan beberapa tahap perkembangan, salah satunya adalah Toilet training .

Toilet training adalah latihan buang air besar dan buang air kecil yangdiberikan pada anak perempuan mulai usia 18 bulan (atau lebih cepat) sampai usia3 tahun (atau 5 tahun pada yang termasuk terlambat (delayed toilet training), yangbertujuan melatih anak buang air besar dan buang air kecil yang baik bersih danbenar seperti cara cebok yakni dari depan ke belakang, dan secara luas termasukkontrol buang air besar dan buang air kecil yang baik. Hal yang menyebalkan sekaligus menggemaskan buat orang tua adalah pada saat buah hatinya buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB) di lantai yang sudah bersih.apabila bukan sayang kepada sang buah hati , tentu saja cacian dan marahanakan terlontar dari mulut orang tua yang mendapatkan anaknya sedang BAK dan BAB disembarang tempat. Salah satu cara menyiasati agar anak tidak BAK dan BAB disembarang tempat adalah dengan mengajarkan toilet training sedini mungkin pada si kecil. Buang air besar (BAB) dan air kecil (BAK) bukanlah suatu masalah besar, namun bagi anak balita, mandiri untuk bisa BAB dan BAK hal yang patut diacungi jempol. Minimal, anak bisa memberi tanda-tanda saat akan BAK atau BAB. Bagaimana melatih kemandirian anak untuk bisa BAB atau BAK.

Para orangtua umumnya ingin secepatnya melatih anak mereka untuk latihantoilet. Biasanya anak akan siap pada saat usia 18 sampai 24 bulan.Ketika anak siapuntuk latihan toilet ( ketika anak tertarik ) pelatihan akan berjalan dengan lancar.Hampir semua anak kelihatan tidak nyaman dan mersa kotor jika celana ataupopoknya basah.Sehingga saat akan buang air besar atau buang air kecil ( karenamerasa mereka akan kotor), mereka suka untuk menahannya, hal ini akanmenimbulkan konstipasi dan residu urin yang merupakan risiko ISK. Buangair besar (bowell) kemudian lanjutkan latihan buang air kecil (bladder)

RUMUSAN MASALAH
Menjelaskan bagaimana cara memberikan stimulus agar anak dapat tumuh dan berkembang sesuai dengan periode tumbang ?
Menjelaskan tentang prosedur toilet Training pada anak ?
Menjelaskan tentang pandangan islam terhadap kebersihan pada anak ?
TUJUAN
Agar mahasiswa dapat mengetahui bagaimana cara memberikan stimulus agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai dengan periode tumbang yang dialami
Agar mampu mengajarkan bagaimana prosedur toilet training pada anak ?
Agar mahasiswa mampu menjelaskan tentang pandangan islam terhadap kebersihan pada anak


BAB II

PEMBAHASAN

STIMULUS TUMBUH DAN KEMBANG ANAK
Stimulasi tumbuh kembang anak dapat dilakukan dengan cara memberikan permainan atau bermain, mengingat dengan bermain anak akan belajar dari kehidupan. Ketika anak sudah memasuki masa bermain atau disebut juga sebagai masa toddler, maka anak selalu membutuhkan kesenangan pada dirinya.Oleh karena itu, tidak terlalu heran apabila masa anak-anak sangat identk dengan masa bermain, sebab pada masa tersebut perkembangan anakakan mulai diasah sesuai dengan kebutuhannya.Namun banyak orang yang menganggap masa bermain pada anak tidak perlu mendapat perhatian secara khusus, sehingga banyak orang tua yng membiarkan anak bermain tanpa memerhatikan unsur pendidikan terhadap permainan yang dilakukan oleh anak.

Oleh karena itu, sebelum memahami alat permainan pada anak secara khusus maka terlebih dahulu harus mengenal pengertian bermain pada anak.Bermain merupakan suatu aktivitas dimana anak dapat melakukan atau mempraktikkan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi kreatif, serta mempersiapkan diri untuk berperan dan berprilaku dewasa. Sebagai suatu aktivitas yang memberikan stimulasi dalam kemampuan keterampilan, kognitif, dan afektif, maka seharusnya diperlukan suatu bimbingan, mengingat bermain bagi anak merupakan suatu bagi dirinya sebagaimana kebutuhan lainnya, seperti halnya kebutuhan makan, kebutuhan akan rasa nyaman, kebutuhan kasih sayang, dan lain-lain. Sebagai kebutuhan, sebaiknya aktivitas bermain juga perlu diperhatikan secara cermat, bukan hanya dijadikan sarana untuk mengisi kesibukan atau mengisi waktu luang.Bermain pada anak harus selalu diperhatikan sebagaimana memerhatikan pemenuhan terhadap kebutuhan lainnya.

Dengan bermain, anak akan selalu mengenal dunia, mampu mengembangkan kematangan fisik, emosional, dan mental sehingga akan membuat anak tumbuh menjadi anak yang kreatif, cerdas, dan penuh inovatif.Banyak ditemukan anak yang oada masa tumbuh kembangnya mengalami keterlambatan yang dapat disebabkan oleh kurangnya pemenuhan kebutuhan pada diri anak,, termasuk didalamnya adalah kebutuhan bermain. Masa kanak-kanak seharusnya merupakan masa bermain yang diharapkan dapat menumbuhkan kematangan dalam pertumbuhan dan perkembangan, sehingga apabila masa tersebut tidak digunakan sebaik mungkin maka tentu akhirnya akan menggangu tumbuh kembang anak.

Selama anak bermain perlu diperhatikan kekurangan dan kelebihan permainan yang dilakukan anak. Permainan harus dapat menstimulasi perkembangan kreativitas anak serta perkembangan mental dan emosional, sehingga orangtua harus mengarah agar sesuai dengan proses pematangan perkembangan tersebut. Pada anak yang mendapatkan atau terpenuhi kebutuhan bermainnya dapat terlihat pula adanya suatu polaperkembangan yang baik.

Fungsi Bermain Pada Anak
Sebelum memberikan berbagai stimulasi dari jenis permainan pada anak, maka orangtua seharusnya mengetahui maksud dan tujuan permainan yang akan diberikan pada anak tersebut bertujuan untuk dapat mengetahui perkembangan anak lebih lanjut,mengingat anak memiliki berbagai masa dalam tumbuh kembang yang membutuhkan stimulasi dalam mencapai puncaknya seperti masa kritis,optimal,dan sensitif.

Untuk lebih jelasnya,di bawah ini terdapat beberapa fungsi bermain pada anak di antaranya sebagai ber ikut.

Membantu perkembangan sensorik dan motoric
Fungsi bermain pada anak dapat di kembangkan dengan melakukan rangsangan pada sensorik dan motorik,melalui rangsangan ini aktivitas anak dapat mengeksplorasi alam di sekitarnya.sebagai contoh,bayi dapat di lakukan dengan ransangan taktil,audio,dan visual.Hal tersebut dapat dicontohkan apabila sejak lahir anak yang telah di kenalkan atau di rangsang visualnya,maka di kemudian hari kemampuan visual anak akan lebih menonjol,misalnya lebih cepat mengenal sesuatu yang baru di lihatnya.demikian juga pendengaran,apabila sejak bayi di kenalkan atau di rangsang melalui suara-suara maka daya pendengarannya di kemudian hari lebih cepat berkembang dibandingkan dengan anak yang tidak di beri stimulasi sejak dini.pada perkembangan motorik,apabila sejak sejak usia bayi kemampuan motorik sudah dilakukan rangsangan maka kemampuan motorik akan cepat berkembang di bandingkan dengan tanpa stimulasi,seperti ransangan kemampuan menggenggam dan kemampuan ini akan memberikan dasar dalam perkembangan motorik selanjutnya.Rangsangan atau stimutasi yang dimaksud tersebut dapat di berikan melalui suatu permainan.

Membantu perkembangan kognitif
Perkembangan kognitif dapat dirangsang melalui permainan,hal ini dapat terlihat pada saat anak bermain.anak akan mencoba melakukan komunikasi dengan bahasa anak; mampu memahami objek permaianan,seperti dunia tempat tinggal;mampu membedakan khayalan dan kenyataan;mampu belajar warna,memahami bentuk,ukuran,dan berbagai mamfaat benda yang digunakan dalam permainan.fungsi bermain pada model tersebut akan meningkatkan perkembangan kognitif selanjutnya.

Meningkatkan kemampuan sosialisasi anak
Proses sosialisasi dapat terjadi melalui permainan,misalnya pada saat anak akan merasakan kesenangan terhadap kehadiran orang lain dan merasakan ada teman yang dunianya sama.pada usia toddler anak sudah mencoba bermain dengan sesamanya dan ini merupakan proses sosialisasi satu dengan yang lain,kemudian bermain peran,misalnya pura-pura menjadi seorang guru,menjadi seorang anak,menjadi seorang bapak atau ibu,dan lain-lain.kemudian pada usia prasekolah anak sudah mulai menyadari kemeradaan teman sebaya,sehingga di harapkan anak mampu melakukan sosialisasi dengan teman dan orang lain.

Meningkatkan kreativitas
Bermain juga dapat berfungsi dalam peningkatan kreativitas,di mana anak mulai belajar menciptakan sesuatu dari permainan yang ada dan mampu memodifikasi objek yang digunakan dalam permainan sehingga anak akan lebih kreatif melalui model permainan ini,seperti bongkar pasang mobil-mobilan.

Meningkatkan kesadaran diri
Barmain pada anak dapat memberi kemampuan untuk mengeksplorasi tubuh dan merasakan dirinya sadar dengan orang lain yang merupakan bagian dari individu yang saling berhubungan,anak mau balajar mengatur perilaku,serta membandingkan dengan perilaku orang lain.

Mempunyai nilai terapeutik
Bermain dapat menjadikan diri anak lebih senang dan nyaman sehingga adanya stres dan ketegangan dapat dihindari,mengingat bermain dapat menghibur dari anak terhadap dunianya.

Mempunyai nilai moral pada anak
Bermain juga dapat memberikan nilai moral tersendiri pada anak,hal ini dapat dijumpai ketika anak sudah mampu belajar benar atau salah dari budaya di rumah,di sekolah,dan ketika berinteraksi dengan temannya.Di samping itu,ada beberapa permainan yang memiliki aturan-aturan yang harus dilakukan dan tidak boleh dilanggar.

Jenis-jenis stimulasi permainan berdasarkan sifat
Beberapa sifat bermain pada anak,di antaranya bersifat aktif dan fasif.sifat demikian akan memberikan jenis permainan yang berbeda.dikatakan bermain aktif jika anak berperan secara aktif dalam permaianan,selalu memberikan rangsangan,dan melaksanakannya.akan tetapi,jika sifat bermain tersebut adalah pasif,maka anak akan memberikan respons secara pasif terhadap permainan dan sebaliknya,orang atau lingkungan yang memberikan terspons secara aktif.Berdasarkan sifat-sifat tersebut kita dapat mengenal beberapa macam permainan yang akan dijelaskan sebagai berikut.

Bermain Afektif Sosial
Model bermain ini menunjukkan adanya perasaan senang dalam berhubungan dengan orang lain.Hal ini dapat di lakukan misalnya dengan cara orang tua memeluk anaknya sambil berbicara,bersenandung,kemudian anak memberikan respons seperti tersenyum,tertawa,bergembira,dan lain-lain.sifat dari bermain ini adalah orang lain yang berperan aktif dan anak hanya berespons terhadap stimulasi sehingga akan memberikan kesenangan dan kepuasan bagi anak.

Bermain bersenang-senang
Model bermain ini hanya memberikan kesenangan pada anak melalui objek yang ada,sehingga anak merasa senang dan bergembira tanpa adanya kehadiran orang lain.sifat bermain ini adalah bergantung pada stimulasi yang diberikan pada anak,mengingat sifat dari bermain ini hanya memberikan kesenangan pada anak tanpa memedulikan aspek kehadiran orang lain,misalnya bermain boneka,binatang-bintangang,dan lain-lain.

Bermain Keterampilan
Bermain keterampilan dilakukan dengan menggunakan objek yang dapat melatih kemampuan keterampilan anak yang dapat diharapkan mampu untuk berkreai dan terampil dalam segala hal. Permainan ini bersifat aktif, di mana anak selalu ingin mencoba kemampuan dalam keterampilan tertentu, misalnya bermain bongkar pasang gambar, latihan memakai baju dan lain – lain.

Bermain Drama
Model bermain ini dapat dilakukan anak dengan mencoba berpura – pura dalam berprilaku, misalnya anak berpura – pura menjadi orang dewasa, seorang ibu, atau guru dalam kehidupan sehari – hari.Sifat dari permainan ini adalah anak dituntut aktif dalam memerankan sesuatu.Bermain drama ini dapat dilakukan apabila anak sudah mampu berkomunikasi dan mengenal kehidupan sosial.

Bermain Menyelidiki
Model bermain ini dilakukan dengan memberikan sentuhan pada anak untuk berperan dalam menyelidiki suatu atau memeriksa alat permainan, misalnya mengocok untuk mengembangkan kemampuan kecerdasan pada anak. Sifat permainan tersebut adalah harus selalu diberikan stimulasi dari orang lain agar senantiasa dapat menambah kemampuan kecerdasan anak.

Bermain Konstruksi
Model bermain ini bertujuan untuk menyusun suatu objek permainan agar menjadi sebuah konstruksi yang, misalnya permainan menyusun balok.Permainan ini bersifat aktif, di mana anak selalu ingin menyelesaikan tugas – tugas yang ada dalam perminan dan mampu membangun kecerdasan pada anak.

Bermain Onlooker
Model bermain ini adalah dengan melihat apa yang dilakukan oleh anak lain yang sedang bermain, tetapi tidak ikut bermain. Permainan ini bersifat pasif, namun anak akan mempunyai kesenangan atau kepuasan sendiri dengan melihatnya.

Bermain Soliter/Mandiri
Model bermain ini merupakan bermain yang dilakukan sendiri dan hanya terpusat pada permainannya tanpa memedulikan orang lain. Permainan ini bersifat aktif dan bentuk stimulasi tambahan kurang, namun dapat membantu untuk menciptakan kemandirian pada anak.

Bermain Pararel
Model bermain ini adalah bermain sendiri di tengah – tengah anak lain yang sedang melakukan permainan yang berbeda atau tidak ikut bergabung dalam permainan. Permainan ini bersifat aktif secara mandiri, tetapi masih dalam satu kelompok, dengan harapan kemampuan anak dalam menyelesasikan tugas mandiri dalam kelompok tersebut terlatih dengan baik.

Bermain Asosiatif
Bermain asosiatif merupakan bermain dengan tidak terikat pada aturan yang ada, semuanya bermain tanpa memedulikan teman yang lain dalam sebuah aturan main. Bermain ini akan menumbuhkan kretivitas anak karena adanya stimulasi dari anak lain, namun belum dilatih untuk mengikuti peraturan dalam kelompok.

Bermain Kooperatif
Bermain kooperatif merupakan bermain bersama – sama dengan adanya aturan yang jelas, sehingga terbentuk perasaan kebersamaan dan terbentuk hubungan antara pemimpin dan pengikut. Permainan ini bersifat aktif, di mana anak akan selalu menumbuhkan kreativitasnya. Selain itu, jenis bermain ini juga dapat melatih anak pada peraturan kelompok anak dituntut selalu mengikuti peraturan.

Jenis Stimulasi Permainan Berdasarkan Kelompok Usia
Penggunaan alat permainan pada anak tidak selalu sama dalam setiap usia tumbuh kembang, hal ini dikarenakan setiap tahap usia tumbuh kembang anak selalu mempunyai tugas – tugas perkembangan yang berbeda sehingga dalam penggunaan alat selalu memerhatikan tugas masing- masing usia tumbuh kembang. Di bawah ini terdapat jenis alat permainan yang dapat digunakan untuk anak dalam setiap tahap usia tumbuh kemabang.

Usia 0-1 Tahun
Pada usia ini perkembangan anak mulai dapat dilatih dengan adanya refleks: melatih kerja sama antara mata dan tangan atau mata dan telinga dalam berkoordinasi; melatih mencari objek yang ada tetapi tidak kelihatan; serta melatih mengenal asal suara, kepekaan perabaan, dan keterampilan dengan gerakan yang berulang. Fungsi bermain pada usia ini adalah untuk memperbaiki pertumbuhan dan perkembangan.

Jenis permainan yang dianjurkan pada usia ini antarra lain benda (permainan) yang aman sehingga dapat dimasukkan ke dalam mulut, misalnya gambar bentuk muka, boneka orang dan binatang, alat permainan yang dapat digoyangkan dan menimbulkan suara, alat permainan yang berupa selimut, boneka, dan lain – lain.

Usia 1-2 tahun
Jenis permainan yang dapat dilakukan pada usia 1-2 tahun pada dasarnya bertujuan untuk melatih anak melakukan gerakan mendorong atau menarik, melatih melakukan imajinasi, matih anak melakukan kegiatan sehari-hari, serta memperkenalkan beberapa bunyi dan mampu mebedakannya. Jenis permainan ini menggunakan semua alat permainan yang dapat didorong dan ditarik, misalnya alat rumah tangga, balok-balok, buku begambar, kertas, pensil berwarna, dan lain-lain.

Usia 2-3 Tahun
Pada usia ini anak dianjurkan untuk bermain dengan tujuan menyalurkan perasaan atau emosinya anak, mengembangkan keterampilan berbahasa, melatih motorik kasar dan halus, mengembangkan kecerdasan, melatih daya imajinasi, serta melatih kemampuan membedakan permukaan dan warna benda.

Adapun alat permainan pada usia ini yang dapat digunakan antara lain peralatan menggambar, puzzle sederhana manik-manik ukuran besar, serta berbagai benda yang mempunyai permukaan dan warna yang berbeda-beda.

Usia 3-6 tahun
Pada usia 2-6 tahun anak sudah mulai mampu mengembangkan kreativitas dan sosialisasinya, sehingga sangat diperlukan permainan yang dapat mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan, kemampuan berbahasa, mengembangkan kecerdasan, menumbuhkan sportivitas, mengembangkan koordinasi motorik, mngembangkan dan mengonrol emosi, motorik kasar dan halus, memperkenalan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan, serta memperkenalkan suasana kompetisi dan gotong royong.

Alat permainan yang dapat digunakan pada anak usia ini misalnya benda-benda disekitar rumah, buku gambar, majalah anak-anak, alat gambar, ketas untuk belajar melipat, gunting, dan air.

TOILET TRAINING PADA ANAK
Toilet training adalah latihan buang air besar dan buang air kecil yangdiberikan pada anak perempuan mulai usia 18 bulan ( atau lebih cepat24 ) sampai usia3 tahun ( atau 5 tahun pada yang termasuk terlambat (delayed toilet training ), yangbertujuan melatih anak buang air besar dan buang air kecil yang baik bersih danbenar seperti cara cebok yakni dari depan ke belakang, dan secara luas termasukkontrol buang air besar dan buang air kecil yang baik.

Hal yang menyebalkan sekaligus menggemaskan buat orang tua adalah pada saat buah hatinya buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB) di lantai yang sudah bersih. Kalau bukan sayang kepada sang buah hati ini, tentu saja cacian dan marahan bakal terlontar dari mulut orang tua yang mendapati anaknya sedang BAK dan BAB disembarang tempat. Salah satu cara menyiasati agar anak tidak BAK dan BAB disembarang tempat adalah dengan mengajarkan toilet training sedini mungkin pada si kecil. Buang air besar (BAB) dan air kecil (BAK) bukanlah suatu masalah besar, namun bagi anak balita, mandiri untuk bisa BAB dan BAK hal yang patut diacungi jempol. Minimal, anak bisa memberi tanda-tanda saat akan BAK atau BAB. Bagaimana melatih kemandirian anak untuk bisa BAB atau BAK.

Waktu yang tepat untuk dimulainya toilet training pada anak adalah pada saat anak mulai berusia2 bulan, adapun tanda-tanda yang diberikan oleh anak saat ia sudah siap melakukan toilet training adalah :

Tidak mengompol beberapa jam sehari, atau bila ia berhasil bangun tidur tanpa mengompol sedikit pun
Waktu buang airnya sudah bisa diperkirakan
Sudah bisa memberitahu bila celana atau popok sekali pakainya sudah kotor ataupun basah.
Tertarik dengan kebiasaan masuk ke dalam toilet, seperti kebiasaan orang-orang lain di dalam rumahnya
Minta untuk diajari menggunakan toilet.
Tahapan Toilet Training

Mengajarkan toilet training memerlukan beberapa tahapan:

Biasakan menggunakan toilet pada buah hati untuk buang air.
Mulailah dengan membiasakan anak masuk ke dalam WC. Latih si kecil untuk duduk di toilet meski dengan pakaian lengkap. saat si kecil sedang membiasakan diri di toilet, Anda dapat menjelaskan kegunaan toilet. Agar si kecil tidak takut di toilet, orang tua dapat menemaninya sambil membacakan buku atau menyanyikan lagu kesayangannya.
Lakukan secara rutin pada si kecil ketika terlihat ingin buang air.
Sejak si kecil terbiasa dengan toiletnya, ajaklah ia untuk menggunakannya. Biarkan ia duduk di toilet pada waktu-waktu tertentu setiap hari, terutama 20 menit setelah bangun tidur dan seusai makan. Bila pada waktu-waktu itu, si kecil sudah duduk di toilet namun tidak ingin buang air, ajak ia segera keluar dari toilet. Bila sekali-sekali ia mengompol, itu merupakan hal yang normal. Ibu juga tak perlu khawatir dan memaksanya bila si kecil kadang-kadang mogok dan tak mau ke toilet.
Pujilah bila ia berhasil, meskipun kemajuannya tidak secepat yang anda inginkan. Bila si anak mengalami kecelakaan segera bersihkan dan jangan menyalahkannya. Jadilah model yang baik, agar si kecil lebih mudah mengerti. Contohkan padanya bagaimana menggunakan toilet sehari-hari.Jika anak mengalami stress saat dikenalkan toilet training, malah akan mempersulit waktu belajarnya. Perlu diingat juga, orang tua tidak dapat mengontrol kapan dan dimana anak akan membuang hajatnya, kecuali si anak sendiri.


BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Stimulasi tumbuh kembang anak dapat dilakukan dengan cara memberikan permainan atau bermain, mengingat dengan bermain anak akan belajar dari kehidupan. Ketikaanak sudah memasuki masa bermain atau disebut juga sebagai masa toddler, maka anak selalu membutuhkan kesenangan pada dirinya.Oleh karena itu, tidak terlalu heran apabila masa anak-anak sangat identk dengan masa bermain, sebab pada masa tersebut perkembangan anakakan mulai diasah sesuai dengan kebutuhannya.Namun banyak orang yang menganggap masa bermain pada anak tidak perlu mendapat perhatian secara khusus, sehingga banyak orang tua yng membiarkan anak bermain tanpa memerhatikan unsur pendidikan terhadap permainan yang dilakukan oleh anak.

Selama anak bermain perlu diperhatikan kekurangan dan kelebihan permainan yang dilakukan anak. Permainan harus dapat menstimulasi perkembangan kreativitas anak serta perkembangan mental dan emosional, sehingga orangtua harus mengarah agar sesuai dengan proses pematangan perkembangan tersebut. Pada anak yang mendapatkan atau terpenuhi kebutuhan bermainnya dapat terlihat pula adanya suatu polaperkembangan yang baik.

Pada toilet training dapat mulai dilatih pada saat mulai berumur 2 bulan yang ditandai dengan ekspresi wajah anak yang siap untuk melakukan toilet training, adapun beberapa hak anak kepada orang tuanya dalam islam adalah dengan cara memberikan pakaian yang layak kepada anak dan tempat tinggal yang layak



SARAN

Anak sebaiknya diberikan stimulus sejak dini dan sesuai dengan umur tumbuh kembangnya dan ajarkanlah training toilet. Karena kebersihan adalah sebagian dari iman. Semua ini harus diberikan sejak dini agar tumbuh kembang anak juga optimal.Ajarkan anak kita sejak dini untuk menjaga kebersihannya agar anak kita menjadi generasi yang sehat. (nurrahmiar.blogspot.com)



DAFTAR PUSTAKA

Alimul, A Aziz. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan.2008. Salemba Medika : Jakarta



Natalia, Susi. Pengaruh ” Toilet Training ” Terhadap Kejadian Isk Berulang Pada Anak Perempuan Usia 1 – 5 Tahun. 2006. Program Pasca SarjanaMagister Ilmu BiomedikDanProgram Pendidikan Dokter Spesialis IIlmu Kesehatan AnakUniversitas Diponegoro: Semarang



Anonymous.Toilet Training pada Anak.2010. http://maizarpsikologi09.blogspot.com/search?q=toilet+training+pada+anak

Irawati.Waktu Terbaik Ajarkan “Toilet Training” pada Anak. 2012. irawiranti.web.id

http://www.psychoshare.com/file-1913/psikologi-anak/simulasi-tumbuh-kembang-anak.html diakses tanggal 14 januari 2015
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Komentar anda marupakan motivasi buat penulis...