Thursday, 31 March 2016

MAKALAH PERKEMBANGAN USIA DEWASA

PERKEMBANGAN USIA DEWASA
A.  Periode Perkembangan Masa Dewasa Awal
Individu yang menginjak usia 24 tahun sampai usia 30 tahun termasuk kedalam periode dewasa awal. Masa dewasa awal merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru mulai dari segi fisik hingga segi psikis. Adapun periode penyesuaian dari segi fisik dan psikis tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.    Periode Penyesuaian Diri Dewasa Awal dalam Segi Fisik
Puncak efisiensi fisik biasanya dicapai pada usia pertengahan dua puluhan, namun kemudian terjadi penurunan lambat laun hingga awal usia empat puluhan. Dengan demikian dalam periode penyesuaian, secara fisik orang mampu menghadapi dan mengatasi masalah-masalah yang sukar dan paling banyak jumlahnya dalam periode ini.
Ketika orang tumbuh menjadi dewasa, pria dan wanita dewasa telah belajar untuk menerima perubahan-perubahan fisik. Meskipun terkadang penampilan seseorang secara fisik tidak sebagaimana yang diharapkan, namun orang tersebut dapat berusaha untuk menjadikan dirinya menarik dan bertujuan untuk meningkatkan kebugaran fisiknya. Contohnya saja dengan melakukan olah raga agar fisik tetap bugar dan melakukan diet tertentu, tidak hanya pada orang yang menderita kegemukan, namun juga diet pada makanan tertentu juga dilakukan pada orang yang ingin menjaga kesehatannya. Seperti orang yang menderita penyakit diabetes melakukan diet makan atau minuman yang mengandung kadar gula yang tinggi yang bertujuan untuk menjaga kesehatannya.
2.    Periode Penyesuaian Diri Dewasa Awal dalam Segi Psikis
Periode dewasa awal mengalami perubahan-perubahan secara psikis, diantaranya dapat dipaparkan dalam berbagai segi yaitu sebagai berikut ini:
a.    Intelegensi / Kognitif
Intelegensi merupakan Kemampuan berfikir lebih realistis dan berfikir jauh kedepan, strategis dan selalu bersemangat untuk  berwawasan luas. Usia dewasa  awal adala masa pengoptimalan intelegensi setiap individu. Terlebih lagi jika seseorang berkecimpung dalam dunia perkuliahan, akan banyak sekali perubahan signifikan yang terjadi dari segi intelegensi dan pemikiran. Dewasa awal adalah masa dimana seseorang dapat berpikir luas dan dapat mengembangkan segala hal yang terdapat dalam pemikirannya. Biasanya seseorang akan langsung dapat menuangkan segala pemikirannya dalam sebuah perbuatan. 
b.    Moral
Dalam teori Kohlberg, perkembangan moral anak-anak dan remaja mengiringi kematangan kognisi. Pada masa dewasa, penilaian moral seringkali menjadi lebih kompleks. Pengalaman mungkin mengarahkan orang dewasa untuk mengevaluasi kembali criteria mereka tentang bener dan salah. Sebagian orang secara spontan menyebut pengalaman personal sebagai alasan jawaban mereka terhadap dilemma moral. Misalnya, orang-orang yang mengidap kanker atau saudara yang memiliki penyakit tersebut, berkecenderungan lebih besar memaafkan pria yang mencuri obat mahal semi istrinya yang sedang sakit sekarat, dan menjelaskan pandangan ini dari pengalaman mereka sendiri (Bielby&Papalia, 1975). Pengalaman seperti ini amat di warnai oleh emosi, memicu pemikiran ulang dengan cara yang tidak biasa dilakukan oleh diskusi impersonal dan hipotesis, dan pengalaman ini lebih mungkin membuat orang melihat sudut pandang orang lain.
c.    Emosional
Sekitar awal atau pertengahan umur tiga puluhan, kebanyakan orang muda telah mampu memecahkan masalah-masalah mereka dengan cukup baik sehingga menjadi stabil dan tenang secara emosional. Apabila emosi yang menggelora yang merupakan cirri tahun-tahun awal kedewasaan masih tetap kuat pada usia tiga puluhan, maka hal ini merupakan tanda bahwa penyesuaian diri pada kehidupan orang-orang dewasa belum terlaksana secara memuaskan.
Apabila ketegangan emosi terus berlanjut sampai usia tiga puluhan, hal itu umumnya tampak dalam bentuk keresahan. Apa yang diresahkan orang-orang muda itu tergantung dari masalah-masalah penyesuaian diri yang harus dihadapi saat itu dan berhasil tidaknya mereka dalam upaya penyelesaian itu. Kekhawatiran-kekhawatiran utama mungkin terpusat pada pekerjaan mereka, karena mereka merasa bahwa mereka tidak mengalami kemajuan secepat mereka harapkan atau kekhawatiran mereka mungkin terpusat pada masalah-masalah perkawinan atau peran sebagai orang tua. Apabila seseorang merasa tidak mampu mengatasi masala-masalah utama dalam kehidupan mereka, mereka sering sedemikian terganggu secara emosional sehingga mereka memikirkan atau mencoba untuk bunuh diri.
d.   Sosial
Dengan berakhirnya pendidikan formal dan terjunnya seseorang ke dalam pola kehidupan orang dewasa yaitu karier, perkawinan dan rumah tangga hubungan dengan teman-teman kelompok sebaya masa remaja menjadi renggang dan berbarengan dengan itu keterlibatan dalam kegiatan kelompok di luar rumah akan terus berkurang. Sebagai akibatnya, untuk pertama kali sejak bayi semua orang muda, bahkan yang populer pun, akan mengalami keterpencilan sosial atau apa yang disebut Erikson sebagai “ krisis keterasingan”. 
Keterasingan diintensifkan dengan adanya semangat bersaing dan hasrat kuat untuk maju dalam karier – dengan demikian keramah tamahan masa remaja diganti dengan persaingan dalam masyarakat dewasa – dan mereka juga harus mencurahkan sebagian besar tenaga mereka untuk pekerjaan mereka, sehingga mereka dapat menyisihkan waktu sedikit untuk sosialisasi yang diperlukan untuk membina hubungan-hubungan yang akrab. Akibatnya, mereka menjadi egosentris dan ini tentunya menambah kesepian mereka.
e.    Bahasa
Usia dewasa awal adalah masa seseorang dapat lebih berfikir matang dibandingkan masa remaja dan anak-anak. Segala sesuatu yang akan dilakukan pasti sudah dipikirkan secara matang. Dengan demikian, dalam segi berbahasapun, orang yang menginjak masa dewasa awal akan lebih anggun dalam bertutur kata. Orang yang menginjak masa dewasa awal dapat lebih pandai menggunakan bahasa yang tepat sesuai dengan lawan bicaranya. Rata-rata kosa kata bahasa yang digunakan pada usia dewasa awal lebih banyak dibandingkan masa sebelumnya, apalagi bagi orang yang sedang atau pernah berkecimpung dalam dunia perkuliahan.
f.     Kepribadian
Ketika seseorang tumbuh menjadi dewasa, pria dan wanita dewasa telah belajar untuk menerima perubahan-perubahan fisik dan telah tahu pula memanfaatkannya. Meskipun penampilannya tidak sebagaimana yang diharapakn, namun orang sudah menyadari kekurangan-kekurangan dirinya dan menyadari bahwa ia tidak dapat menghapus kekurangan sekalipun dapat berusaha untuk memperbaiki penampilannya. Kesadaran tersebut menimbulkan minat mereka akan hal-hal yang menyangkut kecantikan ,diet, dan olahraga.
Minat untuk meningkatkan penampilan mulai berkurang menjelang umur tiga puluhan, ketika ketegangan dalam pekerjaan dan rumah tangga terasa kuat namun minat akan penampilan muncul lagi jika mulai ada tanda-tanda ketuaan.
g.    Rasa Keinginan
Akhir masa remaja, keinginan untuk keluar dari lingkungan rumah menjadi semakin besar lagi. Mereka semakin terdorong dengan keinginan untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi di tempat lain, atau bekerja di tempat yang baru.  Dalam bersosialisasi mereka umumnya sudah cukup  nyaman dengan kemampuan dirinya dan sudah mulai menemukan identitas  dirinya. Dalam berinteraksi  dengan orang lain bahkan mereka sudah berani untuk lebih serius, misalnya dengan menjalin hubungan dengan lawan jenisnya dalam bentuk berpacaran.
h.    Keagamaan
Biasanya, sesudah orang menjadi dewasa ia telah dapat mengatasi keragu-raguan di bidang kepercayaan atau agamanya, yang menggangunya pada waktu ia masa remaja. Setelah menjadi dewasa ia biasanya sudah mempunyai suatu pandangan hidup, yang didasarkan pada agama, yang member kepuasan baginya. Atau dapat terjadi bahwa orang yang meninggalkan agama yang dianut keluarga, karena agama itu tidak memberi kepuasan baginya. Bagaimana pun juga, orang dewasa muda tampaknya kurang memperhatikan masalah agama dibandingkan dengan sewaktu mereka masih lebih muda dulu. Itulah sebabnya mengapa Peacock menamakan periode usia dua puluhan ini sebagai “periode dalam kehidupan yang paling tidak religious”. Sikap kurang meminat agama ini tampak pada jarangnya orang pergi ke tempat ibadah atau sikap acuh terhadap ibadah.
Apabila seseorang sudah berkeluarga, umunya ia kembali kepada agama, atau setidak-tidaknya ia tampak menaruh cukup perhatian. Orang tua dengan anak-anak kecil, sring merasa bahwa ,mengajarkan dasar-dasar agama yang dianut kepada anak-anak merupakan tanggung jawab moral sebagai orang tua, dan kewajiban untuk memberi teladan bagi anak-anaknya. Oleh sebab itu, orang berupaya membiasakan diri lagi untuk beribadah serta melakukan praktek-praktek agama dan ikut serta dalam kegiatan-kagiatan organisasi agama.
B.  Periode Perkembangan Masa Dewasa Madya
Individu yang berusia 30 tahun sampai 55 tahun disebut sebagai masa dewasa madya. Usia ini secara keseluruhan kondisi kejiwaannya (psikis) semakin stabil, namun pada kondisi fisiknya semakin menurun dengan bertambahnya usia. Kondisi fisik maupun psikis tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut ini:
1.    Penyesuaian Terhadap Perubahan Kondisi Fisik
Perubahan kondisi secara fisik ini meliputi penerimaan dan penyusuaian dengan berbagai perubahan fisik. Penyusuaian yang sulit pada pria dan wanita berusia madya karena adanya kenyataan bahwa sikap individu yang kurang menguntungkan semakin diintensifkan lagi oleh perilaku sosial yang kurang menyenangkan terhadap perubahan norma yang muncul bersama pada tahun-tahun selanjutnya.
Pada usia ini dapat teridentifikasi berbagai kemunduran-kemunduran yang terjadi, seperti pada laki-laki mulai timbul kerutan-kerutan pada wajah, rambut yang semakin memutih, stamina yang semakin menurun dengan ditandai sering pegal-pegal, kesemutan, capek, ataupun terkena rematik. Sedangkan pada perempuan terjadi hal yang serupa juga pada laki-laki dan ditambah dengan terhentinya menstruasi dan terjadinya manopouse (tidak menghasilkan sel telur lagi) pada perempuan. Dengan adanya kemunduran fisik tersebut, dapat berakibat pada penyesuaian psikis seseorang dan akan berpengaruh terhadap mentalnya. 
2.    Penyesuaian Terhadap Perubahan Kondisi Psikis
Usia dewasa madya atau yang popular dengan istilah setengah baya, dari sudut posisi usia, terjadi perubahan-perubahan  fisik. Selain itu adapula perubahan-perubahan psikologis yang dialami, diantaranya sebagai berikut:
a.    Intelegensi / Kognitif
Perkembangan pada tahap ini intelektual dewasa sudah mencapai titik akhir puncaknya yang sama dengan perkembangan tahap sebelumnya (tahap pemuda). Semua hal yang berikutnya sebenarnya merupakan perluasan, penerapan, dan penghalusan dari pola pemikiran ini. Orang dewasa madya mampu memasuki dunia logis yang berlaku secara mutlak dan universal yaitu dunia idealitas paling tinggi. Orang dewasa dalam menyelesaikan suatu masalah langsung memasuki masalahnya. Ia mampu mencoba beberapa penyelesaian secara konkrit dan dapat melihat akibat langsung dari usaha-usahanya guna menyelesaikan masalah tersebut.
Orang dewasa madya mampu menyadari keterbatasan baik yang ada pada dirinya maupun yang berhubungan dengan realitas di lingkungan hidupnya. Orang dewasa dalam menyelesaikan masalahnya juga memikirkannya terlebih dahulu secara teoritis. Ia menganalisis masalahnya dengan penyelesaian berbagai hipotesis yang mungkin ada. Atas dasar analisanya ini, orang dewasa lalu membuat suatu strategi penyelesaian secara verbal. Yang kemudian mengajukan pendapat-pendapat tertentu yang sering disebut sebagai proporsi, kemudian mencari sintesa dan relasi antara proporsi yang berbeda-beda tadi.
Menurut Erikson, pada masa ini individu dihadapkan atas dua hal generativity vs stagnasi. Mencakup rencana-rencana orang dewasa atas apa yang mereka harap guna membantu generasi muda mengembangkan dan mengarahkan kehidupan yang berguna melalui generativitas / bangkit. Sebaliknya, stagnasi (berhenti), yaitu ketika individu tidak melakukan apa-apa untuk generasi berikutnya. Memberikan asuhan, bimbingan pada anak-anak, individu generatif adalah seseorang yang mempelajari keahlian, mengembangkan warisan diri yang positif dan membimbing orang yang lebih muda.
Tugas kita dalam fase ini adalah mengembangkan keseimbangan antara generativity dan stagnasi. Generativity adalah rasa peduli yang sudah lebih dewasa dan luas dari pada intimacy (keakraban) karena rasa kasih ini telah men"generalize" (menyamaratakan) ke kelompok lain, terutama generasi selanjutnya. Bila dengan intimacy kita terlibat dalam hubungan di mana kita mengharapkan suatu timbal balik dari partner kita, maka dengan generativity kita tidak mengharapkan balasan. Misalnya saja, sebagian sangat besar dari para orang tua tidak keberatan untuk menderita atau meninggal demi keturunannya, walau perkecualian pasti ada.

b.    Moral
Pada masa ini aspek-aspek perkembangan moral dan keagamaan tumbuh dengan pesat. Tentu hal ini tidak lepas dari kesadaran terhadap dirinya untuk menjadi serang individu yang utuh dan terintegrasi. Masa dewasa ini selalu memiliki keinginan untuk bisa mengikuti niliai-nilai adat istiadat yang berlaku, begitu pula dengan nilai keagamaan yang memiliki tempat tersendiri di hati orang dewasa, namun sering kali dewasa muda belum bisa mengikuti nilai-nilai tersebut secara sempurna.
Menurut fowler, pada masa ini individu mampu mengambil dan melakukan tanggung jawab secara penuh terhadap yang diyakininnya. Sering kali konsekuensi yang paling buruk akibat dari keyakinan tersebut harus ditanggungnya. Masa dewasa ini telah memasuki masa post-conventional yaitu mampu menguji secara mandiri keyakinan atau kepercayaan yang terlepas dari pengaruh rang lain atau kelompok masyarakat.
c.    Emosional
Menurut Erikson, pada masa ini individu dihadapkan atas dua hal generativity vs stagnasi Mencakup rencana-rencana orang dewasa atas apa yang mereka harap guna membantu generasi muda mengembangkan dan mengarahkan kehidupan yang berguna melalui generativitas / bangkit. Sebaliknya, stagnasi (berhenti), yaitu ketika individu tidak melakukan apa-apa untuk generasi berikutnya. Memberikan asuhan, bimbingan pada anak-anak, individu generatif adalah seseorang yang mempelajari keahlian, mengembangkan warisan diri yang positif dan membimbing orang yang lebih muda.
Tugas kita dalam fase ini adalah mengembangkan keseimbangan antara generativity dan stagnasi. Generativity adalah rasa peduli yang sudah lebih dewasa dan luas dari pada intimacy (keakraban) karena rasa kasih ini telah men"generalize" (menyamaratakan) ke kelompok lain, terutama generasi selanjutnya. Bila dengan intimacy kita terlibat dalam hubungan di mana kita mengharapkan suatu timbal balik dari partner kita, maka dengan generativity kita tidak mengharapkan balasan. Misalnya saja, sebagian sangat besar dari para orang tua tidak keberatan untuk menderita atau meninggal demi keturunannya, walau perkecualian pasti ada.
d.   Sosial
Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan sosial pada masa Dewasa madya ( Middle Adulthood)  ini antara lain:
1.      Masa dewasa madya merupakan periode yang ditakuti dilihat dari seluruh kehidupan manusia.
2.      Masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan prilaku masa dewasanya dan memasuki suatu periode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan prilaku yang baru.
3.      Masa dewasa madya adalah masa berprestasi. Menurut Erikson, selama usia madya ini orang akan menjadi lebih sukses atau sebaliknya mereka berhenti (stagnasi).
4.      Pada masa dewasa madya ini perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial.
e.    Bahasa
Menguasai bahasa adalah salah satu cara terjalinnya komunikasi yang lebih dekat. Antara satu individu dengan individu lain dapat terjalin keakraban ketika satu dengan yang lain menjalin komunikasi yang intensif. Pada usia dewasa madya, terdapatnya suatu kesulitan dalam berkomunikasi. Usia madya ini mulai mengalami kemunduran dalam segi bahasa setelah mengalami pucaknya. Kosa kata tinggi yang dulu pernah dimengerti, kini sedikit-sedikit mulai terlupakan akibat faktor kemunduran ingatan. Sehingga dalam berkomunikasipun sedikit terganggu apalagi terhadap generasi yang lebih muda yang sering menggunakan bahasa gaul masa kini. Usia dewasa madya lebih sering menuturkan bahasa yang sedikit agak kaku dan baku, dibandingkan generasi yang lebih muda darinya.
f.     Kepribadian
Usia madya cenderung mulai terlihat sifat yang sedikit seperti kekanak-kanakan. Orang yang menginjak usia madya ini lebih suka untuk lebih diperhatikan oleh orang-orang sekitar. Hal ini dikarenakan dengan menyadarinya adanya kemunduran-kemunduran fisik yang dialami sehingga timbul perasaan membutuhkan keberadaan orang lain untuk membantu beberapa aktivitas tertentu.
g.    Rasa Keinginan
Rasa keinginan pada usia dewasa madya sedikit lebih berkurang daripada masa sebelumnya. Hal ini dikarenakan adanya perasaan sudah terpenuhinya segala kebutuhan, ambisi, dan cita-cita yang sudah dicapai. Adanya kepuasan ini menimbulkan berkurangnya motivasi untuk mengejar karier terus-menerus seperti masa sebelumnya. Bagi individu yang telah bekerja keras di masa mudanya, pada masa inilah ia dapat merasakan hasil kerja keras yang pernah ia lakukan dan menikmati hasil usahanya.
h.    Keagamaan
Masa dewasa madya menunjukkan tanda positiv pada aspek keagamaan. Seseorang yang menginjak masa ini lebih meningkatkan diri dalam melakukan ibadah dengan khusuk kepada Tuhan. Orang pada masa dewasa madya ini menyadari bahwa ketenangan dan kedamaian hanya didapat dengan kedekatannya dengan Tuhan. Sekaya apapun seseorang, seterkenal apapun seseorang, hal yang paling membahagiakan adalah ketika jiwa merasa damai dan dekat dengan Tuhan.
C. Periode Perkembangan Masa Dewasa Akhir
Masa dewasa akhir disebut juga  usia lanjut. Masa dewasa akhir adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Periode perkembangan masa dewasa akhir dari usia 55 – 60 tahun. Usia dewasa akhir ini ditandai dengan adanya perubahan fisik dan psikologis yang semakin menurun. Adapun ciri-ciri yang berkaitan dengan penyesuaian pribadi dan sosialnya adalah sebagai berikut; perubahan yang menyangkut kemampuan motorik, peruban kekuatan fisik, perubahan dalam fungsi psikologis, perubahan dalam system syaraf, perubahan penampilan.
1.    Perubahan fisik
Perubahan fisik yang dialami oleh dewasa akhir atau usia lanjut terjadi dengan ditandai dengan menurunnya dan memburuknya fungsi dan keadaan fisik. Perubahan ini pasti terjadi pada usia lanjut hanya saja berbeda untuk setiap individu. Perubahan penampilan pada usia lanjut sangat terlihat dari wajah individu, wajah akan mulai mengendor dan memunculkan ciri penuaan lainnya. Selain pada wajah perubahan secara fisik juga dapat dilihat dari individu yang kulit nampak keriput dan otot terlihat. Perubahan fisik yang terjadi pada masa dewasa akhir, pada umumnya terjadi pada penurunan beberapa fungsi organ tubuh seperti menurunnya kemampuan otak dan sistem syaraf, yang meliputi; hilangnya sejumlah neuron yang merupakan unit-unit sel dasar dari sistem syaraf, serta kemampuan otak yang semakin menurun, dan melemahnya daya ingat, seperti:
a.       Daya Ingat (memori), berupa penurunan kemampuan penamaan (naming) dan kecepatan mencari kembali informasi yang telah tersimpan dalam pusat memori (speed of information retrieval from memory). Dalam hal ini adalah sangat penting untuk menjaga agar memori itu tetap eksis dan karenanya perlu digunakan secara terus-menerus dan jangan dibuat menganggur atau diistirahatkan. Untuk itu membaca, mendengar berbagai berita, atau cerita melalui berbagai media sangat penting bagi lansia. Namun bagi lansia yang “mengistirahatkan diri,” atau dipaksa untuk istirahat tanpa kegiatan apapun, tidak mau membaca Koran, maunya ongkang-ongkang kaki, enak-enak, apalagi sambil merenungi nasibnya diyakini akan semakin mempercepat kemunduran fungsi ingatan dan fungsi mentalnya. Hal semacam ini menjadi bahaya bagi lansia, karena hal-hal lain pun mengalami kemunduran secara cepat.
b.       Indera penglihatan, ada penurunan yang konsisten dalam kemampuan untuk melihat objek pada tingkat penerangan rendah dan menurunnya sensitivitas terhadap warna. Orang berusia lanjut pada umumnya menderita presbyopia atau tidak dapat melihat jarak jauh dengan jelas, yang terjadi karena elastisitas lensa mata berkurang.
c.       Indera pendengaran, orang berusia lanjut kehilangan kemampuan mendengar bunyi nada yang sangat tinggi, sebagai akibat dari berhentinya pertumbuhan syaraf dan berakhirnya pertumbuhan organ basal yang mengakibatkan matinya rumah siput di dalam telinga (cochlea), walaupun mereka pada umumnya tetap dapat mendengar pada suara yang lebih rendah daripada nada C sejelas orang yang lebih muda. Menuru Hurlock pria cenderung lebih banyak kehilangan pendengaran pada masa tuanya dibandingkan wanita.
d.      Terjadi perubahan penting dalam alat perasa pada usia lanjut adalah sebagai akibat dari berhentinya pertumbuhan tunas perasa yang terletak di lidah dan di permukaan bagian dalam pipi. Syaraf perasa yang berhenti tumbuh ini semakin bertambah banyak sejalan dengan bertambahnya usia.
e.       Indera penciuman menjadi kurang tajam sejalan dengan bertambahnya usia, sebagian karena oleh pertumbuhan sel dalam hidung berhenti dan sebagian lagi karena semakin lebatnya buku rambut di lubang hidung.
f.        Karena kulit menjadi semakin kering dan keras, maka indera peraba di kulit semakin kurang peka.
g.       Daerah kepala terjadi perubahan, seperti:
1)      Hidung menjulur lemas
2)      Bentuk mulut berubah akibat hilangnya gigi atau harus memakai gigi palsu
3)      Mata kelihatan pudar, tak bercahaya dan sering mengeluarkan cairan
4)      Dagu berlipat 2 atau 3
5)      Pipi berkerut, longgar dan bergelombang
6)      Kulit berkerut dan kering, berbintik hitam, banyak tai lalat atau di tumbuhi kutil
7)      Rambut mernipis, berubah menjadi putih atau abu-abu dan keku
8)      Tumbuh rambut halus pada hidung, telinga dan alis.
h. Daerah tubuh terjadi perubahan seperti:
1) Bahu membungkuk dan nampak kecil
2) Perut membesar dan membuncit
3) Pinggul tampak mengendor dan lebih lebar di bandingkan dengan waktu sebelumnya
4) Garis pinggang melebar, menjadikan badan tampak seperti terisap
5) Payudara pada wanita menjadi kendur dan melorot
i. Daerah persendian terjadi perubahan, seperti:
1) Panggal tangan menjadi kendor dan terasa berat, sedangkan ujung tangan tampak mengkerut
2) Kaki menjadi kendor dan pembuluh darah balik menonjol, terutam yang ada disekitar pergelangan kaki
3) Tangan menjad kurus kering dan pembuluh vena disepanjang bagian belakang tangan menonjol
4) Kaki membesar karena otot-otot mengendor, timbul benjolan-benjolan, ibu jari kaki membengkak dan bisa meradang serta sering timbul kelosis
5) Kuku tangan dan kaki menebal mengeras dan mengapur.
j. Sistem Pernafasan, kapasitas paru-paru menurun antara usia 20 dan 80 tahun, sekalipun tanpa penyakit (Fozard, 1992). Paru-paru kehilangan elastisitasnya, dada menyusut, dan diafragma melemah. Meskipun begitu, berita baiknya adalah bahwa orang-orang dewasa lanjut dapat memperbaiki fungsi paru-paru dengan latihan-latihan memperkuat diafragma. Perubahan fisik ini diteliti oleh para peneliti sehingga menghasilkan “Teori-teori Biologi Mengenai Penuaan” yaitu sebagai berikut:
1) Kerangka tubuh (skelton) mengalami perubahan, disebabkan karena mengerasnya tulang-tulang, menumpuknya garam mineral dan modifikasi pada susunan organ tulang bagian dalam. Berakibat tulang menjadi mengapur dan mudah retak atau patah dan sembuhnya lambat.
2) Sistem syaraf (nervous sistem) terutama pada otak, berat otak menyempit, bilik-bilik jantung melebar pita jaringan portikal menyempit. Menyebabkan menurunnya kecepatan belajar dan kemampuan intelektual.
3) Viscera atau isi perut, mengalami perubahan bentuk. Terjadi athropia atau berhentinya pertumbuhan pada limpa, hati, alat reproduksi, jantung, paru-paru, pankreas, dan ginjal.
4) Jantung, berubahnya posisi jantung. Berkurangnya ratio berat jantung dan berat tubuh. Perubahan kualitas elastisitas jaringan pada jantung, katup jantung secara bertahap menjadi kurang halus dan kurang lentur. Merupakan akibat dari meningkatnya jumlah timbunan jaringan lemak dan kalsium.
5) Seluruh saluran usus , saluran kencing, dan organ otot yang lembut paling sedikit berpengaruh dan paling akhir terpengaruhi.
2. Perubahan Psikis
Akibat perubahan fisik yang semakin menua maka perubahan ini akan sangat berpengaruh terhadap peran dan hubungan dirinya dengan lingkungannya. Dengan semakin lanjut usia seseorang secara berangsur-angsur ia mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya karena berbagai keterbatasan yang dimilikinya ini mengakibatkan interaksi sosial para lansia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitasnya sehingga hal ini secara perlahan mengakibatkan terjadinya kehilangan dalam berbagai hal yaitu : kehilangan peran di tengah masyarakat, hambatan kontak fisik dan berkurangnya komitmen. Adapun perubahan-perubahan psikis tersebut adalah sebagai berikut:
a.    Intelegensi/Kognitif
Usia dewasa akhir dilihat dari segi kognitif menglami kemunduran dengan ditandai munculnya penyakit lupa atau pikun. Dengan timbulnya penyakit lupa ini, membuat individu dalam kehidupannya mengalami ketidak teraturan. Pada usia inilah diperlukan perhatian yang lebih dari orang-orang terdekat untuk mengarahkan dan menuntun orang dewasa akhir dalam melakukan suatu hal, seperti mengarahkan dalam menaruh benda sesuai dengan tempatnya dan mengingatkannya menaruh benda itu dimana ketika dibutuhkan. Ataupun mengingatkan sudah sholat atau belum, atau bahkan menuntunnya pada saat membaca bacaan sholat.
b.    Moral
Secara segi moral, usia dewasa akhir lebih cenderung tidak perduli lagi dengan norma-norma atau aturan-aturan yang ada di lingkungan tersebut. Hal ini dikarenakan banyaknya terjadi kemunduran dalam fisiknya yang berakibat berdampak pada moralnya. Contohnya saja usia dewasa akhir tidak lagi memikirkan perasaan malu ketika mandi bahkan buang air besar atau buang air kecil dibantu oleh orang lain. Usia dewasa akhir ini hanya bisa pasrah dengan keadaan kemunduran fisik yang terjadi pada dirinya dan justru ia menyadari bahwa ia membutuhkan bantuan orang lain dalam berbagai hal.
c.    Emosional
Usia dewasa akhir lebih tempramen dalam segi emosional. Hal ini dikarenakan berawal dari faktor fisik yang semakin mengalami kemunduran sehingga berpengaruh pada segi psikis termasuk emosionalnya. Beberapa orang yang mencapai usia dewasa akhir mengalami ketidaksiapan dalam menghadapi segala kemunduran fisik yang terjadi baik dilihat dari luar maupun fungsi organ-organ tubuh yang dimiliki. Sebelum menginjak usia dewasa akhir, seseorang pernah mengalami kemajuan yang sangat pesat dan pernah melakukan berbagai prestasi. Sedangkan ketika orang tersebut menginjak usia dewasa akhir, ia hampir tidak percaya bahwa dirinya tidak lagi dapat berkarya secara maksimal seperti dulu sehingga timbul perasaan kesal pada dirinya sendiri karena segala sesuatu harus dibantu oleh orang lain. Ditambahlagi terkadang orang yang membantu tidaklah sesuai dengan yang diharapkannya. Oleh karena itulah usia dewasa akhir lebih cepat temperamental.
d.   Sosial
          Akibat adanya kemunduran dari segi aspek fisik, moral, intelegensi, dan lebih cepat temperamental, maka usia dewasa akhir semakin jauh dari lingkungan masyarakat dan mulai terkucilkan. Usia dewasa akhir lebih sedikit berinteraksi dengan lingkungan masyarakat. Pada usia ini justru lebih membutuhkan perhatian yang lebih dari keluarga terdekat untuk menguatkan diri dan membantu memunculkan kepercayadirian agar tetap bersemangat dalam menjalankan kehidupan meskipun mulai terjauh dari lingkungan masyarakat.
e.    Bahasa
Usia dewasa akhir dari segi bahasa juga mengalami kemunduran dengan ditandai pelafalan kosa kata yang kurang jelas. Hal ini dikarenakan telah menanggalnya beberapa gigi yang membuat artikulasi kurang jelas. Selain itu, terkadang  pada beberapa orang yang telah menginjak usia dewasa akhir kurang dapat berkomunikasi dengan baik terhadap lawan bicaranya.
f.     Kepribadian
Segi kepibadian usia dewasa akhir lebih cenderung seperti kekanak-kanakan. Orang yang menginjak usia ini lebih manja seperti anak-anak dikarenakan ia sendiri menyadari bahwa ia membutuhkan bantuan dari orang-orang terdekat dan berharap orang-orang terdekat tersebut dapat mengindahkan keinginannya tersebut. Oleh karena itulah peran orang-orang sekitar sangatlah dibutuhkan untuk membangun semangat hidup orang yang berada pada masa dewasa akhir ini. Kunci dari menangani hal seperti ini adalah antara orang yang berusia dewasa akhir dan orang yang lebih muda darinya harus bisa mengambil peranannya masing-masing dan saling mengerti dengan keadaan.
g.    Rasa Keinginan
Usia dewasa akhir cenderung lebih mengalami kemunduran dalam rasa keinginan dan motivasi. Pada usia ini bahkan ada yang begitu saja pasrah dengan ketidak berdayaan melakukan berbagai hal. Tidak ada lagi rasa ingin mengejar karier seperti saat ia muda an tidak ada lagi keinginan untuk mencapai sesuatu. Disinilah peran kelurga dan orang terdekat sangat penting untuk membangkitkan gairah hidupnya. Orang-orang sekitar dapat memotivasi untuk melakukan suatu hal yang bermakna di sisa hidup orang dewasa akhir.
h.    Keagamaan
Berbeda halnya dari segi aspek psikologis lainnya yang mengalami banyak kemunduran, justru dari segi agama semakin adanya kemajuan yang pesat. Usia dewasa akhir lebih memfokuskan diri terhadap hal – hal yang bersifat spiritual. Ada pula Menurut Erikson, perkembangan psikososial masa dewasa akhir ditandai dengan tiga gejala penting, yaitu keintiman, generatif, dan integritas.
1.      Perkembangan keintiman
Keintiman dapat diartikan sebagai suatu kemampuan memperhatikan orang lain dan membagi pengalaman dengan mereka. Orang-orang yang tidak dapat menjalin hubungan intim dengan orang lain akan terisolasi. Menurut Erikson, pembentukan hubungan intim ini merupakan tantangan utama yang dihadapi oleh orang yang memasuki masa dewasa akhir.
2.      Perkembangan generatif
Generativitas adalah tahap perkembangan psikososial ketujuh yang dialami individu selama masa pertengahan kedewasaan. Ketika seseorang mendekati usia dewasa akhir, pandangan mereka menganai jarak kehidupan cenderung berubah. Mereka tidak lagi memandang kehidupan dalam pengertian waktu masa anak-anak, seperti cara anak muda memandang kahidupan, tetapi mereka mulai memikirkan mengenai tahun yang tersisa untuk hidup. Pada masa ini, banyak orang yang membangun kembali kehidupan mereka dalam pengertian prioritas, menentukan apa yang penting untuk dilakukan dalam waktu yang masih tersisa.

3.      Perkembangan integritas
Integritas merupakan tahap perkembangan psikososial Erikson yang terakhir. Integritas paling cepat dilukiskan sehingga suatub keadaan yang dicapai seseorang setelah memlihara benda-benda, orang-orang, produk-produk dan ide-ide, serta setelah berhasil melakukan penyesuaian diri dengan berbagai keberhasilan dan kegagalan dalam kehidupannya. Lawan dari integritas adalah keputusan tertentu dalam menghadapi perubahan-perubahan siklus kehidupan individu, terhadap kondisi-kondisi.

 Jika anda berkenan, berilah komentar yang bersifat positif dan membangun..!!!
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Komentar anda marupakan motivasi buat penulis...